Tuesday, 18 April 2017

Masalah yang Tidak Terlalu Dianggap Masalah

Sudah menjadi hukum mutlak bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan makhluk lain. Dan pada dasarnya manusia adalah makhluk pencari keuntungan. Hubungan antara satu individu dengan individu lain bisa dikatakan simbiosis mutualisme. Kebetulan inget materi UTS kemarin. Oke lanjut. Sebut saja hubungan pertemanan. Dalam sebuah hubungan pertemanan, setiap partisipannya pasti akan sama-sama mendapatkan keuntungan. Tidak mungkin tidak. Jika terdapat pihak yang dirugikan pasti dianggap bukan teman. Malahan bisa dianggap musuh. Lebih bahaya lagi jika di dalam selimut. Selimutnya ternyata punya tetangga. Bahaya tingkat siaga satu.


Jadi sebenarnya prolog di atas tidak terlalu berhubungan dengan apa yang ingin saya bahas. Biar panjang aja, sekaligus biar cepat sampai target. Baiklah langsung saja. Pernahkah kalian merasa bahwa komunikasi yang kita lakukan ini terkadang tidak berjalan efektif? Di saat tiba-tiba terjadi pertukaran peran yang berjalan dengan cara lembut dan halus, yang kelembutannya setara dengan kelembutan kulit bayi yang belum pernah main layangan dan kena debu. Jelas karena dia bayi jadi belum dapat izin dari orang tuanya. Oke ini apa banget.

Kembali ke topik awal. Hampir semua orang saya yakin pernah melakukan ini entah disengaja atau tidak. Tapi hampir ya, hampir. Misalnya saat kita sedang butuh seseorang untuk tempat curhat tentang masalah yang dihadapi, tapi orang yang kita curhati ternyata tidak memenuhi persyaratan menjadi komunikan yang baik. Wow ilmiah sekali ini. Lanjut. Jadi yang ada malah dia ganti curhat. Motong pembicaraan pula. Sebenarnya tidak semua orang peka terhadap masalah ini. Ada yang sadar dan ada yang sama sekali tidak sadar. Saya sendiri saat ini masih berada dalam tahap pembelajaran untuk menjadi pendengar yang baik. Sudah seharusnya jika seorang pendengar tugasnya adalah mendengar. Pada saatnya nanti ia akan berbicara juga kok. Entah itu memberi advice atau apapun yang tentu saja masih berhubungan dengan masalah mbak-mbak yang curhat tadi. Emang tadi mbak-mbak?

Di paragraf ini saya ingin curhat. Saya punya seorang teman yang suka sekali bercerita. Semua hal bahkan kegiatan sehari-harinya dia ceritakan kepada saya. Meskipun itu hal yang sebenarnya sama sekali tidak penting menurut saya. Seperti saat makan siang, nasi yang dia makan sisa delapan butir. Hmm sebenarnya tidak se-tidak-penting itu juga sih. Jadi dia selalu bercerita tentang hari-harinya. Pernah ia bercerita bahwa dia tadi membuka tutup galon. Yang ini serius. Dan saya kebingungan harus memberi respon seperti apa. Yang disayangkan adalah ketika dia suka sekali bercerita tapi dia tidak terlalu suka mendengar. Memang saat ini makin sedikit saja orang yang suka mendengar. Semua orang pada dasarnya ingin didengar tapi kurang mampu mendengarkan orang lain. Dia juga kurang suka memberikan respon terhadap cerita yang saya sampaikan sebagaimana mestinya, dan akhirnya cerita saya diakhiri dengan dia yang menguasai pembicaraan dengan tema kehidupannya. Dan babak final berakhir dengan dia yang menang telak. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika cerita saya sama sekali tidak ditanggapi. Suara saya laksana sebuah gelombang yang hanya bisa didengar oleh para kelelawar yang sedang tertidur di dalam goa. Dan keberadaan saya invisible alias tak kasat mata. Dan karena pengalaman itu, saya tidak pernah lagi curhat kepada teman yang tidak saya sebutkan merknya itu. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa buaya tidak akan pernah jatuh ke lubang yang sama.

Baiklah, sejatinya untuk menjadi pendengar yang baik sangatlah mudah sekali. Semudah mencari sehelai jerami dalam tumpukan benang. Ehm sebenarnya itu susah dan tajam. Jadi sebenarnya untuk menjadi pendengar, syaratnya hanyalah mendengarkan dengan sabar dan mendengarkan tanpa interupsi. Dengan begitu seorang yang sedang berbicara kepada kita akan merasa dihargai, dan komunikasi yang terjalin akan berjalan efektif. Saat kita dibutuhkan untuk jadi seorang pendengar maka dengarkanlah, lalu saat tiba waktunya kita bicara, maka bicaralah. Seperti saat teman kita dengan curhat.
 
