Wednesday, 12 April 2017

Peluru Nyasar

Kebersamaan dengan anak-anak SD mengajakku untuk kembali mengumpulkan puzzle-puzzle masa silam yang luntur tergerus tahun-tahun. Aku masih ingat betul saat-saat aku dan teman-temanku bermain perang-perangan. Perang-perangan ini berdasarkan kesamaan senjata. Macam-macam bahan bisa kami imajinasikan sebagai senjata ampuh untuk ‘mematikan’ lawan, misalnya saja; pistol air, peletokan, pelepah pisang, hingga tanah liat yang masih basah. 

freedomthink.wordpress.com
Siang ini aku mengajak anak-anak kelas VI untuk bermain ‘Kapal Perang’. Saat mereka mendengar kata ‘perang’, ada anak yang langsung bertanya,
“Amunisinya mana, kak?” 
“Kita perang beneran, kak?” tanya seorang anak lain sambil meremas-remas kertas. Anak yang terakhir ini memang agak badung. Badannya gempal dan bajunya selalu dikeluarkan. Guru-guru pun sampai gerah untuk mengingatkannya
“Nanti kalau perang beneran, terus kamu mati, gimana?” tanyaku gantian.
Nggak apa-apa, kak” 
“Kamu serius udah siap mati, nanti orangtua kamu sedih, lagi?”
Nggak kak, nggak apa-apa”
“Yakin nih, orangtua kamu nggak apa-apa kalau kamu mati?”
“Kak, orangtua aku itu juga udah nggak ada. Jadi kalau aku mati pun justru bisa ketemu lagi”

Tenggorokanku tersendat. Hati tersayat dan tatapanku kosong. Tampaknya aku telah membongkar habis puzzle kehidupan seorang anak. Kini ia perlu menyusun ulang dari nol. Entah bagaimana, tapi akulah tokoh antagonisnya. Kehadiranku justru memberi luka untuk orang lain.
“Kok diem, kak?” giliran ia menanyaiku.
Nggak kok, kakak lagi mikir untuk mulai gamesnya. Sekarang kamu masuk kelompok kamu di sana dulu, ya?” Jawabnya dengan acungan jempol. Melihat respon itu aku hanya melempar segaris senyum dan geleng-geleng kepala. 

Pertama-tama, aku perlu menyampaikan cara bermainnya. Perang ini hanya dilakukan dengan mulut. Pelurunya keluar dari setiap mulut awak kapal. Setiap kelompok terdiri atas empat awak kapal. Awak kapal pertama bertugas sebagai penerima pesan peperangan. Setelah nama kapalnya disebut, ia harus segera mengatakan, “BERSEDIA!” Pesan berlanjut pada awak kapal kedua. Awak ini bergerak setelah mendapat pesan dari awak sebelumnya. Ia harus mengatakan “SIAP!”. Kemudian, awak ketiga bertugas untuk meneruskan pesan dengan aba-aba menembak, “TEMBAK!”. Orang terakhir adalah eksekutor untuk mengarahkan peluru ke kapal musuh. Dengan tegas ia lantangkan, “DOR KAPAL x !” Kemudian alur yang sama berlanjut ke kapal yang ditembak. Sebenarnya di sini bukanlah mulut yang dilatih, namun konsentrasi dan kerjasama antara awak kapal yang perlu dibiasakan. Mereka pun perlu berkonsentrasi dan bekerjasama agar kapalnya tetap berlayar.

Setelah kujelaskan cara mainnya pada kapten-kapten kapal, lahirlah kesepakatan bahwa nama-nama kapal yang diangkat wajib berasal dari nama-nama kue. Tidak lama setelah mereka berdiskusi dengan masing-masing awak, terkumpullah enam nama-nama kapal perang. Di antaranya adalah Kapal Cucur, Kapal Bolu, Kapal Pancong, Kapal Lapis, Kapal Onde, dan Kapal Gemblong.

