Saturday, 22 April 2017

Pindah Semarang, Cintaku Tumbang

Hallo teman-teman semua, kali ini aku akan membagikan sedikit dari pengalamanku nih. Haha, sebenarnya pengalamannya sedikit pahit sih. Tapi okelah, skip...

pinterest
Waktu itu tepatnya bulan Mei 2016, setelah pegumuman kelulusan dan hasil nilai UN keluar. Duaaarr, rata-rata nilaiku tergolong bagus. Namun sayang, ada satu pelajaran yang nilainya hanya 30. Haha, tapi dengan nilai yang segitu aku tidak merasa sedih. Dan konyolnya, aku masih menyempatkan berkonvoi ria bersama pacar dan teman-temanku. Biasalah, tradisi setelah kelulusan. 

Setelah selesai itu berkonvoi pulanglah aku. Dan sejenak berpikir, aku ngelanjutin kuliah dimana nih? Saat itu aku benar-benar bimbang bukan kepalang. Untuk jurusan yang akan aku pilih sudah aku tentukan untuk masuk di Psikologi, tapi untuk perguruan tingginya belum aku pikirkan. Namun tak lama aku memutuskan untuk kuliah di salah satu universitas swasta di Semarang, hehe males daftar di Universitas Negeri soalnya harus belajar lagi buat seleksinya. Dan, oiyha pacarku juga saat itu memilih juga untuk mendaftar di Semarang juga. Dan aslinya aku memilih Kota Semarang karena ngga pengen jauh dari pacarku, hehe

Sekitar bulan Juli aku cari-cari kos ditemenin sama pacarku. Cari-cari barang buat ngisi kos, ditemenin pacarku. Beli baju buat ospek, ditemenin pacarku. Beli sepatu ditemenin pacarku. Pindahan kos, ngga dianter orang tua tapi dianter pacarku. Pokoknya yha, pacarku itu multifungsi lah, wkwkwk disuruh ini-itu pokoknya nurut aja sama aku. Makanya aku tuh sayang banget sama dia, hehe

Masa-masa awal pindahan, masih muaaniiiiss banget. Masih suka makan bareng, nonton bareng, beli barang bareng, pokoknya hampir bareng di semua hal deh. Meskipun jarak dari kosku sama kosnya pacarku jauh tapi tetep dibela-belain gitu dateng ke kosku. Mungkin karena dia juga belum punya temen di Semarang waktu itu, makanya masih ngapa-ngapainnya  sama aku terus. 

Kemudian, satu persatu detik sang waktu telah berlalu. Ospek sudah di lalui, dan mulailah masa perkuliahan. Bulan pertama kuliah sih masih anget-anget yha, konflik belum terjadi. Pacarku masih sayang sama aku, masih peduli sama aku, masih suering kasih kabar ke aku. Bulan kedua, emmmm masih anget lah. Masih sama seperti biasanya, dan belom ada pikiran buatku untuk curiga sama pacarku. 

Namun, jreng jreng jreng memasuki bulan ketiga. Cinta yang dulu bersemi, kini menjadi masa laluku, hatiku hancur tiada berkeping, bagaikan segelintir debu (nyanyi lagu Eren-Pergi Tanpa Alasan). Awalnya aku belum mengira kalau ada yang berubah dengan dia. Karena segala sikapnya, perhatiannya, masih sama seperti waktu hari-hari pacaran sebelumnya. Hingga suatu ketika aku membuka gadgetnya. Dan, dengan tanpa sengaja pipiku sudah mulai basah dengan airmata. Satu bersatu kubaca pesan dari wanita yang pada gadgetnya diberi nama w4n174q. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang mudah cemburuan, tapi pada saat itu entah kenapa organ dibalik dadaku terasa sangat sakit. 

Tak lama setelah terjadi hal tersebut, aku putus dengan pacarku. Seperti pada orang umumnya, ketika putus cinta akan mengalami stress, hilangnya nafsu makan, malas untuk melakukan sesuatu. Namun, setelah aku melakukan introspeksi banyak hal yang aku dapatkan. Aku mulai belajar ikhlas, belajar untuk memperbaiki diri, semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, dan masih banyak lagi. Sampai pada akhirnya, aku menemukan jawaban dari permasalahanku. Ternyata aku salah dalam menetapkan tujuan. Seharusnya dari awal pindah ke Semarang adalah untuk belajar, untuk menjadi mahasiswa yang baik, untuk mejalankah amanah kedua orangtuaku, bukan malah karena hanya tidak ingin LDR-an. Dan sekarang apa yang telah kudapat. Nyatanya, jika memang dia tidak ditakdirkan untukku maka bagaimanapun upayaku tidak akan sanggup untuk bersatu. 

Kadang kita ini telah banyak salah dalam bertindak, sampai-sampai membuat kita melupakan akhidah. Cinta yang seharusnya indah menjadi patah. Bibir yang biasanya melukiskan kebahagiaan, pada akhirnya hanya melukiskan senyum penuh kepalsuan. Namun tidak apa-apa, tanpa adanya suatu permasalahan manusia tidak akan pernah belajar dari pengalaman. Mungkin ini cara Tuhan menyadarkanku. Mungkin ini cara Tuhan untuk menjadikanku sebagai manusia yang lebih baik lagi. Mungkin ini cara Tuhan mendekatkanku dengan keluargaku, dengan sahabat-sahabatku. 

Dan pada akhirnya inti dari suatu kejadian adalah mungkin ini sudah direncanakan Tuhan. Dan tugas kita adalah mencari jalan dari permasalahan tersebut, karena dibalik setiap kejadian pasti ada dampak positifnya, bukan hanya dampak negatif saja. Ambil apa yang memang pantas untuk kita, tapaki jalan yang benar-benar baik, hapus memori yang memang pantas untuk dihapus, bukalah pintu dan keluarlah, hirup udara segar dunia, hingga pada akhirnya yang tersisa bukan masalah melainkan semangat untuk melangkah. Terimakasih, teman-teman telah menyempatkan untuk membaca, sedikit dari perasaan hati, semoga menginspirasi. 
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Windhu sebagai pemenang.

Windhu Widya Lestari 
Lahir di Pati pada tanggal 17 Desember 1998. Saya adalah anak tunggal. Sekarang sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Islam Sultan Agung Semarang jurusan Psikologi yang sekarang merupakan mahasiswa aktif  semester 2. 


0 comments:

Post a Comment