Thursday, 13 April 2017

Merpati Putih Menghitam; Komunitas Baru

Kehidupan dalam berbagai teori memang mengalami fluktuasi. Ada kalanya disaat bahagia, ada pula dikala berduka. Setiap penggalan teori memiliki setidaknya satu unsur yang sama. Dalam satu unsur yang samalah para teoritik bisa bersama untuk mencari kawan sejagad supaya para yang menentang cukup gamang menghadapi. Dan setelah gagalnya teori atau sudah adanya teori yang baru, para teorik akan ditinggalkan pengikut.Begitulah siklus kehidupan para teoritikus.

ourboox.com
Melihat dari kehidupan para teoritik pada masa lalu, ternyata pengikut dari teori yang dikeluarkan para filsuf juga demikian. Dimana paska dikeluarkan teori, para pengikut saling berdesakan untuk merapatkan barisan supaya tidak merasa sendirian, kesepian, dan keterasingan. Setelah adanya teori baru dengan keadaan zaman yang berbeda para pengikut teori tadi satu-satu untuk keluar dari barisan pertama. Hingga akhirnya karya-karya teori tadi hanya bisa dibaca untuk diolok-olok, dan para teoritikus yang semula menjadi agung untuk kedepannya akan mati membusuk begitu saja.

Tulisan ini sebenarnya tidak akan juga membahas kehidupan para teoris yang begitu saklek. Penulis tidak akan sesaklek itu mengantarkan pembaca kedalam imajinasinya. Tapi gambaran di atas ibaratkan latar belakang atau semacam pengantar yang tidak relevan yang akan dibahas, agar pembaca bisa sok serius membacanya. Ibaratkan pembimbing yang membaca skripsi mahasiswa dan ternyata antara pengantar dan masalah tidak ada kecocokan. Yang membuat pembimbing langsung mencoret semua skripsi mahasiswa.

Begining
Pada suatu masa hiduplah duo sejoli bernama Karni dan Refi di negeri yang beradab dengan kelarasan adat yang di agungkan (seperti dongeng yah, pi jangan bosan dulu). Dalam keseharian mereka disibukkan dengan aktivitas yang cukup padat. Dengan kesibukan, mereka hanya mengenal nama saja, sedangkan untuk berbicara mereka hanya bisa berkata dalam hati untuk menyapa. Karena selain sibuk mereka berdua ternyata tidak cukup hebat untuk memulai dengan sepatah kata yang menyentuh.

Begitu berjalannya waktu, mereka diharuskan berpisah oleh negaranya di dalam satu komunitas. Karena pada saat itu negaranya mewajibkan bagi anggota yang telah pada tingkatan ketiga yang lulus dari Untuk Akhiri Nasib (UAN) harus meninggalkan komunitasnya untuk menjadi pengemis masa depan. Karena negara yang mereka tinggal sangat tidak peduli kepada warga yang mau jadi apa setelah lulus UAN. Alasannya menambah beban negara.

Ternyata mereka berdua lulus dari UAN. Dengan berat hatilah mereka meninggalkan komunitas. Dengan ditandai dengan musik yang mendentang. Sampai-sampai warga sekitaran komunitas sakit kepala mendengarkannya para fales bernyanyi. Tapi karena terakhir kali bersua dengan anggota komunitas, seluruh anggota komunitas yang lulus saling berbahagia. Tapi kebahagian selain musik tadi, anggota komunitas yang lulus juga bahagia dengan bisanya minum-minum, memakai narkoba, dan pacar-pacaran disudut ruangan yang tanpa pengawasan lagi. Eh iya ,ternyata itu hanya gak seberapa. Di komunitas lain aja mengadakan acara telanjangan bersama (cuma kasih tau, supaya membayangkan asiknya). Terkadang kebahagiannya gokil-gokil dengan acara lainnya, seakan masa itu seperti lupa dengan daratan.

Fokus kembali kepada Karni dan Refi. Setelah selesai semua perhelatan itu mereka berjuang untuk menjadi pengemis. Dengan tujuan kepada tempat pelarian ke komunitas selanjutnya. Alhasil dengan usaha sebagai pengemis yang tekun dan ulet mereka di terima di komunitas yang sama tanpa mereka sadari. Keriangan pun muncul baik dari Karni dan Refi. Keberanian pun muncul dari Karni untuk sekedar bertanya kepada Refi.

