Sunday, 16 April 2017

Perjalanan Kendari-Raha

Kapal, satu hal yang menjadi perhatian adalah ukurannya. Bisa muat ratusan orang, berlabuh membela lautan, melintasi pulau-pulau kecil tak berpenghuni, memperlihatkan deretan rumah-rumah sederhana berdiri tegas di sekitar bibir pantai. Mengagumkan, ingin segera masuk ke dalamnya  dan merasakan keindahan perjalanan nanti.


Namun saat masuk, pembatas-pembatas ruangan dan gerombolan manusia yang terlihat tergesa-gesa membuatku agak sedikit cemas jika tersenggol, tertabrak, atau terjatuh. Indera penglihatan dan pendengaran harus  sigap jika ada juru panggul (tukang pikul) datang tiba-tiba dari segala arah. Dengan saraf penciuman sensitif yang bersarang di hidung, bau yang dipersembahkan membuatku sedikit agak merasa risih. Bau khas kapal,  parfum, keringat, makanan, barang bawaan, semua menyatu menawarkan rasa mual yang mau tidak mau harus segera disingkirkan. Segera kutahan nafasku, tidak lama. Menutup hidung dan mulut dengan telapak tangan adalah alternatif pilihan satu-satunya.

“ Masker,” gumamku

Suara teriakkan pedagang asongan dan suara berisik dari penumpang yang mencari teman, tempat duduk, dan mungkin mencari barang bawaan yang nyaris terpisah dari tuannya membuat penumpang lain harus ekstra mengeluarkan suara keras jika ingin bertanya pada ABK tentang keberadaan kursi sesuai nomor tertulis rapi dalam tiket. Antre? itu harusnya dilakukan. Harusnya kita membiasakan diri dengan budaya mengantri. Tapi melihat kenyataan yang ada, semuanya saling menyerobot.  Bahkan menurutku, disitulah hukum rimba berlaku, siapa suaranya paling dominan dialah yang paling cepat duduk beristirahat di dalam.

Berpikir sejenak, seharusnya kita tidak perlu berdesak-desakkan masuk ke dalam kapal. Karena bagaimanapun nomor kursi telah tersedia di tiket dan tidak perlu sampai ada perasaan takut tidak memiliki tempat duduk jika masuk paling akhir. Kecuali bagi mereka yang tidak memiliki tiket. Benarkan? Mereka harus berusaha mencari tempat strategis untuk bisa beristirahat dalam perjalanan.

Tapi itulah, kebiasaan mengekor, tidak ada keberanian untuk jalan sendiri atau mungkin ada rasa takut jika kursi tempat duduk yang seharusnya menjadi hak dari yang punya tiket diambil orang lain, apalagi jika harus berhadapan dengan emak-emak yang tidak memiliki tiket. Akan ada cap kurang sopan menempel di jidat selama perjalanan.

**

Duduk menunggu selama 15 – 20 menit sebelum keberangkatan sebenarnya sangat membosankan apalagi tanpa smartphone di tangan dan teman cerita, lengkap sudah syarat mencapai kesendirian di tengah keramaian. Keputusan singkat–nikmati apa yang ada dengan  keberuntungan ditangan–mendapat  tempat duduk pas di samping jendela.

Penjual asongan di kapal ini seperti memiliki banyak ilmu untuk membuat  para penumpang  terhibur. Berbagai plesetan dan lawakan dipersembahkan gratis. Walau secara tehknik sederhana tapi cukuplah untuk mengusir kebosanan khususnya untukku–hari ini.

Seperti ucapan ibu penjual  makanan saat dengan semangat meneriakkan dagangannya “lemper, gogos, nasi bungkus” tiba-tiba penjual lain memplesetkannya   “lempar gogos, lempar gogos, gratis, gratis,” sambil tertawa.
 
Tapi sepertinya telinganya sudah kebal dengan plesetan itu, dia tetap jalan menawarkan dagangannya. Tapi untukku–cukup terhibur.

Lain lagi dengan bapak penjual pulsa. Merasa lelah dengan teriakkannya yang tidak menghasilkan respon dari penumpang. Dia pun merubah trik penjualannya. Jadilah “pulsa, pulsa, pulsa rasa jeruk, pulsa rasa mangga,” penumpang yang mendengarnya sedikit terkejut oleh celotehan itu. Hasilnya tawa menggema dalam dek.

Karena masih belum ada penumpang yang berniat membelinya maka jadilah lawakan baru. Dengan dialek Muna yang kental “ko morang ( kalian ) ini ee, dari tadi se bataria (berteriak) tidak ada yang beli. Capekku mi, kalau ko morang tidak mau beli se pulang saja ini,” dengan wajah penuh belas kasihan di pintu depan ruang penumpang.

Tentu saja balasannya hanya sebentuk gelak tawa dari para penumpang. Dan salah satu penumpang membalas ucapannya “pulang saja kone om, semua hp- disini sudah penuh dengan pulsa”
“Kasihanku juga ee, se tidak mau menjual disini lagi pale. Nanti kalau ko morang butuh pulsa ko morang susah sendiri itu,” balasnya sambil tersenyum dan berbalik ke dek lain.

**

Hal yang paling menarik untukku dari kapal adalah saat mulai berlabuh. Suguhan pemandangan cantik dari balik kaca jendela membuat waktu kurang lebih empat jam tanpa aktivitas apapun tidak membosankan. Tidur? Bukan pilihanku.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Rahma sebagai pemenang. 

Rahma
 
Lahir, besar dan tinggal di kota Raha. Berusaha menjadikan membaca dan menulis sebagai hobi.

0 comments:

Post a Comment