Monday, 10 April 2017

Penerapan Ilmu Kanuragan Pendekar Dalam Dunia Persilatan Kota Padang; Bertarung Lewat Tulisan

Judul dari tulisan ini bukanlah sebuah kajian ilmiah. Sebelum membaca sampai kebawah. Perlu penulis tekankan, bahwa jangan pernah mengutip kalimat dalam tulisan ini. untuk makalah, skripsi, ataupun jurnal ilmiah. Tidak pernah ada riset dalam penulisan ini, dan penulis tidak benar-benar tahu apa yang sedang penulis tulis. Sekedar pemberitahuan, tidak ada acara mabuk-mabukan saat tulisan ini tercipta.

ceritamedan.com
Jikalau tidak menemukan korelasi antara judul dengan isi, jangan marah. Penulisan ini hanya untuk keren-kerenan. Siapa tahu dengan membaca judulnya yang canggih, banyak orang tertarik membaca tulisan ini. Jika saudara merasa tertipu, jangan pernah marah. Penulis tidak bermaksud menipu. Semoga akan senantiasa muncul orang-orang luar biasa, entah itu karena memang brilian otaknya, ataupun karena tekun belajar yang mampu melahirkan tulisan-tulisan yang hebat.   

Kota Padang diserbu puluhan ribu anak-anak muda yang menuntut ilmu. Puluhan perguruan tinggi pun banyak tersedia. Tinggal pilih mau belajar apa. Ada yang mau jadi dokter, ada sekolahnya. Ada yang mau jadi pengusaha, belajar ekonomi, ada yang mau jadi guru, juga ada tempatnya. Hampir semuanya ada, yang tidak ada hanya kalau kamu mau jadi insinyur nuklir, ayo merantau ke Jawa. Disana ada, disini tidak ada. Begitu juga belajar perminyakan, juga tidak ada. Kriminologi juga tidak ada. Begitu juga filsafat.

Apabila ingin belajar menulis, rajin-rajin saat sekolah dasar. Sudah tamat SMA tidak bisa menulis, berarti ada yang salah dengan cara belajar saat memakai seragam putih merah. Itu guyonan garing, tidak lucu. Sudahlah kita tidak akan banyak membahas tentang menulis, dan membaca. Biarlah para guru-guru di SD yang mengajarkannya.

Dunia persilatan Kota Padang, harus kita akui belumlah semeriah dunia persilatan di Pulau Seberang. Di sana, sebuah kota yang sebut dalam buku saya yang berjudul “Kita Tertawa” sebagai “Ibukota Kebudayaan jawa” itu duel-duel terselubung terjadi sampai di sudut-sudut kota. Aura berbagai kedai kopi dipenuhi cakra merah, kuning, hijau, dan abu-abu. Dan tentu saja, hanya para pendekar yang bisa melihat aura cakra tersebut. 

Jangan disangka di Padang tidak ada pendekar. Di zaman yang katanya serba sulit sekarang, masihlah ada beberapa puluh –jika tidak bisa dikatakan beberapa ratus, mereka yang belajar ilmu kanuragan dan menggunakannya untuk membasmi kejahatan. Pertempuran setan malaikat adalah abadi semenjak awal penciptaan dunia sampai kehancurannya suatu saat nanti. Ada hitam dan ada putih, ada baik ada jahat. Seperti itulah hukumnya. 

Dalam pergumulan dunia persilatan pun terbagi dalam berbagai aksi –setidaknya seperti itulah yang bisa dirasakan di permukaanya. Ada yang bergerak, dan ada berfikir, lalu ada yang berbicara, sehingga satu dua orang mendapat nama. Bukankah ini bisa kita pakai teori struktural dan fungsional yang terkenal itu untuk menganalisisnya? Bagi yang paham pasti akan mendebatnya, ayo kita diskusikan. Bagi yang tidak paham jangan tanyakan kepada penulis, karena penulis juga tidak paham. Mengapa penulis merasa perlu untuk memakai teori ini adalah karena pertimbangan komersial. Penulis merasa akan dianggap sebagai seorang intelek oleh pembaca yang budiman dengan berbicara dengan teori, sebagai pisau pembedah berbagai fenomena.  

Seorang guru silat pernah berkata, bertarung saat ini sudah tidak efisien lagi. Saat kimia telah merasuki tubuh, kita tidak akan lagi berpanas-panasan, dan terlalu lelah. Belum lagi haus dan lapar, itu akan membuat kita lupa akan mantra-mantra yang digunakan untuk sihir. Terlebih bertarung membela kejahatan, paling tidaknya sering membuat jalan macet. Dan beberapa fasilitas umum rusak. Ini sudah mulai tidak benar.

Maka guru yang telah uzur itu menganjurkan untuk menulis. Kegiatan ini lebih efisien, sebuah tulisan yang membela kebenaran dapat tercipta di sebuah kafe. Diperlukan satu buah perangkat untuk mengetik. Sambil menghisap berbatang-batang kretek, ayo kita pesan segelas es teh, dan sepiring kentang goreng. Nikmati akses wi-fi, tanyakan kepada pramusaji apa password-nya. Tidak lupa satu atau dua postingan di media sosial. Kebenaran diperjuangkan dari sudut remang-remang sebuah kafe. Apa itu ada permasalahan? Tidak, karena kita berbicara hal-hal yang substantif. Kita berjuang, kita melawan, kita bersenang-senang. Walaupun kita kalah, kita mendapatkan pelajaran, dan yang penting kita bersenang-senang. Jangan lupa bahagia!

Terakhir sebagai penutup, ada yang kurang seandainya tidak kita kutip sebuah kata-kata bijak dari orang besar. Dari situs goodreads.com dapat ditemukan seorang Seno Gumira ajidarma menulis “Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.”
Mari menulis, ayo bersenang-senang, dan lawan!
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Haldi Patra sebagai pemenang.

H.

Memilih menggunakan nama pena (H). Agar lebih sederhana dan terlihat keren. Penganut aliran mainstream entah penyair, entah pujangga ataupun praktisi plagiatisme yang masih menolak untuk kreatif dan melihat dunia luar. Penulis buku Kita Tertawa yang hanya dicetak sebanyak 25 eksemplar, dan stok masih tertawa.




0 comments:

Post a Comment