“Hallo Refi”.
“Hallo juga Karni”.
“Lulus dimana Refi?”.
“Di Komunitas Untuk Anak Daerah (biasanya nama komunitas suka disingkat, coba deh pembaca menyingkat apa nama yang cocok) bidang pencemaran, kamu?”.
“Sama juga, tapi aku bidang permalingan”.
“Bagus itu, kan bisa jadi orang kaya, kaya di tv-tv malingnya miliaran”.
“Iya, kamu juga bagus kok, lagian bidang kamu tuh sangat dibutuhkan sama negara, untuk meracuni air untuk bisa mengurangi penduduk negara kita yang miskin-miskin itu”.
Percakapan mereka pada saat itu hanya sekedar basa-basi menanyakan terkait kelulusan.

(Selanjutnya penulis akan fokus kepada Karni)
Dengan bahagianya Karni dan Refi bersemangat untuk memulai babak baru pelariannya itu. Setiap komunitas yang setara dengan Untuk Anak Daerah melakukan perkenalan Komunitas kepada anggota baru. Hari-hari pekenalan tersebut sangat ditunggu oleh mereka karena ketidaksabaran menikmati hidup di komunitas baru. Sampai-sampai Karni sudah datang 7 hari sebelum dimulainya perkenalan.

Dalam bayangan karni perkenalan tersebut sangat menyenangkan. karena itu dia rela-relaan datang lebih cepat selain beradaptasi dengan lingkungan baru. Selain menunggu waktu perkenalan Karni langsung memutari kota barunya itu. Hingga pada hari perkenalan tiba, Karni serasa belum cukup waktu untuk mengitari kota yang cukup juga dengan hiburan malamnya. Tapi karena niatan awal untuk masuk Komunitas, akhirnya Karni harus tidur cepat dimalam itu. Supaya dia bisa maksimal di hari yang ditunggunya.

Pada pagi-pagi hari perkenalan, dengan kepala yang tegap dan langkah percaya diri untuk melangkah ke lokasi komunitas. Setiap orang pun yang di temui disapa dengan senyuman. Setibanya di lokasi, wajah Karni langsung riang karena membayangkan kehidupan di komunitas tersebut. Karni pun tidak bisa berlama-lama melamun, karena sudah hampir terlambat untuk berkumpul seperti yang dijadwalkan komunitas. Setelah itu langsung karni berkumpul dengan sesama bidang dan diarak ke lokasi bidang masing-masing.

Di saat di lokasi, Karni dan teman-teman baru sebidang permalingan langsung disambut oleh ketua bidang. Dalam sambutannya ketua permalingan memberikan selamat atas keberhasilan untuk lolos di bidang permalingan. Selanjutnya ketua bidang menyerahkan anggota baru kepada senior-senior untuk memperkenalkan lebih dalam bidang permalingan. Setelah penutupan dari ketua bidang, langsung senior membawa anggota baru ke ruangan tertutup.

Di dalam ruangan tertutup, senior langsung membagi kelompok dan membariskan anggota baru. Pada saat membariskan itulah salah satu senior langsung memukul salah satu anggota baru yang tidak tahu salahnya. Spontan seluruh anggota baru melihat yang dipukul. Di saat yang sama langsung semua senior yang berada di sana berubah bagaikan singa yang akan memangsa buruannya. Kata-katanya seperti inilah kira-kira :
 “Kalian mau melawan? Tidak tahukah kalian, ketua bidang sudah menyerahkan kepada kami, bagaimana kalian tiga hari kedepan kami menentukan. Mau mengadu kalian tidak bakal di dengar hahaha” anggota baru tidak lain hanya bisa diam. Bayangkan dramatisnya kejadian disaat itu. seperti film vampire, dimana para penonton film vampire ketakutan untuk menonton vampire-nya haha.

