Saturday, 8 April 2017

Pengkhianatan Sebuah Rindu

Malam ini sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya, hanya sepi yang kurasa. Aku sendiri tak tahu mengapa merasakan ini, mungkin hadirmu sudah tak ada. Cukup bintang yang setia menemaniku saat ini. Walau kutahu bahwa bintang tak mudah untuk kugapai karna hanya setitik kecil di kegelapan dan begitu jauh untuk kutemui karena hanya bersinar di gelap malam. Menurutku kau sama saja seperti bintang yang terlihat namun tak bisa untuk ku jumpai. Sudah seminggu ini, tak ada satu pun notif dari kamu. Apa kamu sibuk? Atau kamu lupa? Aku berharap kamu kayak gini bukan karena dia.

pinterest.com
"Haii Tembem"
"Haii Brian"
"Lagi apa, Clar? Hayu kita hangout"
"Biasalah, hayu kapan? Kangen hangout bareng juga hehe"
Sayangnya semua itu hanya mimpi yang tak akan terwujud kembali. Sejujurnya aku sangat rindu masa-masa itu, tapi sekarang kamu sudah terlalu sibuk dengan urusanmu sampai kau lupa dengan ku disini.

"Cepat Clar, kita sudah telat nih. Jam pelajaran pertama Buk Saskia, kalau telat kita bisa di hukum"
"Iya Bunga tunggu" (lari mengejar Bunga yang sudah lebih dulu menuju kelas). Jam istirahat kuputuskan untuk pergi ke perpustakan, karena hari ini aku marasa tidak nafsu makan. Aku mengambil beberapa buku untukku baca.

"Clar, pipi kamu tembem banget sih, gemes tau" (mencubit pipi Clara lalu pergi)
"Aww, Brian!!!! Sakit tau. Awas yaa, aku bales" (mengejar Brian)
"Ayo kejar kalo bisa" (menjulurkan lidah)
"Aww..... Kaki aku sakit nih Brian" 
"Clar, kenapa? Mana yang sakit?"
"(Mencubit pipi Brian lalu pergi) Yeehh.... aku berhasil” (menjulurkan lidah).
Triingg...triingg....triingg.

Astagfirullah, nyatanya hanya lamunanku saja. Kejadian itu sudah lama sekali tak pernah aku rasakan. Namun masih terekam jelas di memoriku. Kebersamaan kita yang tak akan pernah aku lupakan. Ku ingin kau menemaniku di sepanjang waktu, membuat cerita bersama di hari-hariku, namun ku tau kau hanya datang di waktu tertentu tapi ku akan menunggumu setiap waktu. Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, segera ku bergegas memasuki kelas.
***
Ku hempaskan tubuhku ke kasur, karna hari ini aku merasa sangat lelah.
Dreett....dreettt....dreett
"Aduh siapa sih yang nelpon" (mengomel dalam hati)
"Hallo Clara....."
”(Clara tersontak kaget) ka...ka...kamu?Brian?"
"Iya Clara sayang".

Aku masih tak percaya dengan apa yang sedang aku alami. Benarkah itu dia? Orang yang selama ini kutunggu kabarnya dan orang yang sangat aku rindukan. Dan sekarang aku bisa mendengar kembali suaranya. Sungguh aku tidak tau harus bagaimana, rasanya aneh. Aku kembali melihat layar ponselku untuk memastikan benarkah dia yang menelponku? Atau itu hanya mimpi? Nyatanya benar bahwa itu Brian dan ini bukan mimpi. 

"Hallo...Clara.....Clara"
"Ehh, iya ada apa Brian?"
"Kenapa sih kamu Clar?
"Engga, cuman masih engga percaya aja kalau kamu beneran nelpon aku hehe"
"Haha, aneh-aneh aja kamu Clar,,, ini beneran aku. Gimana kabarnya sayang?"
"Alhamdulilah baik, kamu gimana kabarnya? Btw, kamu lagi engga sibuk ya?"
"Alhamdulilah baik juga, engga kok aku lagi santai. Gimana kuliahnya disana?"

Kucurahkan semua isi hatiku kepadanya. Dan kami pun saling bercerita untuk melepas rasa rindu diantara kita. Tanpa ku sadari perlahan demi perlahan suara itu pun mulai hilang dengan berjalannya waktu. Sebenarnya itu tidak cukup untuk mengobati rasa rinduku. Tapi itu pun sudah membuatku bahagia. Walau kau hanya setitik kecil di langit malam tapi ku melihatmu sebesar bulan, sampai ku rindu akan senyuman yang biasanya ku lihat tiap malam.

