Tuesday, 11 April 2017

Pelangi di Lembayung Senja

“Pelangi!” panggil anak lelaki bertumbuh jangkung berkulit coklat kelam dan rambut ikal. Gadis itu menoleh dan melihat anak lelaki tadi.

“Senja.” ujar Pelangi.

“Ayo pulang kurasa akan hujan.” ujarnya.

Tak sampai lima belas menit kemudian, dua anak itu berlari – lari kecil di pematang sawah petani, langit gelap sendu mengiringi langkah kaki mereka. Langit mulai meringis, rintik air hujan turun sedikit demi sedikit.

itnayivon.wordpress.com
“Pelangi ayo kita berteduh di sana!” ajak Senja sambil menunjuk sebuah gubuk reyot di tengah sawah. Mereka berdua mempercepat langkahnya dan berhenti di gubuk kecil itu. Sepanjang mata memandang sawah nan hijau membentang di sekeliling mereka. Kumpulan kayu kering yang mereka ambil di pinggir hutan diletakan di tengah gubuk, mencoba menjauhinya dari gemercik hujan. Atap gubuk itu bocor dimana – mana, badan dua anak itu sedikit bergetar menggigil kedinginan. Namun mereka tetap melindungi kayu kering itu dibanding tubuh mereka.

“Aku suka sekali hujan.” ujar Senja, perkataan yang selalu ia katakan tanpa bosan setiap kali hujan turun. Ia mengulurkan tangannya dan membiarkan rintik – rintik hujan menetes, membasahi tangan mungilnya. Hujan mulai berhenti awan gelap mengintip dan beranjak pergi, Senja tersenyum dan menatap langit ufuk timur. Ia menunjuk – nunjuk kegirangan.

“Pelangi, kau lihat itu disana ada Pelangi!” Mereka berdua menatap ke langit, pelangi cantik goresan alam menghiasi langit. Satu hal lain yang Senja sukai selain hujan, ialah Pelangi! Setelah puas menikmati pesona pelangi, tangan mereka dengan cekatan mengikatkan kembali setumpuk kayu kering yang terasa dingin ke punggungnya. Lalu mereka berdua kembali berlari – lari di pematang sawah menuju rumah.

****

Pelangi baru berusia 7 tahun saat itu, Senja 9 tahun. Ia masih belum tahu kalau banyak hal dapat  – dan akan – berubah setelah 10 tahun berlalu. Rupa, kedudukan, pemikiran dan bahkan perasaan, semua dapat berubah hanya satu hal yang tetap sama, tidak berubah meski 10 tahun telah berlalu, yakni kenangan.

Pelangi duduk termangu di bibir pantai, suara desiran ombak membuat perasaannya sedikit lebih tenang. Ia menatap langit senja berwarna kemerahan, matahari seperti malu – malu hendak berpamitan diri, entah malu – malu ataukah sang mentari lelah menyinari bumi? Apakah matahari pernah merasakan lelah bersinar? Bukankah saat mentari lelah hujan turun mewakili tangisannya? Saat ini pelangi ingin bertemu hujan, ia ingin mencium aroma air mata langit. Ia ingin tetes – tetes air hujan membasahi pipinya. Namun meski hujan tak turun, pipinya tetap basah, sesekali jemarinya dengan sigap menghapus air matanya.

“Kemana perginya Pelangi? Bukankah ia tahu, besok hari pernikahannya?” Ibu Senja menggerutu sedikit, “Sudah seharusnya calon pengantin berada di rumah!” lanjutnya. Senja hanya tersenyum simpul, ia masih berkulit coklat dan berambut ikal, namun ia terlihat lebih terurus kini. Kulitnya hitam dengan guratan otot, badannya tegak. Andai saja orang tuanya cukup berada, mungkin ia akan disekolahkan Polisi atau mengikuti seleksi masuk TNI. Namun apa daya, orang tuanya hanyalah buruh tani, mencangkul ladang orang lain. Ayahnya punya ladang luas dulu, dulu sekali. Namun karena musim panas berkepangjangan, panen yang gagal membuatnya menjual hampir semua ladangnya. Kini tersisa sepetak dua petak lahan, itupun cukup Senja kerjakan sendirian.