Para senior yang tidak tahu asal usul kemarahannya (mungkin lupa minum obat) langsung memukul dan memerintah para anggota baru. Pada saat itu ada yang disuruh menjilat kaus kaki dan mencium lantai. Jijik sekali kan, tapi ada juga yang lebih yahut. Dimana anggota baru disuruh untuk berenang di air yang hanya setinggi 50cm. Oh iya, Bukan yahut karena berenang di air 50cm-nya, mungkin para pembaca juga pernah berenang di kedalaman segitu di sungai kan. Tapi yang bikin yahutnya adalah komposisi air di saat itu terdiri dari air limbah pencucian dan air urin manusia yang diletakkan di bidang melengkung. Wowww pasti enak-kan berfantasi di saat itu, makanya cobain aja langsung keseruannya haha.

Alasan para senior setiap mau menghukum para anggota baru pasti dengan kata CINTA (upss penulis jadi baperan kalau ingat kata cinta haha).
“Adek-adek apakah kalian cinta dengan bidang permalingan?” teriak seorang senior.
“Cinta kak” teriak seluruh anggota baru.
“Kalau cinta cium lantai!” ucap salah seorang senior dengan nada keras.

Langsung dengan kecepatan ekstra anggota baru mencium lantai dengan gaya sujud. Seperti sujud yang dilakukan di saat sholat agama islam itu loh, kebayangkan gimana. Tidak peduli dengan lantai yang berdebu atau bekas kotoran semua peserta harus mencium lantai tepat di depan anggota baru. Jika tidak mau, siap-siap saja untuk menerima siksaan kubur di ruangan khusus. O iya, ruangan khusus itu berisikan 6-10 senior yang khusus hanya untuk membuat siksaan bagi para anggota yang membangkang pada senior. Akhir dari siksaan di ruangan khusus itu tergantung apakah para juri (seperti persidangan di negara yang beraliran anglo saxon aja yah, pake juri segala) sudah bahagia atau belum. Jika sudah maka para anggota baru yang masuk dipersilahkan untuk memakan sajian kecil kembali di ruangan bersama tadi. Jika belum dilanjutkan sampai bahagia. Wess bagi yang galau ga usah lagi cari tempat ketawa, jadi juri aja biar bahagia.

Begitulah rutinitas perkenalan yang begitu menyenangkan dijalani Karni selama 3 hari penuh. Sepulang di hari pertama perkenalan, Karni yang tinggal di luar kota terpaksa mengontrak rumah bersama teman-teman dan senior di dekat lokasi Komunitas. Pada saat sampai di rumah, dikarenakan di kontrakan hanya tertinggal beberapa senior yang disebabkan waktu itu masih libur. Karni langsung bertemu dengan Afif yang juga anggota baru di komunitas Untuk Anak Daerah. Akan tetapi berbeda bidang. Si Afif yang di bidang penyulundupan langsung bertanya.

“Gimana Perkenalannya?” ucap Afif
“Mantap sekali, kayak binatang para anggota baru dibuatnya” balas Karni.
Haha, sama dong, kami disuruh-suruh sepanjang hari !” dengan ketawa.
“Berarti kita sama dengan...?” celoteh Karni. Langsung mereka terdiam dan saling terheran dengan persamaan tadi. Mereka berfikir keras ibaratkan seperti jenderal sedang memikirkan taktik perang untuk melawan musuh. Karena Karni sudah menemukan ide, langsung menolak.

“Tidakkkk, tidak itu salah, kita bukan bintang eh binatang. Kita manusia. 
"Afif berani gak ngelawan besok?” tanya Karni.
“Haha nggak ni, gimana ngelawan, selama di komunitas disiksa trus kita kalau ngelawan. Betul kita manusia tapi kita harus turuti ajalah apa mau senior-senior itu, kan hanya 3 hari” jawab Afif.
“Ah, mending kasih aja tu sama binatang. Aku di ajari dulu tuh waktu di komunitas lama, kita ini punya hak untuk tidak disiksa fif, gimana sih kamu ga laki banget”.
“Terserah kamu aja deh mau ngapain, aku main aman aja deh.” Afif langsung masuk ke kamar untuk istirahat. Agar fisiknya lebih siap dengan kebahagian di hari esok.

Bersambung, bagaimana kejadian yang terjadi kepada Karni di hari selanjutnya.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Diki Rafiqi sebagai pemenang.

Diki Rafiqi
Ketua LAM&PK. 

0 comments:

Post a Comment