"Clar, kita hangout yuk? Mumpung weekend"
"Hmm.... hayu deh Bunga, lagi bosen di rumah juga nih"
"Oke, kita janjian di cafe tempat biasa ya?"
"Oke"
Sebenarnya aku malas untuk keluar hari ini. Habisnya kepikiran Brian mulu yang tak ada kabarnya akhir-akhir ini. Lebih baik aku refreshing, kali aja kan aku bisa lupa dengan masalah itu.

"Clar, kamu mau mesen apa?"
"Hmm.... orange jus aja deh Bunga"
"Oke"
Pandanganku tertuju kepada seseorang yang tepat berada di seberangku. Dia? Apa benar itu dia? Kenapa dia sama perempuan? kenapa dia tidak memberiku kabar kalau akan ke Bandung? Mungkin itu hanya orang yang mirip saja. Tapi, aku masih penasaran dengan pria itu, perlahan ku langkahkan kakiku menuju pria di sebrang sana. Dan ternyata.........

"Brian? Kok kamu disini? Sama...... siapa dia?"
"E.....e....ehh Clara, dia? Teman aku kok Clar"
"Teman? Kok keliatannya kayak bukan teman ya?"
"Maksud kamu apa Brian!!! Kita udah pacaran dari sebulan lalu, tapi kamu masih menganggap aku teman?"
"Apa? Dia pacar kamu? Jadi selama ini kamu ngeduain aku?"
"Bu......bu.......bukan gitu Clar"
"Udah!!! Udah!!!! Cukup Brian, selama ini aku setia menunggu kamu disini, tapi apa kenyataannya? Kamu bersenang-senang dengan perempuan lain disana." (lari meninggalkan cafe).
"Clara tunggu....." (mengejar Clara).

Aku termenung di taman dekat cafe dengan hati yang sudah rapuh, saat ini aku tidak bisa berfikir jernih. Aku tak tau harus berbuat apa, hanya menangis. Padahal dengan setianya aku menunggu kamu disini, tapi apa balasan dari penantianku selama ini (menangis tersedu-sedu).

"Clar....Claraa, bangun Clar"
"Astagfirullah, ternyata hanya mimpi" (mengusap wajah dengan kedua tangan)
"Kamu kenapa Clar? Kok bisa ketiduran disini?
"Hmm..... ga tau juga nih, kayaknya semalem aku kurang tidur deh Bunga"
"Ya udah, tuh minum dulu jusnya"
"Hmm... iya"
Sampai detik ini aku masih kepikiran tentang mimpi itu. Kelihatannya seperti nyata, tapi syukurlah itu hanya sebuah mimpi. Aku tau, menunggu tidak semudah yang ku bayangkan tapi menahan rindu itu jauh lebih menyakitkan. Bukan hanya untuk di persatukan tapi berharap untuk di pertemukan.

Pikiran negatif mulai menghantuiku, tapi segera ku tepis karena aku tidak mau menuduh dia yang macam-macam. Mungkin dia sibuk, kalau ada waktu pasti ngabarin kamu kok Clara. Aku mencoba menghibur diriku sendiri walau sudah 1 bulan ini tidak mendengar kabarnya. 

Aku tak tau harus menghibur diriku bagaimana lagi, saat ini aku sangat merindukannya. Sudah banyak teman-temanku yang berbicara negatif tentangnya, tapi aku berusaha berfikir positif walau tidak jarang aku pun terpengaruh oleh obrolan mereka.

Untuk menghilangkan rasa risau ku ini, aku memilih untuk membuka Instagram mungkin dengan begini aku dapat melupakannya walau hanya sementara. Tidak sengaja aku melihat dia mengupload sebuah foto. Tapi tunggu, kenapa dia berfoto berdua dengan perempuan? Apa perempuan itu…. Ahh sudahlah mungkin hanya teman satu kampusnya saja. 

Hari ini aku sangat bosan di rumah, orang tua ku pergi bekerja dan hanya aku sendiri di rumah. Apa aku ajak bunga ke mall saja? Ide bagus, lagian hari ini tidak ada jadwal kuliah. Aku segera meng-whatsapp bunga dan pergi bersiap-siap.
“Clar, kita ngapain sih ke mall?”
“Aku bosen di rumah, jadi aku ajak kamu ke sini aja supaya aku ada teman hehehe”
“oke…. Baiklah sahabatku termanja”

Aku dan Bunga mulai menjelajahi semua isi mall, mulai dari ujung sampai ujung lagi. Mulai dari baju, tas, sepatu, dan aksesoris.
“Clar, tunggu deh”
“Ada apa sih Bunga? Kan kita belum mendapatkan tas yang kita inginkan”
“Aku lihat Brian disini, tapi kok dia sama perempuan sih Clar?”
Ahh tidak mungkin, hanya orang mirip deh kayaknya”
“Tidak, aku tidak mungkin salah lihat. Coba kamu lihat ke sana deh Clar”
“Mana? Mana sih Bunga?”
“Itu yang pake jaket coklat yang sama perempuan bergandengan tangan”.

