Wednesday, 19 April 2017

Oh… Prinsip! Aku Dilema

Hari ini, aku benar-benar lelah. Tubuh ringkih inipun kurasa semakin menyusut ditelan kepenatan. Bagaimana tidak? Seharian ini, aku harus berhadapan dengan 7 orang klien. Kasus mereka begitu beragam hingga membuat kepalaku sedikit pening. Oh Tuhan… Aku hanya ingin membantu mengatasi permasalahan mereka tapi mengapa diriku sekarang jadi ikutan baper?


“Aduh… Shofia. Nggak usah ikutan baper kayak gitu dech. Nyantai aja kelleus. Ntar bisa-bisa kamu yang butuh dikonsulin. Hahahahahahahah ….”

Terdengar bisikan di telingaku. Siapa ya? Itu setan apa malaikat? Ah… Entahlah. Ku lihat jam dinding di ruang tamu. Pukul 4 sore. Ingin rasanya merebahkan diri tapi rentetan jadwalku yang lain siap menunggu dieksekusi. 

Selain sebagai konselor psikolog, aku juga nyambi jualan online dan satu lagi kerjaan yang sudah sedari dulu menyatu dengan jiwaku yaitu menulis. Dari kecil aku memang hobi menulis. Namun, baru 2 tahun ini sih, aku merasa benar-benar berbakat jadi penulis dan menjadikannya sebagai salah satu pekerjaan sampingan.

Sore ini, aku harus mengepak 6 paketan untuk para customer tersayang biar esok paginya bisa aku kirim. Selesai bergelut dengan jualan online, aku masih ada PR yaitu harus mengedit dan sedikit memoles novel ketigaku. Dengan seperti ini, setidaknya bisa membantu tim editor saat masuk dapur redaksi nantinya. Semua itu selesai menjelang pukul 21.00 WIB.

Untungnya lagi Satnite, jadi aku bisa nyantai nggak perlu terburu-buru tidur malam. Kan besok libur. Malam ini, aku hanya ingin bersantai ria. Aku duduk di balkon depan kamar sambil menyeduh green tea, minuman kesukaanku. Kulihat lalu lalang kendaraan di jalan raya. Ramai sekali. Maklumlah ya. Pasti banyak muda-mudi lagi malam Minggu-an.

Tiba-tiba Hpku berdering. Ada panggilan masuk.

“Assalaamu’alaikum, Ver. Tumben banget telpon. Kangen ya…”

“Wa’alaikumussalaam, Shofia sayang… Iya nih, kangen banget sama kamu. Tapi ada yang lebih kangen lagi sama kamu lho.”

“Ih… apaan sih? Emang siapa yang kangen? Pasti si kecil Sherryl. Mana mana. Bilangin tante pengen say hello.”

“Sherryl udah bobok sama papanya tuh.”

“Lha kamu kok nggak ikutan mereka?”

“Belum ngantuk Shof. Lagian aku pengen ngobrol sama kamu. Ada yang pengen aku sampein. Mumpung anak ma ayahnya lagi bobok, jadi nggak ganggu hehe.”

“Ecieee… yang merasa terganggu dengan suami dan anak. Hahahahah. Emang mau nyampein apa? Serius amat.”

“Kamu masih ingat Erik, mantanku?”

“Oh… Mas Erik yang dari Jogja? Yang ngajakin kita naik bianglala?”

“Yups. Betul. Kirain udah lupa.”

“Hahaha.. Enggak lah. Dia kan yang sering kamu puja-puja. Nggak pagi, siang, sore bahkan malam pun obrolanmu tentang dia. Serasa aku kayak minum obat tauk saat itu. Ckckckck.”

“Ya ampun. Segitunya ya aku dulu? Hahaha.”

“Btw, ada apaan sih? Kamu mau ngomong apa? Jangan-jangan kamu CLBK ma mas Erik? Iya kah?”

“Hush! Lambemu! Enggaklah, aku udah bahagia dengan mas Ferry. Apalagi sekarang udah ada Sherryl. Justru aku pengen kamu juga bahagia kayak aku.”

