Saturday, 8 April 2017

Pertarungan Para Pecundang : Aku vs Bapak

“Kali ini aku harus menang. Aku harus mengikuti jejak Bapak. Dia seorang lelaki yang sudah berumur, harusnya mampu kukalahkan. Anak seharusnya lebih tinggi dari Ayahnya.”


Pernah suatu ketika bersama bapakku, bersepeda ria di tengah sejuknya sore di kampung kelahirannya. Bapak membawaku berkeliling dengan sepeda nenek (baca: kakek). Sore itu banyak gadis-gadis cantik yang lalu lalang entah dari mana.  Sempat kukira Bapak ingin mengajariku mengendarai sepeda, karena memang aku dibonceng di bagian depan (top tube), menyamping. Bapak berkata bahwa aku masih terlalu kecil untuk mengendarai sepeda, lagipula kakiku belum cukup sampai. Bapak ingin aku mempelajari hal lain. Hal yang akan menjadi alasanku mengaguminya.

Sore itu adalah sejarah keahlian mesumku dimulai. Bapak tidak ragu-ragu mengajariku menggoda para gadis dengan berbagai hal. Meskipun baru menginjak kelas dua SD, tidak jadi halangan untuk bapak menularkan skill mumpuninya. Aku memang pemula yang cukup bagus. Bapak bangga.

Setiap ada gadis yang berpapasan ataupun istirahat sejenak, Bapak pasti spontan menurunkan ilmunya. Biasanya hal yang pertama dilakukannya adalah membisikkan ketelingaku apa yang harus dilakukan.

"Nak, sekarang giliranmu. Lakukan yang terbaik. Buat Bapak bangga" katanya dengan mantap.

“Kemesuman ini janganlah cepat berlalu”

Bapak menyuruhku bersiul, supaya menarik perhatian gadis-gadis itu. Kali ini aku harus bersiul. Jika direspon, selanjutnya memainkan sebelah mataku dengan genit. Untuk hal kegenitan, Bapak mengajariku dengan detail.

Jujur saja, menggoda gadis dengan siulan adalah hal tersulit bagiku sampai saat ini. Aku menggantinya dengan siulan yang fals, "pisssttt" (pisssttt' adalah suara yang mirip seperti suara menyuruh diam, "sssttt". Hanya saja terdengar singkat, tajam menusuk, dan agak mesum). Hari itu adalah hari termesum yang biasa-biasa saja bagiku.

Sering kuterapkan sampai duduk di bangku SMA, sampai tumbuh kumisku sepanjang kumis Bapak. Tapi kenyataannya tidak ada seorangpun gadis yang menoleh. Bila pun ada, aku tidak tahu apa selanjutnya yang harus dilakukan. Kudapati bahwa skill itu hanya berlaku untuk anak kecil saja. Mungkin itu juga alasan kenapa aku selalu gagal dalam hal percintaan.

Bapak hanya mengajarkan cara menembus pintu tanpa mengajarkan apa selanjutnya yang harus dilakukan. Hanya diajarkan kemesuman tanpa mengajarkan keberanian. Tapi Bapak pernah berkata bahwa keberanian itu ada dalam diri sendiri. Aku kalah.

Disaat lain, Bapak pernah memergoki hpku yang penuh dengan bokep 3gp. Kala itu Bapak sangat marah, marah namun tanpa sedikitpun kata terucap darinya. Tersirat dari kedua matanya yang memerah dan murka. Mungkin saat itu Bapak sudah mencapai level kemarahan tertingginya. Aku menunduk malu tidak bisa membela diri. Aku hanya berpikir, mungkin saja Bapak tidak suka dengan film barat. 

Kisah cintaku hanya dihiasi beberapa gadis saja. Beda dengan Bapak, bersama cerita yang pernah kudengar, dia punya segudang cerita percintaan. Satu sisi aku iri, di sisi lain aku bersyukur. Untung Bapak hanya meminang Mamak. Tidak terbayangkan bila aku punya banyak Mamak, mungkin memanggilnya pun harus pakai nomor.

Aku pernah merasa bahwa sudah saatnya lah memulai apa yang pernah Bapak mulai dahulu. Aku harus bisa mengalahkan Bapak. Tapi pupus dengan apa yang kudapat. Percintaanku tidak semulus percintaan yang Bapak lalui. 

“Sekali kudapat takkan kulepas, sekali terlepas aku merengek berguling di atas tanah”

Mungkin peribahasa itu cocok menggambarkan perjalananku. Satu hal yang membuatku kalah adalah belum mampu untuk melangkah ke depan, meninggalkan kenangan, tentang mantan. Rasa-rasanya amatlah sulit. Melupakan mantan itu sama susahnya seperti menyembunyikan tai. Dimanapun disimpan, pasti baunya tercium. Mungkin aku harus belajar pada seekor kucing, bukan pada Bapak lagi.

Aku malu bila harus mengakui, aku belum pernah memutuskan wanita. Apa yang akan dilakukan Bapak bila tahu aku seperti ini. Semua wanita yang pernah singgah di hatiku pasti berlalu cepat. Tidak seperti Bapak, jagoanku yang tidak mengenal kata setia. Aku tidak mampu untuk jadi pecundang. Aku kalah. 

Satu ketika Bapak memulai lagi kisah percintaannya. Kuakui memang Bapak seorang yang egois. Dia ingin menang sendiri. Tapi aku bangga dengan kegigihannya di masa tua. Tidak hanya gigih, Bapak juga dengan gampang melupakan kenangan, hal yang menurutku masih sulit untuk kulakukan. Bapakku sungguh hebat, punya mantan di dua masa. Aku mengaku kalah. Aku tidak akan pernah bisa mengalahkan Bapak. Aku memilih untuk menjadi pecundang.

(Cerita ini hanya fakta belaka, bila ada kesamaan tokoh maupun cerita, berarti kita senasib).

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Ryan sebagai pemenang.

Ryan Nujie

Seorang penikmat kopi.

0 comments:

Post a Comment