Friday, 14 April 2017

My Beauty Angel

Namaku  Iqbal, aku bekerja sebagai perancang papan iklan. Setiap hari berangkat pagi pulang larut malam, sampai-sampai sering tertidur di halte bus  tapi untungnya saat bus tujuanku tiba pak supir selalu membanggunkanku dengan bellnya. Tapi beberapa hari yang lalu ada seseorang yang menyelimutiku tanpa sadar aku memegangnya dan mengucapkan terima kasih  dan lanjut tidur lagi, saat bell bus tujuanku berbunyi aku terbangun dan kebingunggan dengan selimut yang kupakai. Di dalam bus aku tidur lagi, sesampainya di rumah aku mengingat kejadian yang bisa aku ingat.
“Oh ya, perempuan itu yang memberiku selimut ini. Perhatian juga cantik pula.” Aku tersenyum mengingat wajah perempuan itu sambil mencium parfum dalam selimutnya.

pinterest.com
Ke esokkan harinya tanpa sadar aku bangun tidur lebih awal dan penuh semangat, sebelum ke kantor aku mencoba mencari perempuan itu tapi gak ketemu. Di kantor teman-teman pada kebinggungan dengan tingkah lakuku hari ini, senyum terus di kasih tugas numpuk menerima dengan senang hati. Saat makan siang teman-teman pada mengintrograsiku.

“Iqbal semalam kamu kesambet apaan hari ini ceria banget?” Tanya Tino yang asyik makan kentang goreng dan semua pada menunggu jawaban dariku.
“Semalem aku ketemu malaikat” jawabku sampil terseyum mengingat wajahnya.
“Pasti ada hubungannya dengan perempuan?” tebak Miko, aku hanya mengangguk dan tersenyum. Pertanyaan semakin banyak  aku bilang pada mereka kalau nanti malam aku akan menemunya, aku minta doa agar bertemu. Mereka memelukku dan memberi semangat padaku.

“Akhirnya si jenius kita akan dapat pacar kalau beruntung ya cepet-cepet nikah” ucap Yuri, semuanya pada berucap amin. Jam pulang tiba, semua sudah pulang dan memberi semangat padaku. Tapi sebelum pulang aku harus menyelesaikan satu rancangan iklan untuk salah satu stasiun televisi dan besok meeting bersama. Keluar kantor buru-buru cari coklat untuk ucapan terima kasih, tanpa sadar aku tertidur lagi dan perempuan itu datang menghampiriku dan membaca tulisan yang aku tempel ditas tempat aku menyimpan selimutnya.

“Malaikat cantik bagunkan aku ketika aku tertidur ya, aku ingin bertemu dengamu” ini kata-kata yang tertulis di kertas, perempuan itu membaca pesanku sambil tersenyum, kemudian membangunkanku dengan ragu-ragu, aku terbangun saat bell bus giliranku berbunyi. Aku terkejut melihat dia berada di depanku melihat ekspresiku saat bangun tidur, dia ikut naik bus bersamaku dan kita mulai ngobrol. Ternyata perempuan ini bernama Silla, dan dia menceritakan kepadaku kenapa perhatian denganku.

“Awalnya aku pikir kamu tertidur di halte bus karena kelelahan setelah pulang kerja, tapi besoknya bertemu kamu lagi kamu tertidur lagi. Aku melihat kamu tertidur di halte bus sekitar lima kali, dihari keenam aku membawakanmu selimut karena aku kasihan padamu. Saat hari kelima hujan turun deras dan nampak jelas kau kedinginan” cerita singkat dari Silla, membuatku tersenyum malu dan kagum akan hati tulusnya.
“Aku jadi malu, terima kasih untuk semuanya baik itu selimut atau pun perhatian kamu selama satu minggu ini” ucapku dengan mengembalikkan selimut dan memberinya coklat.
“Iya, lain kali bawah jaket agar gak kedinginan. Tapi sebenarnya aku menganggap kamu gak punya rumah, sebab setiap malam selalu melihatmu tidur di halte bus.” Silla sedikit ragu mengatakannya, dengan spontan aku tertawa, dan menjelaskan semuanya.