“Maksudmu?”

“Minggu lalu, tanpa sengaja aku ketemu mas Erik di mall. Katanya dia lagi ada tugas di sini. Akhirnya kami ngobrol, sempat makan bareng juga.”

“Bentar-bentar. Mas Ferry tau kamu makan bareng sama mas Erik?”

“Taulah… kan saat itu aku juga ngajakin adik iparku, Sherryl juga.”

“Oh… OK. Lanjut.”

“Jadi sebenarnya, mas Erik itu suka sama kamu, Shof. Hanya saja, kan kamu nggak mau pacaran, dia berinisiatif deketin aku hingga akhirnya kami jadian. Tujuan utama dia deketin aku yah biar bisa deket-deket sama kamu. Tapi nggak berhasil saat itu. Ya udah, dia mutusin aku. Alasannya sih saat itu dia pengen fokus kuliah. Akhirnya ya minggu lalu dia menjelaskan keadaan yang sebenarnya dan dia juga minta maaf sama aku. Dia pengen ketemu kamu, Shof. Bolehkah?”

“OMG. Kalo dia emang suka aku, kenapa nggak bilang aja? Kenapa harus nyakitin perasaan kamu? Yah jelaslah dia nggak berhasil deketin aku karena saat aku tahu kalian jadian, itu artinya aku harus jaga jarak sama mas Erik. Aku nggak mau deket-deket sama pacar sahabatku. Terus sekarang dia maunya apa?”

“Udah nggak apa-apa, Shof. Mungkin saat itu, aku patah hati. Itu dulu. Sekarang udah nggak kok. Bagiku dia hanya teman sekarang. Jika kamu mengizinkan, dia ingin bertemu dengan kamu sekaligus kedua orang tuamu.”

“What??! Ngapain?”

“Dia ingin melamarmu, Shof. Dia tidak ingin mengajakmu pacaran, dia ingin menikahimu. Dia tahu betul prinsipmu, Shofi. No pacaran sebelum halal. Iya kan?”

“Iya betul. Itu memang prinsipku. Tapi kamu apa lupa dengan prinsipku yang lain?”

“Maksudmu?”

“Vera sayang… kan aku sering banget bilang sama kamu. Aku nggak akan menikah dengan mantannya sahabatku. Apapun alasannya. Itu prinsipku. Aku tidak ingin menyakiti hati sahabatku.”

“Tapi, Shof. Demi Allah… Aku ikhlas jika mas Erik jadi suamimu. Justru aku lebih tenang karena mas Erik memperoleh istri sebaik dan sesholihah kamu.”

“Maaf, Ver. Aku nggak bisa. Bilang saja sama mas Erik, aku sedang sibuk dengan pekerjaanku dan belum memikirkan tentang pernikahan. Jangan pernah lagi berharap padaku. Titip doaku untuknya. Semoga dia segera dipertemukan dengan jodohnya meskipun itu bukan diriku. Maafin aku, Ver.”

“Baiklah jika itu kemauanmu. Akan aku sampaikan. Udah malam, Shof. Aku akhiri dulu yaa… I love you, Shof. You will always be my beloved friend, won’t you?”

“Of course.”

“Wassalaamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalaam.”

Ternyata eh ternyata… Mas Erik orangnya gitu. Tau ah. Lebih baik aku tidur.

Minggu pagi ini, aku berencana jogging dengan kucing kesayanganku, si Janette. Kami berdua berlari-lari kecil sambil sesekali jalan muterin perumahan. Itu saja sudah cukup membuat kami ngos-ngosan. Si Janette terlihat kecapekan. Kasihan juga dia. Akhirnya aku menggendongnya pulang.

Sesampainya di rumah, aku harus menyiapkan makanan kesukaan Janette. Apalagi kalau bukan makanan kucing heheheh. Tak lupa semangkuk susu untuk Janette tersayang. Aku hanya sarapan roti bakar dan susu. Malas masak. Mama papaku di luar kota. Bibi juga pulang kampung.