Pertandingan dimulai. Suasana tegang mulai tampak. Kapal Onde harus tenggelam lebih dulu karena awaknya menembak kapal sendiri. Kemudian Kapal Bolu menyusul tenggelam karena si awak pertama loadingnya terlalu lama dalam menerima serangan. Kapal Lapis juga harus tersingkir karena ia menembak kapal yang sudah tenggelam. Tersisa tiga kapal terakhir. Pertarungannya kini cukup lama. Hingga akhirnya Kapal Cucur tenggelam karena terkecoh Kapal Pancong. 

Kini tinggal berdiri dua calon kapal penguasa samudra. Setiap kapal dipersilahkan meracik strategi dan boleh melemparkan yel-yel jika punya. Kapal Pancong ternyata menyimpan sebuah pantun. Sang kapten melangkah maju dan mulai berpantun;
Pergi berlayar ke Kota Makasar
Jauh tak sadar, ternyata hanya di selasar
Biar dibilang kita cuma Kue Pasar
Hati-hati ada peluru nyasar

Sorak sorai langsung mengisi ruang. Beberapa anak berteriak-teriak untuk menuntut pantun dibalas. Awak Kapal Gemblong tampak tak memperhatikan. Mereka tetap asik berdiskusi. Balasannya ternyata tak muncul dengan pantun. Tangan kanan mereka tampak saling disatukan. 
“Kapal Gemblong.....” teriak kapten kapal. 
Para awak pun menyahut, “Serang, Serang, Serang, YES!!!”

Pluit berbunyi. Amunisi, emosi, dan ambisi melingkungi ruang peperangan. Pertempuran berlangsung panas. Kapal Cucur hampir kalah apabila mereka terkecoh peluru nyasar dari Kapal Pancong. Sengitnya pertempuran juga mewabah ke penonton. Mereka serius mengawasi. Tatkala awak Kapal Cucur akan menyerang, mulutnya sudah siap menembak, tangannya terkepal, dan kaki kanannya terangkat ke kursi. 
“TEMBAK KAPAL POCONG, eh…(?) TEMBAK KAPAL PANCANG, eh… (?) TEMBAK KAPAL PANCONG !!!”
Awak Kapal Pancong segera melonjak kegirangan. Nafas penoton yang tertahahankan akhirnya pun terlepas. Saat itu juga ku pandangi sepasang pelangi dari mata seorang anak lelaki. 

Tak ada hadiah yang ku bagikan agar tak melahirkan kecemburuan sosial. Aku hampiri sang kapten Kapal Pancong. Si badung berbadan gempal itu segera mengulurkan tangannya. Bukankah sebenarnya aku yang seharusnya mengucapkan selamat? Ketika tangan kami saling berjabat, tiga patah kata meluncur dari mulutnya. “Terima Kasih, kak”. Anak yang lain terkesiap. Wajah Kapten Kapal Cucur pun tak lagi beringsut. Semut terdiam. Tiba-tiba seorang dari barisan belakang  nyeletuk, “Tumben, lu bilang terima kasih.” Si Gempal hanya menanggapi dengan senyum-senyum salah tingkah. 

Ternyata dalam sekian detik tindakanku, ada banyak hal yang akan mempengaruhi bagaimana puzzle ku dibentuk. Kini aku mengerti bahwa aku tidak hanya menyusun puzzle ku sendiri, namun juga turut ambil bagian dalam perjalanan sesama. Tidak ada cara yang lebih indah untuk mendukung  sesama selain berbagi ceria. Keceriaan itulah yang kelak akan banyak menentukan gradasi puzzle kehidupanku. Dan kerap kali, pelangi itu diukir oleh anak-anak yang banyak mengajariku makna kehidupan.
****
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Antonius Arifin Samosir sebagai pemenang. 

Antonius Arifin Samosir
Kelahiran Jakarta, 8 April 1995. Sedang bersekolah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara yang hobi jalan-jalan dan membaca buku,  

0 comments:

Post a Comment