Senja anak yang mandiri sejak kecil, ia bekerja keras sepulang sekolah mengangkut kayu, menggembalakan ternak tetangga, dengan upah kerja kerasnya ia bisa sekolah sampai tamat STM, saat anak laki – laki di lingkungannya berpuas diri dengan ijazah SD dan SMP. Tamat sekolah ia bekerja di kota. Baru kembali kemarin saat mendengar adiknya akan menikah. Hal umum di kampungnya, anak gadis yang baru lulus di lamar bujang. Yang tak umum adalah perasaan berat yang berkecamuk di hatinya, seakan tak rela ‘pelangi’nya akan di rebut orang.

Namun apa daya, ternyata yang melamar Pelangi adalah anak dari lurah desa Bahar namanya. Perawakannya tinggi, berkulit coklat manis, tidak hangus seperti kulitnya lantaran Bahar tidak pernah berada di sawah, tidak seperti dirinya, memacul tanah, memotong rumput dan menggembala ternak. Gadis mana pun tentu lebih memilih Bahar, di banding dirinya yang hanya anak petani. Niat baik Bahar, tentu saja diterima keluarganya dengan sukacita. 

****

Terlintas dalam pikiran Pelangi, ia ingin kabur dari rumah pikirnya. Toh bukan dia yang menyetujui lamaran Bahar, melainkan kedua orang tuanya. Namun ia kembali tenggelam dalam pikirannya. Apakah ia mampu melukai dan menghianati kedua orang tuanya? Dua orang tua yang rela merawatnya sejak kecil walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Ia menggigit bibir, andai saja ia tak berhutang budi pada kedua orang tuanya – dua orang tua angkatnya, maka tentu saja ia akan menolak mentah – mentah lamaran Bahar, bukan karena Bahar kurang tampan, ia tampan dan mapan, siapapun gadis desanya pasti rela melakukan apapun untuk bisa bersanding di pelaminan dengan Bahar. Namun bagi Pelangi, ia rela menukar apapun dengan para gadis itu, agar ia bisa bebas dari pernikahan ini. 

Karena entah sejak kapan, mungkin sejak dulu namun ia saja yang tidak menyadarinya, hanya ada satu orang laki – laki yang begitu penting baginya, laki – laki yang ia tidak ingin terpisahkan darinya. Laki – laki yang berbagi dinginnya hujan dan indahnya pelangi di pematang sawah 10 tahun lalu. Senja !

****

Senja menjemput Pelangi, ia tahu pelangi sangat menyukai pantai, hanya ada satu pantai yang terdekat dari desanya. Dulu ia sering bersepeda bersama Pelangi ke pantai ini. Gadis yang ia cari tengah duduk di hamparan pasir, menatap kosong ke arah pantai. Apa yang tengah gadis itu pikirkan ia juga tak tahu. 

“Pelangi.” panggilnya, gadis itu menoleh tak menjawab hanya memandang Senja hampa. Senja menghampiri adik semata wayangnya itu, lalu duduk disampinya. 

“Ada apa ?” tanyanya. Pelangi menggeleng.

“Kau khawatir soal pernikahanmu lusa?” tanya Senja, gadis itu masih nampak muram. Seperti enggan menjawab, enggan bercerita dengan kata – kata, namun Senja tahu –sangat tahu– Pelangi selalu berkata – kata lewat matanya. Ia telah tinggal bersama dengan adiknya selama 11 tahun, tentu ia mengenal betul sosok Pelangi, lebih dari Bahar.

Ia masih ingat bagaimana Pelangi kecil sering bermain bersama dengannya. Dan suatu hari tepatnya 11 tahun yang lalu, tiba – tiba Pelangi telah menjadi adiknya. Kedua orang tua pelangi meninggal dunia, Pelangi tidak memiliki sanak saudara lainnya, ayah dan ibu Senja adalah teman baik orang tua Pelangi, jadi sejak saat itu Pelangi di asuh oleh keluarganya, dan menjadi adiknya.