Sambil masukin remah-remah roti ke mulut, aku buka FB. Biasalah. Saatnya melihat orderan hehehe. Tiba-tiba Hpku berdering. Terlihat 13 digit angka yang belum pernah aku kenal.

“Halo.”

“Assalaamu’alaikum, Shofia.”

“Wa’alaikumussalaam, siapa ya?”

“Aku Hafidz. Ingat nggak?”

“Hafidz siapa ya? Maaf, aku nggak bisa mengingatnya.”

“Umm… Kamu sekarang lagi FB-an nggak?”

“Iya.”

“OK. Coba kamu search Andi El Hafidz. A en de i spasi E el spasi Ha a ef i de zet.”

Dia mengejanya. Aku pun langsung mengetik nama Andi El Hafidz. Oh Tuhan… Aku pernah mengenalnya dulu saat seminar di UGM sebelum akhirnya aku unfriend FB dan unfollow twitternya karena kami udah lama nggak komunikasi.

“Aduh. Maaf mas. Aku lupa.”

“Udah aku tebak, kamu pasti lupa. Lha wong semua medsosku kamu unfriend unfollow. Tapi alhamdulillaah nggak kamu blokir. Heheheheh.”

“Eh… Iya mas. Masih nyimpen nomorku?”

“Iyalah. Kaifa haluk, Shofi?”

“Bi khoir, alhamdulillaah. Mas apa kabar? Udah lama ya kita nggak ngobrol?”

“Alhamdulillaah, aku baik. Oh ya, gimana kabarnya Revy? Sepertinya dia sudah punya anak ya?”

“Alhamdulillaah dia baik mas. Dua minggu lalu kami jalan bareng kok. Eciee mas Hafidz masih inget sama gebetannya. Ecieee…”

“Aduh Shofia. Apaan sih? Aku hanya menganggap dia sebagai teman. Dulu seperti itu, sekarang pun tetap seperti itu.”

“Umm… sepertinya kalian dulu deket banget deh. Komunikasi kalian juga intens. Masak Cuma temen? Bohong deh masnya. Haha.”

“Beneran.”

“Kasian Revy lho mas. Dia dulu sering nangis gara-gara mas nggak pernah balas message dia. Mas cuekin dia. Sampai akhirnya dia blokir seluruh medsos mas Hafidz.”

“Nah, itu dia Shofia. Aku juga bingung sama Revy. Saat itu kan aku lagi sibuk dengan thesisku. Dan aku hanya membalas pesan-pesan saat aku luang. Aku juga bingung kenapa dia seperti itu? Toh kami kan hanya teman bukan pacar yang setiap saat harus tahu keberadaan kekasihnya kan?”

“Mas Hafidz salah. Bagi Revy, mas bukan hanya sebagai teman tapi lebih dari itu. Revy sudah menganggap mas sebagai calon ayah dari anak-anaknya kelak karena selama ini, mas lah satu-satunya cowok yang menurut Revy, menganggap Revy itu ada. Mas nggak pernah meremehkan dia. Mas yang selalu memberi semangat Revy saat dia sedang ada masalah. Bahkan mas yang bantuin dia ngerjain skripsi. Mas tau? Mas adalah salah satu motivasi bagi Revy buat nyelesain skripsinya. Eh mas malah kabur saat Revy udah mas buat melayang di angkasa.”

“Seperti itu kah, Shof? Sungguh Shof. Aku nggak ngerti. Aku nggak tau kalau Revy menganggapku seperti itu. Padahal, dulu aku hanya menganggap dia sebagai teman dan kalaupun aku memberi semangat dia yah semata-mata ingin memberi semangat saja. Nggak ada salahnya kan bagi seorang teman untuk melakukan itu?”

“Iya mas. Tapi bagi Revy lain. Mas adalah orang yang spesial. Yah mungkin Revy salah mengartikan itu semua mas. Sudahlah, nggak usah dipikirin mas. Itu kan dulu. Sekarang Revy udah punya keluarga.”

