Wednesday, 5 April 2017

Monolog Hati

Hai teman. Aku ingin bercerita. Lebih tepatnya ini curahan hatiku. Memalukan bila diceritakan tapi terasa sesak bila tidak diceritakan. Pasti kau pun pernah merasakan hal yang sama kan? Mempunyai suatu hal yang tidak ingin kau katakan pada orang lain tetapi akan menjadi penyakit yang hinggap pada dirimu bila itu tidak dikatakan. Bila kau diposisi sepertiku saat ini, saranku ceritakanlah. Seperti diriku yang akan bercerita padamu. Bercerita tentang dia.

twitter.com
Namaku Soraya. Dan dia. Lelaki yang kukagumi. Guntur namanya. Sudah genap satu tahun aku mengaguminya. Kata teman-temanku sih tampangnya tergolong biasa saja. Tapi semua berbeda bagiku. Banyak yang aku suka dari Guntur. Matanya, suaranya, rambutnya, senyumnya dan yang paling favorit untukku itu punggungnya. Punggung? Ya. Jangan berpikiran aneh atau menganggapku sebagai seorang psikopat. Aku menyukai punggungnya apa itu salah? Okey akan kuberi alasan mengapa aku menyukai punggungnya. 

Aku mempunyai kebiasaan untuk melihatnya dari kejauhan. Yang selalu kulihat bukan wajahnya yang tersenyum menghampiriku, tetapi dia tersenyum lalu berbalik pergi menjauh. Hanya punggungnya yang terlihat. Melihat punggungnya tidak membuatku merasa malu di depannya. Menatap punggungnya membuatku ingin terus mengejarnya. Menyedihkankah? Tidak. Aku sih menikmatinya. Suatu saat punggung itu akan aku tepuk hingga membuat dia menoleh ke belakang, dan akhirnya dia akan menyadari jika seorang Soraya selalu terus mengikuti di belakangnya. Hingga dia tidak akan merasa sendiri. 

Teman-temanku tidak sependapat denganku. Mereka bilang dia biasa saja. Itu sih karena mereka tidak selalu memperhatikan dia sepertiku. Dia tidak seperti lelaki lain. Sikapnya tidak mudah ditebak. Tapi aku suka. Dia dapat diandalkan. Dalam beberapa kegiatan dia selalu dibutuhkan oleh rekan-rekanku bahkan atasanku. Kadang itu membuatku kesal. Tidak bisakah dia beristirahat sejenak dari kegiatan yang dapat membuat kesehatannya menurun. Kau mungkin beranggapan aku terlalu lebay. Aku pun sependapat. Tapi ini hal yang wajar. Aku sedang jatuh cinta. Aku pernah membaca kutipan di sebuah buku katanya, "hati-hati dengan orang yang sedang jatuh cinta. Mereka bisa berbuat apapun termasuk hal yang tidak masuk akal sekalipun." 

Apakah dia tahu kau menyukainya Soraya? Tidak tentu saja tidak. Aku menyukainya diam-diam. Pengecutkah aku? Ya ku akui saja iya. Aku tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan “Aku jatuh cinta padamu, Guntur”. Menatap matanya pun aku tak sanggup, apalagi mengatakan hal picisan seperti itu. 

Pikiran burukku selalu membunuh keyakinan bahwa dia juga memiliki rasa yang sama denganku. Misalnya seperti, tidak mungkin Guntur menyukaiku. Aku hanya seorang gadis yang tidak mempunyai suatu hal yang dapat dibanggakan. Paras cantik pun tidak. Dia hanya menyukai gadis yang cantik. Dia selalu mengatakan terang-terangan pada yang lain bahwa wanita A cantik ataupun wanita B manis. Tapi dia tidak pernah mengatakan hal itu padaku. Mungkin aku bukan tipenya. Atau seperti, tidak mungkin dia memperhatikanku. Mengobrol denganku saja hanya masalah yang tidak terlalu penting. Atau dia memperhatikan karena aku terlihat lebih jelek dari biasanya? Pikiran seperti itulah yang menggangguku. Jatuh cinta itu 50% indah dan 50% menyakitkan.

