Tuesday, 4 April 2017

Pencopet yang Apes

Memang banyak sekali kejadian yang tak terduga yang bisa dialami oleh siapa saja dan dimana saja. Termasuk juga yang telah dialami olehku hari ini. Hari yang melelahkan bagiku dan mungkin sedikit menjengkelkan, karena dalam perjalananku menuju ke kota Semarang ada seorang lelaki yang sudah bisa dibilang usia lanjutlah karena memang usianya sudah mendekati 60 tahun namun dari penampilanya tidak sama sekali mencerminkan bahwa ia itu seorang copet karena sangat rapi. Iya dia sempat mengambil dopetku yang berada di dalam tas yang aku pangku namun entah bagaimana bapak itu berhasil mengambilnya tanpa sepengetahuanku. 

tempo.co

Kronologinya itu saat aku naik Bus Santoso yang sudah di oper di Terminal Magelang, berada di kursi sebelah kiri nomor dua dari belakang dan posisinya itu aku sendiri dan itu cukup lama, kemudian bapak tersebut duduk di sebelahku dan memang sudah mencurigakan sih tapi aku tak begitu mepermasalahkannya, aku terus fokus ke luar jendela dan pada ahirnya bapak itu turun di pertigaan Ambarawa dan saat itu juga bapak yang duduk di kursi sebelah memberitahuku bahwa dompet dan hapeku diambil, sontak aku langsung ke pintu belakang dan berteriak meminta dopetku namun tak digubris iya lah namanya juga copet, kemudian banyak suara orang-orang menyuruhku untuk ikut turun dan mengejar copet tersebut kemudian aku berteriak pada sopir bus tersebut untuk berhenti. Aku pun turun dengan terburu-buru karena bus saat itu belum sepenuhnya berhenti namun aku sudah turun.

Setelah turun dari bus aku lalu mengejar orang tersebut yang telah naik angkutan umum, tanpa banyak berpikir aku lalu mengejar salah satu angkutan umum tersebut meskipun ada beberapa akutan umum yang melintas namun aku yakin sajalah menghentikan salah satu angkot yang melintas, kemudian benar saat aku lihat ternyata bapak itu berada di dalam angkot tersebut dan dengan santainya sedang membuka dopetku kemudian tanpa merasa takut atau apapun aku  segera merebut dompetku dan tanyakan hape ku namun ia bilang ada dan memang benar hape ku masih di dalam tas. 

Dengan kebetulan angkot tadi berhenti di dekat pos polisi lalu lintas, karena dompetku sudah kembali aku memang tidak berniat untuk melaporkan bapak itu kepada polisi, namun aku hanya ingin bertanya kepada pak polisi yang ada bagaimana caranya aku melanjutkan perjalananku ke Ungaran. Tapi karena aku bilang baru saja kecopetan, Pak Polisi tersebut menanyakan orangnya ya aku beritahu bahwa ia ada di dalam angkot yang saat itu sudah pergi namun belum begitu jauh. Kemudian Pak Polisi itu segera mengejar dan kembali dengan bapak yang tadi kemudian berencana untuk mambawanya ke Polsek setempat dan mau tak mau aku harus ikut sebagai korban dan saksi.

Setelah tiba di Polsek dengan barang bawaanku yang cukup banyak aku lumayan malu juga, tapi ya sudahlah bilang saja aku habis dari kampung. Kemudian banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh bapak-bapak polisi yang ada di sana, dan aku lumayan cukup malu saat isi dompetku di buka dan dihitung isinya karena memang jumlah uang yang aku bawa tidak banyak hanya Rp.131.000. Namun, ada beberapa yang penting seperti KTP, Kartu Mahasiswa dan Atm yang sangat ribet apabila harus mengurusnya kembali. Dan aku harus memberikan keterangan dan segala bentuknya. Itulah yang belum pernah aku lakukan sebelumnya bahkan aku belum pernah datang ke Kantor Polisi seperti itu.

Dan aku merasa hebat saat itu karena aku mengurus segalanya sendiri tanpa meminta bantuan siapapun bahkan aku belum mengabari orang rumah, kenapa? Karena apabila aku mengabari pasti orang rumah khawatir dan aku tak ingin itu. Pemberian keterangan itu berlangsung cukup lama dan sudah mengubah semua rencana awalku.
  
Kejadian ini memberikan banyak pelajaran bagiku, tapi yang tak habis pikir olehku adalah kenapa orang yang lihat dompetku diambil baru ngasih tahu setelah pencopetnya itu turun dari bus. Orang - orang yang ada di bus tak ada satupun yang turun membantuku mengejar copet itu dan menyuruhku mengejar sendiri. Disaat itulah aku merasa bahwa aku adalah wanita super yang tak mempunyai rasa takut. Selain itu aku juga wanita yang baik hati karena setelah aku merebut dopetku dari tangan pencuri dan tak berniat sama-sekali untuk melaporkannya kepada Polisi, aku membiarkannya pergi begitu saja dan mungkin pencopet itu lagi apes memang yah, tak disangka ketika hanya ingin tanya jalan menuju kampusku kepada seorang Polisi Lalu-Lintas yang berada di dekat tempat kejadian ahirnya Polisi itu mengetahui bahwa aku habis kecopetan dan dikejarlah pencopet itu.  

Memang nasib baik masih bersamaku dan keapesan hari itu untuk si pencopet.

***
Tulisan ini ikut Arisan Godok Bulan April. Silahkan dibagikan jika menyukai Oktafia Retnoasih sebagai pemenang.

Oktafia Retnoasih

Lahir di Kota Kebumen 11 Oktober 1996. Sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Negeri Semarang semester 4. Berharap disegerakan selesai kuliah untuk menempuh cita - cita mulia menjadi seorang Guru. 

0 comments:

Post a Comment