Friday, 14 April 2017

Merantaulah, Walau Di Belakang Rumah

Seperti kebanyakan anak muda lain di negeri ini, yang telah menyelesaikan pendidikannya, seorang sahabat pergi merantau ke negeri seberang. "Mencoba peruntungan nasib", begitu katanya. Kata-kata yang menjadi jimat sakti bagi mereka yang berangkat dari titik nol episode baru menuju tanah harapan. 


writer.doc
Sahabat lain bercerita ketika ia mengantar pemuda itu dibandara. Satu kisah lagi sedang di mulai katanya setengah berbisik. 
"Sambil menyuruput kopi dan tanpa melihat langsung wajahnya, dari sudut mata kulihat wajah muramnya, seolah-olah raga dan hatinya enggan melepas kota ini. Tapi aku tetap membesarkan hati, bahwa berjuang itu adalah kodrati manusia. Sesaat kupikir ia akan akan tersenyum, tapi tidak ternyata, ia tetap nanar, bahkan lebih lama menatapku." Sesaat terdiam, dan aku mencoba memasuki alam pikiran pemuda sahabatku tadi, "apa yg dipikirkannya?". 

Lama terdiam, kemudian aku teringat kalimat pertanyaan seorang wartawan pada salah satu pesohor di negeri ini. 
"Kalau anda mati, anda ingin diingat seperti apa?" Dan tiba-tiba aku meringis, serasa mual, sebab ingat diri sendiri, tak banyak yang sudah dilakukan, bahkan kadang sungguh merepotkan, repot yang menyanding kesal dihati orang lain. Merantau itu adalah mencari. Mencari diri sendiri, di dalamnya terdapat gumpalan-gumpalan harapan, kecemasan bahkan kemarahan. Dan pertanyaan yang jadi kutipan tadi kembali terngiang, "jika mati, kita ingin orang mengenang kita sebagai apa?" akan mudah menjawabnya jika sudah kenal diri sendiri. Maka, berjalanlah, maka merantaulah. Dan pertanyaan itu akan terjawab nantinya.

Kemudian datang pertanyaan dari sahabat yang lain, bagaimana mungkin mengenal diri dari sebuah perjalanan? Saya dan anda mungkin menyadari. Agama dan keyakinan lahir beribu tahun lalu, yang menggulir hingga sekarang. Ketika bergulir, perspektif dan kajian berkembang luas, membuka hal-hal baru. Ratusan tahun sebelum Muhammad bin Abdullah yg kelak dikenal sebagai Nabi Umat Islam lahir, Sidharta Gautama melakukan perjalanan spiritualnya. Dari seorang pangeran yg berlimpah harta, bersedia diri meninggalkan kemewahan hanya untuk mencari tahu dirinya sendiri. Ibrahim atau Abraham, bapak tiga agama samawi, Yahudi, Kristen dan Islam, juga melakukan perjalanan dalam rangka mengenal diri dan Tuhan. 

Lepas dari itu semua, lepas dari bagaimana Tuhan dicari dan diperkenalkan, saya cuma mau mengatakan bahwa, benarlah adanya, bahwa ketika bisa meninggalkan zona nyaman, seketika itu juga, ada hal-hal baru yang diisikan kedalam hati dan pikiran. Isian-isian yang akan membuka cakrawala berpikir. Membatasi diri cuma akan membuat sesuatu yang benar menjadi berkabut, tersembunyi dibalik hakikinya. Sehingga, kita cuma menjadi "penglihat" sebatas yang "dilihat", tidak lagi membebaskan diri dari hal yang sebenarnya. 

Rasulullah bahkan mengatakan agar menuntut ilmu sampai ke negeri Cina. Negeri yang jauh dari negeri tempat beliau lahir dan berdakwah, jazirah Arab. Muhammad anak Abdullah, lelaki yang diberi karunia akhlak dan budi, kecerdasan visi yang melampaui zamannya, tetap saja mau membebaskan diri dari pengetahuan yang didapat dari lingkungan tempat beliau lahir dan dibesarkan. 

Maka, filosofi merantau janganlah dipandang sebagai berjalan "biasa" semata, atau soal berapa jauh jarak yang baru bisa dikatakan sebagai "merantau", tapi lebih dari itu, "merantau" adalah proses mengisi yang kosong dengan makna-makna berarti, agar kelak, kita bisa mengenal diri sendiri, tidak berpura-pura melihat tembok kemudian berimajinasi telah melihat hal dibelakangnya, tanpa pernah melihat dan bergabung didalamnya.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Uyung Hamdani sebagai pemenang.

Uyung Hamdani

0 comments:

Post a Comment