Monday, 10 April 2017

Naik Bus Umum, Suka Atau Tidak Suka?

Mungkin pertanyaan di atas hanya bisa dijawab oleh para penumpang-setia-bus umum. Sebagian diantara kalian mungkin bertanya-tanya “Mengapa hanya mereka saja?” atau “Mengapa bisa begitu?” atau juga sederet pertanyaan yang lainnya. Ya, mengapa saya hanya menyebut penumpang-setia-bus umum saja yang bisa menjawabnya? Tentu saja hanya mereka yang bisa menjawabnya karena hanya mereka lah yang tahu masalah yang dihadapi setiap kali berada di dalam bus umum. Bagi kalian yang lebih suka ‘menyendiri’ di kendaraan pribadi, mana mungkin kalian bisa memberikan  jawabannya? ☺ hehe.

doc.penulis
Baiklah, saya akan mencoba memberikan pendapat saya untuk pertanyaan di atas. Sebelum saya memberikan pendapat saya, saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya saat berada di bus umum. Ceritanya seperti ini :

Cerita ini saya alami pada tahun 2013 entah bulan apa saya lupa. Saat itu, saya pulang dari tempat PKL (Praktik Kerja Lapangan) di daerah Wangon menggunakan bus umum. Jarak dari Wangon ke rumah di Gandrungmangu, Cilacap sekitar 40km (mungkin hehehe). Saat itu, hujan turun deras sekali membuat para supir malas beranjak (dramatis sedikit yah..) hingga jumlah bus yang melintas  hari itu sungguh sangat sedikit. Hal ini dimanfaatkan oleh supir yang nekat tetap narik. Mereka tetap menerima penumpang, padahal kondisi  bus sudah penuh sesak, alhasil banyak sekali penumpang yang harus rela berdiri walau jarak yang harus ditempuh cukup jauh (termasuk saya ☹). 

Penumpang yang berdiri tersebut kebanyakan adalah anak sekolah, namun ada juga kakek-kakek dan nenek-nenek bahkan ibu-ibu yang membawa anak. Yang membuat saya heran adalah tidak ada penumpang yang berwajah muda bahkan anak sekolah yang kebetulan duduk, untuk berdiri mempersilahkan mereka yang kerepotan untuk bergantian duduk. Ironis. Padahal untuk anak sekolah yang memakai kendaraan umum, saya yakin karena jarak rumah ke  sekolah tidak terlalu jauh. Tidak  bisakah mereka berdiri, lalu mempersilahkan kakek, nenek atau ibu tadi untuk duduk? Atau mereka yang masih berwajah muda, tidak bisakah mereka berdiri? Kalaupun alasannya karena capek, bukankah mereka yang saya sebutkan tadi lebih capek?

Kalo boleh saya sebutkan lagi ketidaknyamanan hidup di dalam bus umum (maksudnya menggunakan bus umum, ya..hhee), mungkin ini hanya di daerah saya di daerah lain tidak, tak lain tak  bukan adalah ASAP ROKOK. Caps Lock Jebol. Ya, sebuah benda kecil yang berasap banyak dan sungguh terlalu, sangat mengganggu. Ditambah lagi terkadang timbul  bau yang lain.  Terkadang bau terasi, sayuran busuk, atau bahkan  ada penumpang yang kurang peduli-mungkin-dengan penumpang lain, mereka memakai parfum yang amat sangat  menyengat –pleonasme-. Mungkin jika bau parfum tersebut di tempat yang sesuai, misal ruang kelas, akan terasa nyaman. Akan tetapi, kalau di bus umum terkadang bau parfum serasa bau ikan, tidak enak untuk dicium (lho...).

Hal kurang menyenangkan yang lain yang sering saya alami di bus umum adalah banyaknya penumpang yang membuang sampah sembarangan, janji beristilah di daerah saya. Kalau mereka membuang sampahnya di dalam bus, mungkin masih bisa dimaklumi karena bus pasti akan dibersihkan setiap saat oleh supir dan kenek. Tapi, kalau mereka membuangnya ke luar jendela? Ya kalau jatuhnya sampah dijalan atau di selokan. Mereka hanya membuat kotor lingkungan tanpa membahayakan nyawa orang lain. Akan tetapi, kalau jatuhnya sampah mengenai pengendara motor atau mobil? mereka bisa  kehilangan keseimbangan karena kaget, dan bukan tidak mungkin mereka bisa mengalami kecelakaan.

Itu hanya beberapa cerita diantara ribuan cerita kurang mengenakkan di bus umum. Masih banyak cerita lain yang mungkin pernah dialami para penumpang bus. Kurangnya toleransi di antara penumpang, mungkin yang menjadi salah satu penyebab angkutan umum kurang begitu nyaman.

Namun, diantara banyaknya ketidaknyamanan hidup  di bus umum, ada hal positif yang dapat saya ambil. Setidaknya saya bisa  belajar menjadi warga negara yang baik. Dengan naik  bus umum, berarti saya mengurangi populasi kendaraan bermotor di jalanan dan mengurangi beban petugas lalu lintas yang setiap saat selalu direpotkan oleh para pengendara yang rewel. Jadi, sebenarnya saya suka naik bus umum karena bisa menjadi  warga negara yang  baik, dan tidak suka karena kurang nyaman.

***

Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Prihatini Puji Lestari sebagai pemenang.

Prihatini Puji Lestari 
Kelahiran Cilacap. Mahasiswa di Universitas Jendral Soedirman. 

0 comments:

Post a Comment