Wednesday, 19 April 2017

Mendua Mengajarkanku Lebih Mengenalmu

Masa remaja, masa peralihan dari main layangan di lapangan dekat rumah menjadi main fesbukan di warnet dekat rumah. Masa-masa peralihan yang perubahannya cukup terasa oleh mang-mang penjual mainan dengaan sepedanya yang sering lewat di depan rumah, karena tak ada lagi pembeli setia kertas- kertas binder mickey dan minnie mouse-nya, tak ada lagi si pembeli kelereng maupun si pembeli gelembung balon karet berwujud cair beraroma khas dengan pipet kuning-nya. 


Masa peralihan yang perubahannya begitu terasa oleh para tetangga, karena tak ada lagi bocah-bocah yang memblokir jalanan mereka dengan membentuk kelompok bermain kelereng. 

Masa-masa yang memiliki kenangan dan kebahagian yang cukup kuat namun tak dapat begitu mudah untuk diingingat setiap detailnya kembali. Berbeda dengan masa remaja yang dapat dengan mudah diingat dan membekas bukan karena kebahagiannya, namun untuk sebagaian orang, masa remaja diingat karena merupakan masa-masa yang penting dan menjadi tolak ukur ke masa yang lebih dewasa lagi, masa-masa di mana memori telah berfungsi lebih baik dibanding ketika masih kanak-kanak, karena begitu membekasnya, maka setiap remaja pasti memiliki sesuatu yang identik yang menjadi saksi bisu perjalanan masa masa puberty mereka. 

Sesuatu yang identik seperti hobi, apakah itu game, nonton film, membaca komik atau novel, hangout dengan teman geng, ataupun hobi mengidolakan kaka kelas atau hobi diidolakan kaka kelas. Masa-masa yang ketika mengingatnya dewasa nanti akan menghadirkan senyum-senyum sendiri, percayalah. 

Berbicara masa remaja, masa remajaku sendiri cukup klise, saksi bisu masa-masa pubertyku dipenuhi oleh novel-novel berbungkus plastik bening yang berjejer rapih dan ditata sesuai tingkatan terfaforit di dalam lemari buku, yang seharusnya lemarinya difungsikan dipenuhi dengan buku pelajaran sekolah namun novel-novel itu dengan senang hati menjajahnya. Parbandingannya mungkin sekitar 20% untuk buku pelajaran dan 80% untuk novel-novel, kasihan sekali buku-buku pelajaranku teringatnya, tapi tak apa, meskipun jumlahnya kalah telak dengan si novel, perhatianku tetap sama dengan cara membungkusnya yang tak kalah rapih dengan si novel, begitulah caraku menghargai setiap buku-buku yang dulu kupunya terkhusus si novel, *maaf lagii buku-buku pelajarankuu. 

Novel menjadi sebuah barang yang cukup klise untuk dimiliki setiap remaja dan cukup klise untuk diidam-idamkan cerita romansanya, setiap pembaca pasti akan terbawa secara emosional dengan alur cerita yang disuguhkan dan tak jarang kalimat-kalimat klise seperti, “ah andai beneran ada sosok kayak dia” “duh beruntungnya dia” “huhuhu pengen kayak dia juga” “bisa ngga ya gue dapat cowo kayak dia?” tergumam di dalam hati para pembaca. 

Pada umumnya novel menjadi menarik karena alur cerita yang disuguhkan dapat begitu akrab bagi si pembaca, penggambaran tokoh yang secara perlahan dapat begitu diidamkan, penggambaran latar cerita diam-diam menjadi menarik dan terbayang-bayang seolah diri kita juga ikut bergabung di sana, menjadikan pembaca ingin segera mengunjungi tempat tersebut ketika didekskripsikan secara kompleks dan begitu indah. 

Memori masa remaja yang cukup membekas ketika mengingat-ingat bagaimana diriku menghargai, memahami dan menikmati novel-novel dahulu, hobiku. 