Aku mencari-cari orang yang kata Bunga itu adalah Brian, padahal Brian ada di Jakarta. Aku mengucek-ngucek mataku, apa benar itu Brian? Kalau orang yang mirip tidak mungkin semirip itu. Aku berjalan menghampiri pria itu tanpa memperdulikan Bunga. Aku lihat pria itu dari atas sampai bawah, aku yakin itu Brian dan perempuan itu? Perempuan yang berfoto bersama Brian yang aku lihat di Instagram waktu itu.

“Brian?”
“(menengok ke belakang) Clara?”
“Kamu ada di Bandung?”
“I…i..iya”
“Siapa dia sayang?”(perempuan itu berbisik kepada Brian)
“Apa kamu bilang tadi? Sayang?”
“Iya sayang, kan Brian ini pacar aku. Emangnya kamu siapa nya Brian?”.

Aku kaget dengan semua kenyataan ini, ku cubit pipi ku sendiri. Aww…. Nyatanya ini bukan mimpi. Aku tak tau harus berbuat apa, rasanya seperti gelas yang jatuh dan pecah berkeping-keping.

“Brian!!! Apa maksud dari semua ini? Jawab Brian jawab!!!” (memukuli Brian dan menangis sejadi-jadinya dengan penuh emosi)
“Sabar Clar….. sabar. Aku bakal jelasin semua”
“Sabar kata kamu? Sabar kayak gimana lagi? Selama ini aku udah sabar nungguin kamu, tapi apa balasan yang aku dapat? Hah?” 

Aku masih tidak bisa menerima kenyataan ini, ku terpatung kaku di sebuah taman dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipiku. Tanpa ku sadari Bunga ada di sampingku dan memelukku dengan tujuan untuk menenangkan ku. Aku beruntung memiliki sahabat seperti dia yang selalu ada. Dan di saat seperti ini dia dengan setia menemaniku. Dia pasti mengerti bagaimana perasaan aku saat ini. Hancur, remuk, rapuh, marah, semua ada di dalam diriku. Ternyata di sini juga ada Brian dan perempuan itu. Bunga sengaja membawa mereka supaya masalah ini cepat teratasi dan tidak ada kesalah pahaman lagi. Terpaksa aku harus menyetujui rencana Bunga walau aku sudah muak dengan Brian.

“Clar….. aku mau jelasin semuanya”
“Mau jelasin apa lagi? Masih kurang puas kamu buat aku kayak gini?”
“Bukan gitu Clar. Makannya kasih aku kesempatan dulu untuk ngejelasin  semuanya”
“Oke…oke”.

Brian menjelaskan semuanya, dan aku hanya bisa menangis menahan rasa sakit yang sedang aku alami. Perempuan itu juga meminta maaf karena dia tidak tahu kalau Brian memiliki pacar. Aku berusaha bersikap dewasa dalam mengatasi masalah ini, walau kalian tahu sendiri bahwa tidak mudah mengobati hati yang sudah terluka hingga berkeping-keping. Tapi aku mencoba menerima semua ini, menurutku emang harus seperti ini jalannya. Aku mencoba untuk memaafkan Brian dan perempuan itu dan menjadikan mereka sebagai teman.

Luka boleh saja menyelimutiku saat ini tapi kebahagian perlahan demi perlahan mendatangiku. Tidak perlu mengingat kembali simfoni hitam di masa lalu yang tidak berjalan manis seperti kenyataanya. Dan tidak perlu berharap kisah cinta yang sejati seperti dongeng Romeo & Juliet.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Firianti Kurniawati sebagai pemenang.

Fitrianti Kurniawati

Bersekolah di SMK Budhi Cendekia Bandung Kelas XI. Kelahiran Bandung, 29 Mei 2000. 
"Tak perlu takut untuk berkarya, jika dengan berkarya kita bisa sukses. Tak perlu malu jika dicibir seorang penulis, karena pengalaman seorang penulis lebih banyak daripada yang mencibir. Menulis adalah sebuah mimpi yang dituangkan dalam aksara dan berguna bagi pembaca. Karena menulis adalah hobi yang dapat membuahkan hasil, namun bukan hasil yang sebenarnya di cari tapi karya yang dapat disukai."






0 comments:

Post a Comment