“Iya. Makasih Shof, sudah memberitahuku. Jika kamu ketemu dia, tolong sampaikan maafku padanya. Dia hanya salah sangka. Maafkan aku.”

“Baik, mas. InsyaaAllah.”

“Shof… Boleh aku bertanya?”

“Silahkan.”

“Shofia sudah menikah?”

“Allah SWT belum mengirimkan jodoh buat Shofi, mas.”

“Sejujurnya dari dulu, aku sukanya sama kamu Shof. Bukan yang lain. Bukan pula si Revy. Namun, aku tahu prinsipmu yang anti pacaran. Saat itu kita pernah ngobrol kan? Kamu bercerita bahwa kamu ingin menikah saat usiamu 27 tahun. Dari situlah, aku mulai menghindarimu. Aku hanya ingin bercengkerama denganmu saat usiamu mencapai angka itu. 25 Maret 1990 itu tanggal lahirmu kan? Itu artinya, sekarang kamu sudah 27 tahun. Bukankah seperti itu?”

“Umm… Iya mas.”

“Shofia… Jika kamu mengizinkan, bulan depan aku ingin menemuimu beserta keluargamu. Bolehkah aku melamarmu?”

Oh Man… Ini termasuk prinsipku bukan ya? Kok aku mendadak bingung? Aku tidak akan menikah dengan mantannya sahabatku. Mas Hafidz kan mantannya Revy. Eh bukan ding! Dia hanya mantan gebetannya si Revy. Tapi aku bakal nyakitin hati Revy nggak ya kalau menikah dengan mas Hafidz? Toh ini bukan salahku? Aku juga tidak main tikung.

Oh Tuhan… Aku dilema. Aku mencintai mas Hafidz. Tapi aku bingung mau jawab apa. Bolehkah aku menjawab “IYA”?

Malang, 17 April 2017
Oleh SEA Woelandary

Terjemahan

Bahasa Alay
Baper : bawa perasaan
BTW : berasal dari Bahasa Inggris By The Way artinya ngomong-ngomong
CLBK : cinta lama bersemi kembali atau cinta lama belum kelar
Kelleus : kali
Main Tikung : main tikung dalam cerpen ini artinya merebut pacar orang lain
OMG : berasal dari Bahasa Inggris Oh My God artinya oh Tuhan
Satnite : berasal dari Bahasa Inggris Saturday Night artinya Sabtu Malam

Bahasa Inggris
Customer : pelanggan
Green Tea : teh hijau
I love you : aku mencintaimu
Jogging : latihan berlari konstan
Mall : pasar besar mewah
Message : pesan
No : tidak
Of Course : tentu saja
Online : memanfaatkan media internet
Order : pesan
Say Hello : ucapkan halo
Search : cari
Unfollow : tidak mengikuti (istilah dalam twitter)
Unfriend : tidak berteman (istilah dalam FB)
What : apa
You will always be my beloved friend, won’t you? : kamu akan selalu menjadi sahabat tersayang ku kan?

Bahasa Arab
Alhamdulillaah : segala puji bagi Allah
Assalaamu’alaykum: semoga keselamatan tercurah kepadamu
Bi Khoir : baik
InsyaaAllah : jika Allah SWT menghendaki
Kaifa Haluk : apa kabar
Wa’alaykumussalaam : semoga keselamatan juga tercurah kepadamu

Bahasa Jawa
Lambe : mulut

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Sinta sebagai pemenang.

Sinta Erlinda Ayu Wulandari

SEA Woelandary adalah nama pena saya. Panggil saja saya SEA. Saya LAROS (Lare Osing) yang berdomisili di Malang. Bila teman-teman ingin “cuap-cuap”, boleh menghubungi saya via FB: Sea Woelandary, Twitter: @SeaWoelandary, email: seawoelandaryfkub@gmail.com, WA atau LINE (082142494259).

0 comments:

Post a Comment