Tak terasa aku sudah sampai di halte bis pemberhentianku, tapi Silla ikut turun juga. Aku terkejut lagi, Dia ingin tahu rumahku dengan langkah jalan yang seirama kita mulai mengobrol lagi.
“Apakah pekerjaanmu Silla? Seragam kamu nampak seperti seragam salah satu stasiun televisi, mulai dari warna, logo sampai model bajunya sama” Aku melihat seluk beluk seragamnya.
“Iya aku pegawai stasiun televisi,bagian tim kreatif. Kamu sendiri kerja apa?” Silla berhenti melangkah untuk mengetahui jawabanku sambil memandangiku. Aku merasa gugup untuk menjawab.
“Aku perancang papan iklan, hampir setiap hari buat iklan baru. Syukurlah otakku cukup banyak ide” jawabku. Setelah sampai di rumahku Silla gak mau mampir karena hari sudah larut malam, dia memutuskan untuk pulang saja.
“Aku antar sampai halte bus ya, biar malaikat cantikku aman” Silla tersenyum sembari mengangguk iya. Aku menemaninya sampai busnya datang. Di sela-sela itu kita bertukar nomor ponsel masing-masing dan mencari akun sosmed masing-masing, saat busnya tiba dia pun masuk dan kita saling memandang. 

Keesokan harinya aku terbangun agak kesiangan jadi buru-buru ke kantor tanpa buat sarapan, perjalanan ke kantor bawa kopi dan roti isi buat sarapan. Untung di lobi ada Miko yang bantuin bawa tasku, jadi bisa makan sambil jalan menuju ruang kerjaku. Semua berkumpul ke meja kerjaku, dengan serius mendengarkan ceritaku dan tertawa bersama, beberapa jam kemudian aku dan timku pergi ke kantor stasiun televisi untuk rapat. Tanpa aku sadari aku menujuh ke kantor Silla, saat sampai di depan pintu meeting aku baru menyadari karena orang-orang yang melewatiku berseragam sama dengan Silla. Aku mulai gugup dan berpikir macam-macam, saat Miko membuka pintunya kami semua masuk dan langkahku terhenti melihat Silla berada di dalam. Dia menyapaku aku hanya terdiam melihat senyum manisnya, kemudian Tino menarikku agar aku segera duduk.

“Toni apa yang harus aku lakukan sekarang aku gugup sekali? Kalau presentasinya gagal bagaimana?” bisikku pada Toni sembari memandangi Silla.
“Tarik nafas panjang-panjang dan minum air putih ini aja” ucap Toni. Aku menuruti sarannya dan aku mulai presentasi dengan semua keberanianku. Saat meeting sudah selesai aku bergegas ke toilet. Aku berbicara sendiri pada bayanganku di cermin.
"Tak bisa ku percayalah aku memalukan diriku sendiri!" setuju sambil menatap wajahku sendiri yang terbagi oleh air. Tak ku sangka Silla mengungguku di depan toilet, saat aku keluar dari toilet aku terkejut dengan kehadirannya di depanku.

"Apa ini presentasi pertama, kenapa begitu gugup tadi?" tanya Silla yang memandangi wajahku, aku begitu malu di depannya.
"Tidak, tapi..." jawabku terputus karena rasa maluku
"Tapi ini presentasi pertama ku di depan wanita cantik seperti" aku tetap berdiam dan Silla menengok ke arahku dengan senyumnya. Perlahan aku menghampirinya, tak di sadari aku memegang tangannya, kita tertawa riang. Dan terus ngobrol, kemudian Toni memanggil untuk kembali ke kantor, aku menyuruh ke kantor duluan.

Di kantin kami membeli kopi dan ngobrol banyak hal, awal karir masing-masing dan proyek mereka selanjutnya, tak terasa sekitar satu jam sudah berlalu jam makan siang sudah habis. Aku harus kembali ke kantor begitu juga dengan Silla.
"Kita ketemu lagi hari minggu di halte bus ya" Teriak Silla dari kejauhan aku hanya mengangguk ita dan bergegas lari menyuruh kantor. Sesampainya di kantor teman-teman pada bertanya padaku tentang meeting hari ini.

