Sunday, 16 April 2017

Memories in Bakso Rel

Bakso.


Apa yang tersirat dalam benak kita ketika mendengar kata-kata ini?
Hmmm… enak, gurih nyoy dan pedas. Pastinya semua orang tahu makanan ini, termasuk kamu yang selalu kuliner mencoba setiap makanan yang ada di tempat hiburan, alun-alun, pusat kota atau tempat umum lainnya. Sensasinya bukan hanya pada enak atau tidaknya terutama bagi perempuan menjadi tantangan tersendiri untuk mencobanya dengan kondisi yang tidak biasa. Mungkin dengan 5 sendok sambal cabai merah merona atau lebih. Memang kalau melihat sambal itu seakan ingin menyantapnya dengan segera. Sambal menjadi buronan bagi perempuan terutama bagi orang yang sedang kesal sepertinya cocok untuk melampiaskannya, daripada orang di sekitar kita menjadi pelampiasan, lebih baik memedaskan diri dengan sambal. Bahkan sampai ada pertanyaan; “mba? Kamu beli sambal bonus bakso yah?"

Banyak cerita di balik kata bakso, ketika kita tidak mempunyai nasi, lauk pauk di rumah. Apa yang akan langsung tersirat? Enak, banyak dan mengenyangkan? Tentunya bakso. Bentuknya yang bulat dengan isi daging membuat setiap orang di sekelilingnya ngiler tau. Coba aja kamu dateng pas lagi laper, terus liat baso yang bulat itu mengambang di dalam kuali dengan aroma daging sapi yang menyengat serta ambangan lemak-lemak di sekitarnya membuat mata, mulut dan perut berebutan untuk merenggutnya. See?

Bakso mengingatkanku pada perkumpulan teman-teman setelah capek memukul hadroh Jum’at sore, biasanya kami kumpul di markas untuk merehatkan sejenak kepenatan sebelum melanjutkan dakwah setelah Isya ke tempat selanjutnya. Nah, disela-sela rehat setelah shalat magrib biasanya di antara kami membeli bakso perempatan yang tidak jauh dari situ untuk sekedar mengganjal perut supaya kuat melanjutkan perjuangan. Canda tawa menemani aktifitas makan kita, tak jarang ide brilian muncul untuk membuat perjuangan semakin dinikmati dengan adanya majelis futsal, tadabbur alam, membuat lahan untuk menanam tumbuhan sebagai modal untuk berdakwah. Suasana itulah yang membuat kami menikmati langkah demi langkah berjuang untuk kemajuan ummat yang lebih baik lagi. Bukan hanya itu, bakso mempererat tali persaudaraan kita dengan saling peduli satu sama lain.

Makan bakso mesti harus ada sensasinya. Benar? Seperti di salah satu tempat, namanya Bakso Rel. apa yang kalian bayangkan dengan bakso rel? Bakso yang beda dengan yang lain? Atau bentuknya yang panjang? Hmmm. Bakso rel ini adalah tempat bakso yang berada di samping rel kereta, seru kan? Selain rasa baksonya yang enak, suasananya pun mendukung, apalagi ketika sore hari dari jam 17.00-18.00 tempat itu mesti banyak dengan pengunjung. Apa sebab? Karena dari tempat itu suasana pantai terasa, dari tempat tersebut bisa memandang detik-detik terbenamnya matahari dengan mata telanjang. Bisa melihat garis merah indah menemani datangnya malam.  

Bakso rel mengingatkanku pada perjuangan ibu, ibu yang selalu berjuang untuk membahagiakan anaknya, bahkan biasanya memberikan setengah dari porsi baksonya untukku walaupun aku tahu ibu pun sangat lapar waktu itu. Biasanya setelah saya dan ibu lelah membeli baju pesanan orang, kami memilih tempat ini untuk istirahat sejenak memanjakan mata dan juga perut. Kadang kulihat raut wajahnya yang sangat kelelahan, tumpukkan kulit yang semakin banyak menyadarkanku bahwa ibu semakin hari semakin tua. Tak jarang ibu selalu menyempatkan diri untuk membahagiakan anaknya dengan memberikan senyuman ketika aku bertanya “ibu, ibu capek ga seperti ini?” walaupun aku tahu sebenarnya cape tapi perjuangan seorang ibu sangatlah besar. Jawabannya hanya dengan senyuman dan aku rasa banyak beban yang ditanggungnya selain ini.

Bakso rel juga mengingatkanku pada perkumpulan sahabat sekolah, teman seperjuangan, sekaligus para saingan dalam mengejar prestasi. Aku sadar mereka saingan dalam menggapai juara dikelas tapi kami bersaing dengan sehat. Di bakso rel kami berkumpul, kadang jika ada suara tanda-tanda akan datangnya kereta api, ada satu orang diantara kami rela untuk berdiri disamping rel itu padahal dia meninggalkan satu porsi bakso yang siap untuk dia makan. Ketika ku kejar dan ditanya “Kenapa?” jawabannya simple “aku dari kecil belum pernah naik kereta” ingin rasanya ketawa tapi tidak lama sebelum kereta itu melintas, sahabat yang berjumlah 5 orang itu sudah siap berjejer di samping rel menemani sahabatnya ini walaupun sekedar melambaikan tangan pada kereta padahal kita meninggalkan 5 porsi bakso tapi tidak masalah, bagi kami persahabatan tetap diprioritaskan dari pada kenikmatan bakso panas yang sebentar saja hilang rasanya. 

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Abdul Latip sebagai pemenang.

Abdul Latip A

Lahir di Bogor, 05 febuari 1998. Alamat rumah di Kp. Laladon Kadoya Rt02/05 desa Parakan Kecamatan Ciomas Kab Bogor Jawa Barat. Aktivitas sekarang kuliah di Universitas Darussalam Gontor di Kota Ponorogo. Hobinya makan, tidur, minum, main game dan menulis. Nama Facebook Abdul Latif (عبد اللطيف).

0 comments:

Post a Comment