Teman-temanku mendukung ketika aku katakan bahwa aku menyukainya. Mereka sangat bersemangat. Mungkin karena aku tidak pernah bercerita tentang lelaki sebelumnya pada mereka. Terkadang mereka memperhatikan gerak-gerik Guntur dan teman-temannya. Katanya gerak gerik bisa menjawab pertanyaanmu apakah Guntur menyukaimu juga atau tidak. Mungkin jika mereka menggunakan ilmu penelitian seperti ini terhadap pendidikan, mereka pasti bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan mendapatkan nilai yang tinggi pula. Penelitian mereka pada Guntur selalu sukses membuatku kegirangan. Ada yang bilang Guntur selalu memperhatikanku ketika aku berjalan. Ada yang bilang Guntur selalu mencariku. Ada yang bilang inilah itulah. Itu semua cukup membuatku merasa terbang di luar angkasa dan keluar dari Galaksi Bima Sakti. Baiklah lupakan kalimat hiperbola yang baru saja kukatakan. 

Apa kau pernah merasakan hal yang beda darinya? Tentu saja pernah. Karena hal itu kan aku jatuh cinta padanya. Guntur sangat baik. Aku tahu dia baik terhadap siapapun. Hal ini yang sangat sulit untuk membedakan apakah dia menyukaiku atau dia hanya bersikap baik saja. Akhirnya aku ambil pemikiran yang terakhir bahwa dia hanya bersikap baik saja. aku hanya tidak ingin berharap terlalu tinggi padanya. Nanti ketika sudah beranggapan dia juga menyukaiku tapi ternyata kenyataannya tidak? Percayalah sakit itu tidak akan hilang sampai tahun depan tiba. 

Aku lupa mengatakan hal ini padamu. Jangan menyalahkanku dan memojokkanku bila memang aku tidak berani mengatakan perasaanku padanya. Tindakanku memang tidak patut dicontoh. Memang sudah seharusnya mengatakan apa yang dirasakan. Hanya saja keberanian itu belum menghampiriku. Aku hanya tidak ingin merusak hubunganku dengannya saat ini. Ada dua kemungkinan yang terjadi bila aku mengatakan perasaanku padanya. Yang pertama, respon positif. Dia membalas perasaanku dan kita menjalin hubungan layaknya dua sejoli. Atau kemungkinan yang kedua, dia menolak dan merasa canggung bila bertemu denganku. Aku tidak ingin mengambil resiko. Kuputuskan untuk tidak mengatakan padanya untuk menghindari kemungkinan yang kedua.
Terkadang aku selalu mendengar suatu bisikan dari dalam diriku. Awalnya aku merasa takut bila itu makhluk yang tak kasat mata berbisik padaku. Setelah dipikir-pikir itu terlalu konyol dan memalukan bila diingat. Suara bisikan itu terkadang berasal dari dalam hatiku dan terkadang dia berada dalam pikiranku. Apa yang dia bisikkan selalu berbeda tergantung dimana dia mengatakannya. 

Saat suara itu berasal dari pikiran dia akan mengatakan "katakanlah Soraya. Ini kesempatanmu untuk dapat memulai dengannya. Tidak masalah bila dia tidak merasakan hal yang sama denganmu asalkan kau mengatakan padanya itu sudah membuat disini terasa ringan. Kau tahu? Sekarang aku berada didalam kepalamu, dan pemandangan disini dipenuhi dengan ingatan-ingatan bersama Guntur. Aku sampai bosan melihatnya. Jika kau mengatakannya mungkin ruang disini akan lebih luas."

Begitulah yang kudengar. Sepertinya diriku yang membisikkan itu sedikit menyebalkan dengan mengatakan bosan melihat kenangan-kenanganku bersama Guntur. Tak ada yang membosankan apabila bersama Guntur. Sama sekali tidak ada.