Ada kesedihaan dan kehampaan di mata Pelangi, terlihat jelas kalau ia terluka. Dan bagaimanapun Senja tahu alasan dibalik kepedihan adik angkatnya itu. Senja mengelus rambut Pelangi lembut. Jika saja dunia sedikit lebih baik padanya dan Pelangi, mungkin cinta mereka tidak terputus dengan ikatan ‘adik – kakak’.

Air mata Pelangi menetes, seakan mengerti isi hati Senja. Mereka dua sejoli yang saling mencintai, tanpa saling berbicara lewat kata. Hanya mata mereka mengisyaratkan cinta, kepedihan dan luka.

Sejak Pelangi masuk ke rumahnya dan menjadi adiknya, tak seharipun Senja tidak mencoba menganggapnya sebagai adik, namun kehadiran gadis asing nan ayu ke dalam rumahnya mengisi ruang hatinya, bukan sebagai adik namun sebagai cinta pertama. Ia sudah cukup besar saat itu. 9 Tahun, ia hanya tidak menyadarinya, namun ia tahu Pelangi bukanlah adiknya.

Begitupula yang Pelangi rasakan, namun meski ia begitu mencintai kakak angkatnya, bukan sebagai kakak melainkan sebagai seorang gadis mencintai pria. Ia tahu dan sadar, ia tidak bisa menyakiti dan mengkhianati kedua orang tua angkatnya. Ia memiliki hutang budi besar kepada kedua orang tua angkatnya itu, mereka merawat Pelangi tanpa pamrih layaknya anak sendiri, ia di sekolahkan sampai tamat SMA. Kini saatnya Pelangi yang membalas jasa cinta mereka. Biarlah pedih luka itu dipendamnya sendiri, dikubur dalam – dalam, ia pikir hanya ia yang merasakan cinta. Namun hari ini ia lihat Senja menatap matanya, ada kepedihan tak tertahankan disana. Senja tak mau bicara namun ia tahu apa yang Senja rasakan, mereka sama – sama terluka.

Langit gelap seakan mengerti luka dua sejoli ini, hujan rintik mulai turun. Namun keduanya tidak bergerak, mereka menikmati sensasi hujan yang turun membasahi tubuh mereka. Karena hujan mereka bisa saling menangisi lukanya, mereka bisa menyembunyikan air mata tanpa perlu mereka seka. Dua insan yang saling mencinta itu menangisi cinta mereka untuk terakhir kalinya.

****

Dua hari kemudian, pernikahan Bahar dan Pelangi berlangsung, dengan mahar emas, uang juga beberapa petak sawah beserta peralatan sholat mereka sah di mata agama dan hukum sebagai suami istri. Orang tua mereka menangis haru, Pelangi menangis. ‘ini yang terakhir’ bisiknya dalam hati. Berjanji ini yang terakhir kali ia menangisi Senja. Esok lusa ia akan memenuhi pikirannya dengan Bahar.

Senja hanya tersenyum tipis, melihat Pelanginya di bawa pergi orang, tak mampu ia melakukan apa- apa. Ia ingat Pelangi pernah bertanya, kenapa Senja begitu menyukai hujan. Karena setelah hujan ia dapat melihat pelangi itu jawabnya.  Namun ia sadar, kini pelanginya tak akan tergurat di langit Senja.

***

Anggi a.k.a Hana

Kelahiran Jakarta, 15 Agustus 1993. Anak kedua dari empat bersaudara. Sejak dulu hobi membaca novel dan komik. Salah satu buku favorit adalah Karya Dazai Osamu yang berjudul No Longer Human. Mimpi ingin jadi penulis. Menghidupi dunia imajinasi dan menyentuh hati orang lain di luar sana dengan menulis. 





0 comments:

Post a Comment