Sejak kulangkahkan kakiku ke dunia perkuliahan, tak pernah ada lagi mereka dan suguhan ceritanya yang biasa kunikmati, apakah novel identik dengan remaja saja? Sejatinya tidak, namun hobiku yang dulu telah terkesampingkan oleh tugas-tugas kuliah yang mendominasi keseharinku, terlebih tugas-tugas kuliah memaksaku untuk lebih akrab dengan gambar-gambar yang minim akan tulisan, begitulah dunia desain. Tiba memiliki waktu kosong malah digunain untuk nonton film atau hang out bareng teman, membaca novel menjadi pilihan kedua setelah yang pertama-pertama lainnya, ya kasarannya diriku telah mendua, menjadikan saksi bisu masa pubertyku menjadi yang kedua. 

Emang pasagan aja yang bisa mendua? Ngga dong hobi pun akan seperti itu ketika pekerjaan yang akan kamu geluti kelak bukan berdasar hobimu.  

Setelah sekian lama, di suatu hari dalam liburan panjangku, karena tak ada lagi pekerjaan yang dapat kukerjakan, seketika teringat akan keseharianku dahulu yang sangat akrab dengan novel-novel, hobiku dulu, tersadar sudah lama tak bermesra dengan mereka lagi, terlintas seruan untuk membeli novel dan tibalah diriku dengan segenggam novel baru, mencoba lagi untuk menikmati alur ceritanya, jujur terasa sangat asing dan aneh ketika mencoba memulai suatu yang telah lama ditinggalkan, begitupun bagiku dengan membaca novel kembali, namun setelah diriku menghabiskan lembar-lembarnya, ternyata sense yang kutakuti telah hilang, masih ada tersimpan di bagian diriku yang lebih dalam, meskipun tempatnya tak sebaik dahulu. Namun kini, ada yang berbeda dengan caraku menikmati novel, dahulu, peduliku hampir seluruhnya dititik beratkan pada alur ceritanya, kini? Yang berhubungan dengan visual cukup menyita perhatianku juga, seperti jenis kertas yang digunakan, desain sampulnya, skema warna yang diterapkan dalam bagian desain sampul sampai dengan tata layouting dan jenis huruf yang digunakan, tenyata kata akrab belum bisa ditujukan denganku dahulu karena masih banyak bagian dari novel yang tak kupahami dengan baik dan tak begitu kupedulikan dahulu. 

Kini dunia desain membuka mataku untuk lebih memahami sesuatu dengan lebih luas, begitupun dengan hobi yang pernah kulupakan. Kini, tuntutan pekerjaanku kelak tidak menghambatku bergelut dengan sesuatu yang masih dapat kusubut dengan hobiku, meskipun skala waktunya tak akan sama lagi namun akan tetap menjadi hobiku dulu dan kini di waktu kosongku, dan begitulah cerita remajaku yang juga begitu membekas seperti cerita-cerita klise remaja yang lain, hingga mengantarkanku pada kalimat bahwa mendua mengajarkanku akan lebih memahami sesuatu. 

Seperti itulah, kusudahi renungan nostalgiaku, karena mba dan mas mas jco pun sudah sibuk menyapu-nyapu bawah meja yang kududuki sedari pagi, yang seolah memberikan sinyal “maaf mba, sepertinya mba harus pulang karena jam oprasional jco telah habis dan jam kerja saya pun begitu”. Semoga dapat merangsang renungan nostalgia lainnya ketika dibagikan, karena pasti asik kan bernostalgia bersama? Namun lebih asik lagi ketika arisan godok dilot, karena ketika keberuntungan memilihnya pasti akan timbul senyum-senyum sendiri pada endingnya ehehehe.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Nurul sebagai pemenang.

Nurul Tayyibah T.

si @nuthatham.
22 Tahun, Mahasiswi Interior Design Telkom University. Suka rustic, suka meijik. Ngga cantik namun sedikit romantic. Menghargai sesuatu yang apik dan linguistik yang baik. meskipun begitu masih sering salah ketik. Half Blood Princess, tinggal di Mirkwood Woodland Palace.

0 comments:

Post a Comment