Setelah mendengar bisikkan dari dalam kepalaku, seharusnya saat ini aku mempunyai keberanian untuk memulai dengannya. Tapi mengapa yang ada hanya rasa takut. Sungguh ini ketakutan yang luar biasa. Takut bila kehilangan dirinya. Karena semua itu runtuh beberapa detik yang lalu ketika kuingat sikapnya padaku akhir-akhir ini. Dia selalu menghindar. Ketika berpapasan denganku biasanya dia akan menyapa atau minimal tersenyum, tapi ini tidak. Bahkan untuk melirikku saja sepertinya dia enggan. Kau tahu betapa sakitnya mendapat perlakuan seperti itu dari seeseorang yang kau cintai? Aku selalu berpikir keras sampai sakit kepala gara-gara memikirkan apa yang telah kulakukan sampai dia bersikap seperti itu. Seperti tidak mengenal Soraya. Seperti tidak ingin melihatku.
  
Berkali-kali aku menahan sakit olehnya. Ketika melihat dia atau berbicara dengan wanita lain misalnya, ingin kubisikkan “Lihat aku Guntur, aku disini. Tepat dibelakangmu. Apakah aku memang tidak terlihat atau memang kau tidak pernah ingin melihatku?”. Tunggu aku keliru. Aku mengerti. Bukan dia yang menyebabkan rasa sakit itu. Tidak akan kubuat dia menjadi orang jahat dalam cerita ini. Diriku penyebabnya. Jika saja aku berani menatapnya. Jika saja aku berani berbicara padanya. Jika saja aku berani mengatakannya. Jika saja selama ini aku tidak bersembunyi. Jika saja aku berani memulainya. Dia juga akan tahu dan tidak akan bersikap seperti itu.

Hey! Suara dari dalam diriku kembali membisikkan sesuatu. Tapi sepertinya kali ini bukan berasal dari pikiran. Kali ini berasal dari dalam hatiku. Dari hatiku yang sedikit lebih dalam. Seperti yang kuduga dia memang menyebalkan. Apa? yang kudengar bahwa dia menyuruhku untuk melupakan Guntur. 

Kira-kira seperti ini katanya, "Soraya tidak kah kau dapat berpikir jernih? Kau terlalu bodoh untuk seusiamu. Dari sikapnya saja sudah membuktikan bahwa dia tidak menginginkan kehadiranmu. Lupakanlah Soraya. Guntur memang bukan yang  menyebabkan rasa sakit itu. Tapi dia adalah akar rasa sakit itu timbul. Karena dia, kau menjadi seperti ini. Apa yang ku katakan tadi ternyata keliru. Setelah berkunjung kehatimu sekarang aku mengerti. Lebih baik lupakanlah. Jangan menganggapku menyebalkan karena menyuruhmu melupakan lelaki itu. Tapi tahukah kau isi hatimu sedang kacau balau. Semuanya sesak dengan kenangan yang membuatmu sakit dan merasa terabaikan ketika dengannya. Lupakanlah Sarah. Di usiamu yang sekarang seharusnya kau merasakan manisnya cinta. Aku tahu perasaanmu sangat tulus. Maka berikanlah perasaan tulus itu terhadap orang yang memiliki rasa tulus juga padamu. Memang sulit mengikhlaskan perasaan cinta yang sudah terbentuk satu tahun yang lalu. Namun dengan begitu kau mempunyai penawar sakit."

Tidak! Jelas dia salah. Melupakannya dan melepaskannya adalah suatu hal yang sulit. Aku sangat mencintainya. Tidakkah dia mengerti? Bahkan kau juga tidak mengerti perasaanku? Mungkin rasa sakit itu sedang berperang dengan cinta. Aku harap cintalah yang akan menang. Tidak! Sudah sangat jelas aku menolak untuk melupakannya. Akan kucari dimana lagi lelaki seperti dia? Bahkan jutaan lelaki yang kutemui tidak mungkin memiliki sesuatu hal yang kusuka dalam dirinya. Bisakah kalian berpikir lebih positif bahwa rasa tulusku ini dapat mengubah hatinya? Dapat mengubah pikirannya? Dapat menyadarkannya bahwa aku selalu dibelakangnya? Tolonglah bahkan diriku saja tidak mendukungku untuk mencintainya. Aku hanya ingin dia. Sungguh. 