"Iqbal kenapa tadi kamu gugup banget?" Tanya Yuri, semua pada pasang mata dan telinga lebar-lebar. Sebelum aku menjawab aku tari nafas dalam dalam.
"Di tempat meeting tadi ada malaikat cantikku" ucapku dengan tersenyum, semua terkejut.
"Apa perempuan yang tadi bicara sama kamu?" tanya Toni, aku hanya mengangguk iya dan memberi dua jempol pada Toni. 

Hari minggu pagi tiba, aku ke kantor penuh semangat dan tidur ku semalam nyenyak sekali. Saat kemas-kemas mau pulang tiba-tiba ada rancangan yang harus diselesaikan hari ini, dalam hati aku mengkhawatirkan Silla yang mengungguku. Dengan cepat aku menyelesaikannya, aku melihat jam tanganku dengan kesal, aku berlari menuju halte bus, aku sudah terlambat lebih dari dua jam. Sampai di halte bus nafasku tersengal-sengal, dengan penuh kesabaran dia menantikan.

"Apa sudah selesai pekerjaannya?" Tanya Silla denga memberikan minuman seraya tersenyum.
"Iya, terima kasih untuk minumannya dan kamu hari ini cantik, dan maafkanku yang membuatku menunggu. Pasti capek nunggu?" tanyaku, Dia menggeleng enggakKemudian kita menghabiskan waktu bersama dengan banyak hal layaknya kencan, mulai dari nonton film, makan malam bersama,dan hal-hal yang lain. Di pasar malam aku mencoba berbagai game, dan selalu menang. Semua hadiah aku berikan pada Silla, mulai dari boneka, mawar, dan aksesoris. 

"Apa kamu senang malam ini?" Tanyaku, di mengangguk iya.
"Terima kasih" ucapnya.
Aku mengantarkannya pulang, dalam perjalanan dia nampak kelelahan dan mengantuk, aku menyuruhnya untuk naik ke punggung, tapi Silla malu, tapi aku memaksanya. Aku berbicara padanya meskipun dia tertidur.
"Semoga Tuhan menakdirkan kita untuk bersama Silla, aku merasa nyaman dan tenang di dekatnya. Orang sepertinya yang aku tunggu selama ini". Sesampai di rumahnya aku membangunkannya. Dari kejauhan aku memandangnya dengan senyum maluku, berharap dia mendengar kata kataku tadi.

Waktu memang cepat berlalu, tak terasa aku sudah mengenalnya selama tiga bulan lebih. Dan selama itu juga aku memikirkan dan meyakinkan hatiku untuk tak melepaskannya, dan keberanianku cukup terkumpul banyak untuk mengatakan perasaanku dan keseriusanku padanya. Aku sempet minta saran dari teman teman untuk mengungkapkan rasa cinta.

Kemudian di hari sabtu malam aku berjanji padanya kalau aku akan mengajak dia untuk makan malam, dan bersenang senang. Setelah kita bersenang senang, aku membawanya ke taman dimana disana sudah ada teman temanku yang sudah mempersiapkan kejutan untuk Silla. Tamannya nampak begitu indah dengan lampu-lampu yang berkilauan, Silla tersenyum gembira dan aku mulai memegang erat tangannya.
"Silla coba lihat mataku sekarang" ucapkan dan Silla hanya bisa tersenyum
"Kamu mau bilang apa?" tanya Silla padaku. Aku berlutut di hadapannya dan mengatakan.
"Apa kamu mau jadi pendamping hidupku? Apa kau mau aku jadi mampu?" tanyaku sambil memegang kotak cincin, mataku mulai berkaca-kaca dan diapun juga. Tak lama kemudian Dia mengangguk iya sambil memelukku, kita menangis bersama. Kemudian semua datang membawa balon dan kita terbangkan bersama dengan harapan yang tertulis. Aku memeluknya dengan penuh bahagia serta tangisan yang mengiringi kebahagiaan itu. 
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Rissa Lizah Susanti sebagai pemenang.

Rissa Lizah Susanti
Mahasiswa Ekonomi Syariah di IKHAC, hobi menulis dari bangku SMP dan tengah bekerja keras menjadi penulis profesional. Menanti pengumuman dari perlombaan yang sedang diikuti.


0 comments:

Post a Comment