Tuesday, 4 April 2017

Perpisahan: Nyata Adanya

Ada orang yang suka dengan yang namanya perpisahan dan ada juga orang yang tidak suka dengan yang namanya perpisahan. Ya, begitulah kehidupan. Ada pertemuan dan perpisahan. 
rimadani.doc

Setiap manusia di dunia ini pasti dan bakal merasakan apa yang dinamakan dengan “perpisahan”. Tetapi tidak semua perpisahan akan menjanjikan akan adanya pertemuan semula sesudah perpisahan tersebut.

Karena perpisahan itu nyata adanya. Tidak ada pertemuan yang tidak d iakhiri dengan perpisahan dan setiap perpisahan mungkin mengalirkan air mata.

Perpisahan bisa membuat kita sedih hingga nangis yang tak kunjung reda, namun ada juga yang sebaliknya. Ada yang menantikan hadirnya perpisahan dan ada juga yang menghindarkan yang nama nya perpisahan.

Ketika seseorang tidak menyukai orang lain maka seorang tersebut pasti akan menantikan adanya suatu perpisahan. Kenapa begitu? Iya, karena ini disebabkan oleh ketidaksukaan yang membuat orang tersebut tidak suka berlama-lama berdekatan dengan orang tersebut. Lebih tepatnya karena tidak ada nya hubungan emosional yang baik. 

Sejauh manapun kita menghindari yang nama nya perpisahan. Perpisahan pasti akan tiba juga. Entah lewat takdir, maut atau apapun. Intinya jika telah bertemu maka siap-siaplah tuk berpisah. 

Perpisahan bukan sekedar berpisah. Karena perpisahan mengandung arti yang bermakna dalam kehidupan. Di dalam perpisahan ada suatu kenangan yang bisa dikenang namun tidak boleh larut dalam kenangan. 

Kita hidup tuk masa depan bukan di masa lalu. Kenangan tidak dapat dilupakan, karna posisi kenangan melibatkan perasaan dan pikiran.

Perpisahan banyak macam nya. 

Ada yang berpisah dengan pasangan nya karena putus cinta.

Ada yang berpisah dengan orang tua nya karena ingin merantau, dan ada pula yang berpisah sama orang-orang yang disayangi nya karena ajal yang telah menjemput.

Kalian telah merasakan yang mana?

Berpisah dengan pasangan? Atau berpisah sama orang tua? Atau bahkan berpisah selamanya dengan orang yang tersayang?

Lebih sakitan mana coba? Berpisah dengan pasangan atau berpisah sama orang tua karena merantau? 

Ada sebagian yang menjawab sakitan berpisah dengan pasangan dan ada juga yang menjawab sakitan pisah sama orang tua karena merantau. Yaa, tergantung pribadi nya masing-masing. Semua jawaban tentu ada sebuah alasan dan alasan tersebut kita lah yang lebih mengertahuinya. 

Lalu bagaimana dengan berpisah selama-lamanya dengan orang yang tersayang? 

Hhmm, pasti dan tidak ada yang tidak mungkin, ada yang mengharapkan dan ada juga yang sama sekali tidak mengharapkan nya. Menurut saya sendiri inilah perpisahan yang paling paling menyakitkan dari perpisahan-perpisahan yang lainnya. 

Aku, kamu, dia dan mereka pasti telah merasakan apa yang dinamakan dengan perpisahan. Perpisahan yang paling menyedihkan ialah berpisah tuk selama-lama nya dengan orang yang kita sayangi. Seperti yang telah aku lalui. Aku telah melalui perpisahan yang amat sangat menyakitkan. 

Tepat pada usia lebih kurang 6 tahun aku telah merasakan perpisahan yang sangat tidak aku harapkan dan yang tidak paling aku inginkan secepat itu terjadi. 

Aku yang dulu masih duduk dibangku SD kelas 2 telah merasakan hal tersebut begitu pun dengan kakakku yang masih duduk dibangku SD kelas 3 dan juga adikku yang baru 4 bulan lahir, betapa sedih nya aku pada saat itu, dan begitu pula dengan ibu, kakak dan adik serta keluarga-keluarga ku, mereka semua bersedih dan tak heran lagi dengan meneteskan butiran-butiran air mata. 

Aku sempat tidak percaya itu semua terjadi tapi itu nyata adanya. Subuh 12 Desember 2003 ayah ku menghembuskan nafas terakhirnya di salah satu rumah sakit di Kota Palembang. Pada saat itu aku sangat sedih sekali karena bisa dibilang akulah yang paling dekat dengan ayah. Banyak kenangan-kenangan yang sulit tuk dilupakan pada saat itu. Tak henti air mata terus berjatuhan membasahi pipiku, tapi aku harus ikhlas dan tabah dalam menjalani kehidupan yang selanjutnya. Meski sulit tuk dilalui tapi kami semua melangkah demi langkah sampai kami bisa berdiri tegak kembali.  

Perpisahan mengajarkan kita bahwa tidak selamanya kita mesti bersama-sama. Ini sudah takdir dan harus dijalani dengan lapang dada. Karena inilah suratan takdir yang telah dituliskan dan inilah yang terbaik. Allah paham dengan kita pada saat ini, Allah juga mengerti dengan apa yang kita rasakan dan Allah tahu mana yang terbaik untuk kita. Terus lah berprasangka baik kepada Allah karena Allah maha mengetahui.

Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.” (HR. Bukhari no.660 dan Muslim no.1031)

***
Tulisan ini ikut Arisan Godok Bulan April. Silahkan dibagikan jika menyukai Rimadani sebagai pemenang.

Rimadani

Panggil saja Rima.

0 comments:

Post a Comment