Tuesday, 11 April 2017

Nona, Kau Kemana?

Khayal pertama

“Malam tadi nona, aku memimpikan sesuatu yang begitu indah”, ucapku. “Perihal apa?” tanyamu. Ini perihal yang begitu indah nona, kau dan aku berujung menjadi kita. Kita yang begitu indah, kita yang begitu mendamba, kita yang begitu selaras dan kita yang selamanya. Kau pun tertawa, tak lupa dengan senyum sumringah yang selalu mampu membuatku memetik kerinduan di malam hari yang selalu ku sisipkan di antara bintang-bintang, agar aku tak lupa. Ah nona, senyummu itu yang setiap hari selalu ku tunggu-tunggu. Senyummu mampu membangkitkan baknya bunga layu yang kekurangan air, kumat aku sepanjang hari hanya untuk menunggu kau tersenyum begitu nona. Mungkin aku sudah gila, ku rasa. Atau mungkin karna ubun-ubunku telah dipenuhi cairan dopamine yang yang membuatku selalu mengingat perihal dikau nona. Ah! Ku rasa aku terlalu banyak membaca buku aneh.

pinterest.com
Nah nona, mari kita lanjutkan cerita kita. Kau cukup duduk diam saja disana nona, dan dengar ceritaku ini. Satu lagi nona, jangan menyela, cukup kau duduk tenang disana dan nikmati kerinduanku. Kau tau apa lagi yang membuatku selalu merindukan perihal dikau?. “Matamu”, ucapku dengan semangat. Ku jelaskan, matamu bak cahaya yang menuntunku dari sudut yang hampa dan gelap menuju teriknya matahari yang membakar api bara cintaku nona. Kau sungguh menakjubkan, kau mampu membuat seseorang tergila dengan indahnya matamu itu. Oh nona, boleh aku melihat matamu sekarang?. Ahh! Maaf nona, jantungku mulai kurang ajar, berdetak tak normal lagi, dia cepat, menyesakkan dadaku disini. Tunggu nona, aku perlu menghela nafas agar dadaku normal kembali.

Nona, kau tau apa lagi yang ku syukuri darimu? Kau mampu membuatku merana, dan kertas adalah tempat pelampiasanku kala ini. Sudah banyak sajak jelek yang ku buat untukmu nonaku, sebab aku tak bisa tidur karena merindu. Coba kau dengarkan, ku harap kau suka.

Selasa, 28 Februari 2017
02.14 WIB

“Akhir Februari”

Ingin ku layangkan khayalku kembali
Pada kedua bola mata indah berseri
Mata yang menghanyutkan penasaran menanti
Hingga datang kerinduan menikmati
Terbawa dalam indahnya imajinasi
Lalu hanyut dalam sendiri

Ahh sudahlah!
Terlalu indah mengalah


02.23 WIB

“Kamu”
Kala ini,
Ingin ku ceritakan sedikit cinta
Tentang riuhnya malam di kala dulu
Tentang sesaknya khayalan menjamu
Tentang indahnya bola matamu
Menjelma menjadi satu
Kamu 

Minggu, 19 Maret 2017
01.38 WIB

Malam ini, aku tak bisa tidur nona
Kerinduan ini pada wajahmu semakin menjadi-jadi,
Aku babak belur sekarang
Memikirkanmu sekarang adalah penyesalan yang mengutukku
Andai saja waktu itu aku tak melepaskanmu nona,
Kurasa takkan ada malam seperti layaknya sekarang
Aku menikmati waktu itu nona, waktu yang kulalui dalam kekesalan
Sejujurnya aku bahagia

01.51 WIB

Nona, namamu menggema dalam pucuk kerinduanku malam ini
Menghalau kantuk yang sudah ku tunggu dari tadi, mengacaukan pikiranku akan riakmu
Aku rindu nona, sangat
Atau ku sebut namamu biar makin rindulah aku sekarang
Sekarang aku bertanya, apakah Tuhan masih memberikanku waktu untuk melihatmu lagi?
Apakah adanya kesempatan nantinya?
Aku ingin bertanya pada hatimu esok
Menatap mata indahmu dari dekat, oh rindu

Sabtu, 8 April 2017 
23.36 WIB

Malam ini, ku temui butir-butir kerinduan yang ku sematkan di antara bintang-bintang
Pikiranku mengajak kembali menyusuri lorong-lorong waktu ke sana
Kamu, di tempat kamu berada, nonaku
Satu tahta tertinggi yang ku ingkari waktu itu
Menyusutkanku dalam hamparan penyesalan
Pernah ku coba layangkan mata jauh dari tatapmu
Menuju ruang penglupaan, untuk sementara

Sekarang, mari kita kembali, pikiranku mengajak
Melayanglah aku dari lorong waktu menuju kenyataan
Disambut indahnya kerinduan akan tentangmu nona
Malam, angin, bintang, rembulan
Mereka bekerjasama mengerjaiku malam ini, 
Menghembuskan kecemburuan yang membawa kerinduan di ubunku

Oh cinta, sayang dikau terlalu cepat meninggalkan perihal aku
Ahh malam, ingin aku berbincang padanya malam ini
Dan nanti diakhiri dengan lagu jelek menuju mimpinya

Nona, kau masih mendengarkan aku? Ku harap masih, dan ku harap kau tak bosan dengan ceritaku nona. Sungguh nona, aku pencerita yang buruk dan begitu pula aku adalah perindu yang buruk jua. Selanjutnya nona, aku....... Tunggu nona, kau mau kemana? Nonaku, kau mau kemana? Kenapa kau pergi? Ahh! Sial, aku menyusut nona, jauh, meninggalkan dikau. Aku tersentak, hujan yang turun menghajar genteng rumahku kembali membawaku ke ruang kecil yang ku sebut kamar, ke kenyataan. Meninggalkanmu dalam jagad khayalku. Ahh tidak, aku melamun lagi.

***

Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Redha Andika Ahdi sebagai pemenang.

Redha Andika Ahdi/RAA

Lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 1 Juni 1995. Sekarang menjadi seorang Mahasiswa Psikologi di Universitas Negeri Padang. Tulisan ini berawal dari kerinduan akan kaum hawa, yang menusukkan panah kerinduan yang meledakkan ubun-ubunku dan menumbuhakn berjuta imajinasi kurang ajar yang dituangkan dalam secarik kertas, layar hp, serta tombol keyboard laptop. Dan ini adalah salah satu bentuk luapan kekurang ajaran imajinasiku saat ini. 









0 comments:

Post a Comment