Thursday, 13 April 2017

Memberi Nama Ikan Mas Koki

Seperti pada umumnya setelah melakukan aktifitas seharian yang mungkin membosankan atau lebih dari itu, saya duduk di teras rumah, rumah yang sederhana saja. seperti yang digambarkan di novel, cerpen dan mungkin imajinasi lainnya, yang jelas ada bangku dan meja di bawah pohon mangga yang sudah mulai jarang berbuah. 

pixabay.com
Melankoli, mungkin tapi seperti itu nyatanya, "kak tolong bantu buat puisi tentang ikan" tanya adek saya, meski saya tidak tamat sekolah, tapi saya merasa berkewajiban membantu adek saya. Itu sebabnya sering kali kalau sedang ada di rumah harus membantu mengerjakan tugas adek saya yang baru masuk SMP. "kamu mau puisi apa?" tanya saya, "puisi tentang ikan" , "kenapa harus ikan?" adek saya mencoba mengingat kata kata ibu gurunya "entah, tugasnya tentang ikan yang di jadikan puisi". Saya tidak mau dengan gampang menurut untuk membuatkan puisinya, sembari adek saya membenarkan duduknya di sebelah saya dan meletakkan semua alat tulis di meja kecil yang cukup untuk tiga gelas kopi kira-kira.

"Ikan apa enaknya?" katanya memandang saya, "ikan mas koki" sahut saya sembari mengambil sebatang rokok, "eh, kenapa ikan mas koki?" tanyanya bingung, saya berfikir sebentar, sebab meski sudah masuk SMP tapi dia juga bekas anak SD, yang masih suka bertanya dan rasa protesnya berlebihan, "gini biar kakak yang cerita nanti kamu coba tulis jadi puisi", "kalo itu aku bisa kerjakan sendiri, kan maunya di kerjakan kakak" dengan muka yang cemberut adek saya benar terlihat sangat menggemaskan, saya hanya tertawa. "ikan mas koki itu memiliki warna yang ceriah , matanya dua", "semua ikan matanya dua" sahutnya protes, "iya ini juga mikir", "dia hidup di laut" adek berseru, saya hanya ketawa, dia diam sebentar saya hanya bisa tertawa saja, tiba-tiba dia berkata "bagaimana kalo ikan mas koki itu adalah siluman, yang hidup di laut dan saat purnama dia ke daratan untuk menjumpai seseorang" jelasnya, saya hanya ketawa. Senja sudah mulai gelap, jingganya yang mempesona sudah redup menjadi kemarahan, saya memutuskan utuk memberikan masukan saja dan adek saya yang menulis puisinya, dia setuju dengan muka yang cemberut, saya kira itu bukan jawaban yang dia mau.

Saya bercerita di mulai dari sifat ikan mas koki suka damai, Sampai mitosnya yang dianggap sebagai ikan pembawa hoki, itu pun yang saya dapat dari bantuan smartphone, adik menatapku dengan bingung, "ya sudah aku mau coba buat puisinya" saya hanya memandanginya dengan antusias, karena posisi duduk yang bersebelahan dan postur tubuhnya yang lebih pendek, saya kesulitan melihat apa yang dia tulis, karena terhalang kepalanya, hanya butuh dua batang rokok kretek dia mampu menyelesaikan puisisnya sendiri, saya kira dia berbakat tentang puisi sejak hari itu, "kak dengar ya" dia mulai membaca.

"Ikan Siluman Mas Koki".
Akan selalu seperti itu
Bernafas dengan insang
Kadang paru paru
Dua mata yang tidak ingin kamu tatap
Ada banyak hal yang terjelaskan, meski kita belum bertanya
Selalu memakai baju cerah
Dia perempuan
Dan selalu ingin berenang di akuarium
Santai dan gemulai
Namanya Farah
Dan cantik di otak saya
Dia siluman ikan mas koki
Dan ikan mas koki ingin seperti dia

Saya tertawa keras, adek saya mungkin gila, tapi bagaimanapun puisi adalah kejujuran, dia seperti kentut yang keluar dengan sendirinya. "Kakak tidak marah?" tanyanya, "kenapa marah? Bagus, bilang pada gurumu kalau kamu berbakat menulis puisi", kita sama sama tertawa, dan senja mulai hilang dan yang terdengar hanya sisa azan magrib, saat kami mulai merapikan kertas adik saya menatap ku dan bilang "besok aku mau beli ikan mas koki kalo sudah dewasa".
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Adni Firdausi sebagai pemenang.

Adni Firdausi
Kelahiran Sidoarjo 19 April 1992. Pernah bersekolah di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, Jawa Timur. Saat ini sedang banyak melakukan hal untuk sekedar bertahan hidup. Sedari bangku sekolah menyadari sulitnya berfikir normal dan memutuskan untuk menyelesaikan sekolahnya di Universitas Muhammadiyah Malang tanpa mengambil ijazahnya. Selama mengenyam pendidikan dia tidak pernah ikut andil dalam kegiatan extra, bukan karena malas hanya saja menggangu orang tua dan ngopi lebih menarik. 


0 comments:

Post a Comment