Aku memang bodoh. Tidak tahu bagaimana untuk melangkah, juga tidak sanggup untuk melepaskannya. Jujur aku pun tidak mengerti mau dibawa kemana kisah roman picisanku ini. Bila kau bertanya apakah aku lelah? Tentu aku lelah. Tapi semua ini membuatku bingung. Awalnya aku hanya mencintainya untuk diriku saja. Ternyata aku sangat keliru. Semakin lama aku mencintainya semakin serakahnya diriku. Ku akui aku menginginkan dirinya. Penolakanku untuk melupakannya sudah sangat jelas bahwa aku memang menginginkan memadu kasih dengannya. Berkali-kali kutepis keinginan itu. Lalu dia kembali lagi dengan keinginan yang lebih besar. Keinginan yang kurasa hanya harapan kosong. 

"Soraya?" Sial suara itu mulai lagi. Jangan membuatku membenci diriku sendiri. Cukup katakan hal yang dapat aku terima. "Baiklah. Tidak mengapa kau tidak dapat melupakannya. Ternyata rasa cintamu itu bukan main. Aku hampir saja mati karena amarahmu tadi. Okey, aku akan mengatakan hal yang mungkin dapat kau terima. Kau tidak dapat memaksakan hati seseorang Soraya. Jika dia datang padamu maka sambutlah, tetapi jika keinginannya pergi maka lepaskanlah dengan keikhlasan. Percaya padaku. Beban-beban yang berhubungan dengan dirinya akan menghilang satu persatu. Walaupun itu akan memakan waktu yang cukup lama. Kau berharap Guntur menoleh ke belakang untuk menyadari kau selalu ada? Percayalah saat ini ada seseorang yang sama berharapnya denganmu. Orang itu berharap kau akan menoleh padanya. Berharap kau dapat menerima kehadirannya."

Hari ini diriku sedang merasa bijak. Mungkin ada benarnya dia berbicara seperti itu. Kau juga setuju dengannya? Apa yang dia katakan tidak salah. Untuk saat ini terlalu cepat untuk membuka lembaran baru. Sangat sakit untuk melepasnya. Tapi benar apa yang dia katakan, kita tidak dapat memaksakan hati seseorang. Terima kasih sudah mendengar kisahku. Setidaknya hatiku terasa lebih ringan. Bercerita pada teman memang tidak menyembuhkan tapi mampu mengobati. Kau pendengar yang baik. Suatu saat, ketika aku siap membuka lembaran baru akan kuceritakan lagi padamu. 

Guntur apakah kau yang membaca monolog hatiku ini? Apakah kau pendengar baik kisahku? Jika itu benar kau, semoga kau mengerti apa yang kurasakan saat ini. Selama aku belum menceritakan lembaran baruku. Datanglah. Selalu ada tempat untukmu dihatiku. 

Menolehlah Guntur, aku akan ada berdiri tepat dibelakangmu.
 
Soraya 
15 maret 2017, 9:18. Semoga kalian dapat menikmati ceritaku.
***
Tulisan ini ikut Arisan Godok Bulan April. Silahkan dibagikan jika menyukai Karina Tanjung sebagai pemenang.

Karina Tanjung


Mahasiswi Sastra Jepang yang sangat menyukai Budaya Korea dan mencintai Budaya Indonesia. Mempunyai hobi menonton Oppa-oppa Fana di laptop kesayangannya. Saat ini kegiatan yang dilakukannya hanya menunggu anugerah dan keajaiban ketika seseorang dapat memberikan tiket gratis konser BTS yang akan mendatang.




0 comments:

Post a Comment