A: “Duuuh, aku dimarahin ayahku nih gara-gara jatah bulanan udah abis, padahal baru dua hari dikirim, mana bulan depan masih kurang 28 hari lebih 22 jam 15 menit 34 detik lagi. Gimana nih?”
 
B: “Gila cepet amat, buat apa sih?”
 
A: “Buat beli batagor sama cireng crispy. Gimana dong?”
 
B: “Yaudah aku pinjemin ke temenku ya, kebetulan dia rentenir.”
 
A: “Wah boleh tuh.”    

Komunikasi diatas terjalin dengan rapi dan pada tempatnya. Dimana pendengar dan pembicara tetap pada perannya masing-masing dan dapat memunculkan diri tepat waktu. Komunikasi diatas dianggap efektif. Berbeda lagi bila respon pendengar tidak seperti seharusnya. Seperti contoh dibawah ini.
 
A: “Duuuh, aku dimarahin ayahku nih gara-gara jatah bulanan udah abis, padahal baru dua hari dikirim, mana bulan depan masih kurang 28 hari lebih 22 jam 15 menit 34 detik lagi. Gimana nih?”
 
B: “Mending dua hari. Aku dua jam bayangin”

Komunikasi di atas kurang efektif karena respon dari B bukanlah tanggapan dari masalah si A. Namun pada kenyataannya, komunikasi jenis inilah yang sering sekali terjadi. Entah dilakukan secara sadar atau tidak. Kita cenderung merespon masalah orang lain dengan mengutarakan masalah kita sendiri sebagai perbandingan. Sebenarnya hal itu kurang tepat dilakukan. Karena yang dibutuhkan si A adalah respon atau bahkan jawaban untuk masalahnya. Berbeda lagi dengan contoh dibawah ini. Dan lebih parah dari yang di atas.

A: “Duuuh, aku dimarahin ayahku nih gara-gara jatah bulanan udah abis, padahal baru dua hari dikirim, mana bulan depan masih kurang 28 har……”

B: “Mending dua hari. Aku dua jam bayangin”

Sama sekali tidak efektif, karena A belum menyelesaikan bagiannya lalu tiba-tiba  B memotong pembicaraan. Dengan masalahnya pula. Lebih parah lagi dari contoh diatasnya. Tapi tidak lebih parah daripada contoh dibawah ini.

A: “Duuuh, aku dimarahin ayahku nih gara-gara jatah bulanan udah abis, padahal baru dua hari dikirim, mana bulan depan masih kurang 28 hari lebih 22 jam 15 menit 34 detik lagi. Gimana nih?”
 
B: ------
A: Invisible

Komunikasi dalam contoh nomor empat diatas adalah model komunikasi yang pernah saya alami dengan teman yang saya jelaskan keberadaannya diatas. Betapa menyedihkan suasana saat itu. Sampai tiba-tiba terdengar suara krik-krik dari para jangkrik di sawah yang keberadaannya sekitar 10km dari lokasi kejadian. Dan tiba-tiba terdengar juga suara detik jarum jam sebenarnya digital.
   
Oke, jadi tulisan ini merupakan suatu bentuk keprihatinan saya kepada cara berkomunikasi beberapa orang dan saya sendiri tentunya. Untuk kemaslahatan bersama, sudah seharusnya jika para pelaku memahami masalah massal ini. Memang terkesan sepele, namun terkadang masalah sepele seperti diatas dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Jadi mulailah untuk tidak menganggap masalah sepele sebagai masalah sepele. Dan biasakan untuk memposisikan diri sendiri seperti posisi orang lain agar terjalin kesetaraan dalam berkomunikasi. Siapa yang mau diabaikan? Jawabannya tidak ada. Jadi budayakanlah adab berbicara yang sopan dengan merespon dan tidak memotong pembicaraan orang lain, terlebih mengabaikan. Percayalah bahwa dengan komunikasi yang efektif, suatu hubungan akan lebih terasa mutualismenya.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Fitri sebagai pemenang.


Foto di atas adalah foto terbaik dari beberapa foto yang ada. Karena entah mengapa saya merasa agak kurusan di foto itu. Btw saya yang berkerudung pink. Ehmm sebenarnya ada empat wanita berkerudung pink difoto itu. Dan itu dia saya. Yang sedang digendong ibu-ibu. Eh maaf maksudnya yang pose-nya paling terdepan dan paling tidak candid. Ya itu dia saya. Fitri. Biasa dipanggil Fitri juga. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di salah satu Universitas di Yogyakarta dengan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi dan konsentrasi Advertising. Motivasi saya mengikuti lomba ini adalah karena syarat pelombaannya yang menurut saya sangat menarik. Dengan tidak boleh menulis permasalahan serius. Selain itu, dengan berlandaskan asas kejujuran, saya tidak memungkiri bahwa hadiah yang tertera cukup untuk menambah sesuatu yang perlu ditambah. Dan juga untuk mengisi portofolio saya.    

0 comments:

Post a Comment