Sunday, 23 April 2017

Persoalan Si Mata Sipit

Jika semua orang dapat memilih seperti apa mereka akan terlahir ke dunia, pada bagian mata, semua wanita pasti akan memilih mempunyai mata besar dengan bulu mata yang lebat. Ya, itu impian hampir semua wanita di dunia ini dan terkadang aku memikirkan diriku mempunyai mata bulat besar dengan iris cokelat yang indah, khas orang asia. Namun, apa daya Tuhan memberikanku sepasang mata kecil yang bila tersenyum hanya akan terlihat garis lengkungan ke bawah dan bulu mata pendek tipis yang kata ibuku cocok untuk anak laki-laki. 

doc.writer
Orang-orang menyebutku “si mata sipit”, tapi aku lebih senang meyebut diriku dengan "mata bulan sabit". Sekedar menghibur diri sendiri. Sebenarnya bermata sipit tidak menjadi persoalan yang besar, malah beberapa orang berkata bahwa aku terlihat lebih manis, apalagi ketika tersenyum. Tapi semua hal pasti ada hal baik dan buruk dan aku punya beberapa pengalaman yang menyebalkan persoalan dengan mata.

Bulan Juli kemarin menambah umurku menjadi tujuh belas tahun. Umur yang diharapkan menjadi batu loncatan untuk orang-orang menjadi lebih dewasa. Setelah lewat satu bulan lamanya. Aku memaksa ayah untuk menemaniku membuat KTP (Kartu Tanda Penduduk) di kantor camat dekat rumah. Aku sangat antusias dan demi dapat membuat KTP ini, aku hanya sekolah setengah hari dan meminta izin untuk dapat pulang lebih awal karena jarak antara rumah dan sekolahku yang lumayan jauh. Dalam perjalanan, bayangan tentang diriku akan mempunyai kartu identitas sendiri, kemudian administrasi apapun tidak lagi bergantung pada KTP orang tua dan yang paling penting adalah bisa membuat SIM (Surat Izin Mengemudi) agar tidak terkena tilang lagi karena berkendara tidak mempunyai SIM.

Setelah menunggu giliran dengan sabar, aku dengan lancar aku melewati berbagai macam ketentuan membuat E-KTP. Apalagi, Petugas laki-laki yang melayaniku adalah orang yang cukup ramah. Hingga pada bagian scan retina mata berlangsung. Awalnya aku biasa saja. Pada scan pertama selesai, setelah melihat hasilnya pada layar monitor komputernya, petugas kemudian berkata padaku.

"Dik, bisa matanya dibuka sedikit? Gak kelihatan jelas retinanya, adik." Dengan sekali anggukan aku mengulanginya lagi. Membuka mata lebih lebar dari sebelumnya dan melakukan scan retina kedua kalinya. Setelah selesai, petugas itu kembali menatapku dengan senyum yang memelas, seakan meminta maaf.

"Maaf dik, bisa nggak adik agak melotot? Matanya adik kecil sekali, jadi tetap gak bagus kelihatan hasilnya." Entah bagaimana aku jadi kesal sendiri. Setelah menghembuskan nafas agak berat, aku mencoba membuka mataku lebih lebar lagi seperti yang dipinta petugas itu. Melotot. Petugas itu kemudian mengulang men-scan retina mataku.

"Enggak bisa lebih lebar lagi dik?" 
"Nggak, Pak! Udah paling lebar ini" Aku menjawab dengan nada kesal. Mungkin tahu aku sudah kesal, petugas itu kemudian diam dan kembali men-scan retina mata kecilku ini.
"Ya udah. Segini aja cukup dah" kata petugas itu pasrah. Ia kemudian membimbingku melanjutkan proses pembuatan E-KTP. Setelah selesai, ia memberitahuku untuk mengambil KTP satu minggu lagi dan aku membalasnya dengan anggukan sambil tersenyum lega. Yes, Akhirnya, aku akan punya KTP. Aku pulang dengan hati gembira. Sempat aku lupa pada kekesalanku padanya tentang persoalan mata tadi.

Keesokan harinya, pada jam istirahat berlangsung, teman-teman dekatku menghampiriku dan bertanya tentang proses pembuatan KTP ala diriku. Aku lalu menceritakan bagaimana kesalnya aku karena harus mengulang scan retina mata sebanyak 3 kali. Mereka lalu tertawa, keras sekali. Salah satu dari mereka, Dessy namanya menepuk bahuku sambil menghilangkan sisa-sisa tawanya.

"Nggak apa-apa, Yuk. Bersyukur aja apa yang kamu punya. Kalo petugasnya nggak gituin kamu, nanti scan matamu yang kelihatan cuma garis aja." Selesai berkata demikian, mereka kembali tertawa dan aku-pun juga ikut tertawa. Sebenarnya ini adalah hal remeh, tapi siapa sangka bahwa pengalaman yang remeh ini selalu aku ingat dan membuatku tertawa sendiri. Pernah terpikirkan olehku bahwa mungkin semua orang memiliki pengalaman-pengalaman remeh yang bahkan terus mereka ingat sepanjang waktu. Ya, sekali lagi itu hanyalah pemikiran aneh dari si mata sipit.
April 2017, 
Junghan.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Ayu sebagai pemenang.


Putu Ayu Yulia Ekaristi 
Biasa dipanggil Ayu Ekaristi dan nama penaku Junghan. Hobbyku membaca dan sekarang lagi sering nulis cerpen. Inspirasi karya, biasanya aku dapet dari pengalaman sendiri dan cerita-cerita yang dibagi teman-teman terdekat. Dengan ikut event ini aku berharap bisa semakin mengembangkan kemampuan menulisku. Semoga menikmati karyaku. Terima kasih.




0 comments:

Post a Comment