Sunday, 16 April 2017

(Republik) Era Digital : Ruang Ekspresi Hiburan Jadi Granat Konflik

Era globalisasi, era informasi, era modernisasi, atau era digital, apalah nama yang tepat untuk disandangkan di zaman sekarang. Belum genap melewati kurun waktu satu dekade bahkan satu dasawarsa, tapi sebagian orang memberikan sandangan nama yang berbeda di zaman sekarang. Terlepas dari sandangan apa yang tepat untuk saat ini, terlebih, jaringan komunikasi benar-benar sulit dibatasi. Akses bebas antar pulau, suku, provinsi sampai antar negara tak lagi sulit.
 

Di sebagian negara, hal semacam ini telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Namun, di tanah Indonesia, kebebasan alur informasi dan komunikasi baru saja dinikmati oleh rakyat. Dampak positif dari hal ini begitu dirasakan. Dengan begitu, masyarakat di Indonesia bisa dengan mudah mendapatkan updating informasi dengan skala waktu yang relatif cepat. Keadaan seperti ini membuat masyarakat cenderung aktif mengikuti dan mengawal perkembangan yang terjadi. Baik dalam segi Ekonomi, Sosial, Budaya, Agama, Politik, Pendidikan dan segi lainnya. Bertambah pula masyarakat yang cerdas dengan mencari dan mengetahui informasi terbaru. Misalnya informasi perkembangan ekonomi di luar Negeri, masyarakat akan belajar mengamati perbandingan kelemahan, kemajuan dan kemunduran bidang tertentu hasil pengamatan serta rekapan informasi dari luar negeri dan dalam negeri.
 
Internet. Ya, sebuah jaringan yang dapat menghubungkan informasi kepada informan dengan cepat. Penghubungnya atau jembatannya adalah media. Sosial media, ruang untuk manusia untuk digunakan sebagai jembatan komunikasi sesama manusia. Setiap hari, bulan dan tahun, pembahasan mengenai sosial media memang menjadi topik yang tak ada bosannya untuk diperbincangkan.
Itu disebabkan oleh informasi yang digulirkan selalu merupakan informasi terbaru (update). Selain penggunanya banyak, sosial media juga merupakan sebuah wadah, dimana seluruh orang dari berbagai negara atau yang berjarak (dekat-jauh) bisa beradu kata dan berbincang ria dengan santai. Sebagian orang pengguna sosial media, memakai sosial media sebagai wadah ekspresi bagi dirinya sendiri. Ruang dimana seseorang dapat meluapkan segala emosinya lewat tulisan dan mempublikasikannya secara bebas. Bebas dalam arti, tak ada aturan baku untuk mempersunting pun melakukan editing terhadap tulisan yang akan dipublish-nya. Namun demikian tak sembarang kata/tulisan bisa dengan bebas akses dipublish oleh setiap orang. Pasalnya, sosial media terhubung secara otomatis ke seluruh penjuru dunia. Beberapa orang masih ada yang belum memahami perbedaan antara diary dengan sosial media. Itu mungkin penyebab kecil adanya sebagian orang yang membuat postingan yang dipublish dan dirasa bebas untuk mempublisnya.
Setahun yang lalu, saya pernah membuat tulisan dengan judul "Sosial media sebagai pilar demokrasi kelima (?)". Diberinya tanda kurung dalam penggunaan tanda tanya, adalah adanya aturan yang dikeluarkannoleh pemerintah terkait hal tersebut (UU ITE). Sosial media, memang merupakan bagian dari media. Tapi, tak ada satu lembaga pemerintah khusus yang memegang utuh kedaulatan dan segala hiruk pikuk yang terjadi di sosial media. Berangkat dari hal tersebut, kode etik jurnalistik dan para wartawan yang hidup di dunia pers dengan seperangkat aturan yang ada juga menjadi pekerjaan rumah yang besar. Di sisi lain, keberadaan sosial media bukan hanya menjadi PR insan pers, pihak pemerintah pun sama. Betapa tidak, kalau di media pers yang ada, baik media cetak maupun media televisi. Setiap wartawan atau reporter, melakukan tahapan tahapan tertentu dan mematuhi kode etik jurnalistik untuk mencari, mengumpulkan, mengolah dan menerbitkan informasi. Tapi, yang terjadi di sosial media, tak seluruh orang melakukan tahapan penerbitan informasi seperti layaknya kebanyakan wartawan sesungguhnya. 

Setiap orang pengguna sosial media bisa menjadi wartawan dan menerbitkannya sendiri di akun sosial medianya (misalnya di twitter, facebook, instagram, Line, Path dan jenis sosial media lainnya). Otomatis, tidak semua postingan yang ada d sosial media adalah informasi faktual. Karena, metode dan azas jurnalistik tidak dilakukan oleh setiap pengguna media sosial. Sah sah saja memang, karena itu merupakan hak setiap oranh dalam menerbitkan hal apapun di dalam sosial media. 

Tapi, disadari atau tidak, walau terbilang bebas menerbitkan postingan apapun di media sosial. Tetap saja, seseorang harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Karena, tak dapat dipungkir, sebagian orang masuk dalam dunia konflik ketika membaca sebuah postingan dari orang lain.

Penyebabnya, orang tersebut merasa tersindir, atau orang yang menbuat postingan terlalu rasis, narsis atau mengandung hal SARA. Itu beberapa penyebab terjadinya letupan-letupan konflik.

Tak sedikit konflik yang dimulai dari postingan status di media sosial. Dan seseorang yang memicu terjadinya konflik beralibi "bukankah semua warga negara indonesia mempunyai hak untuk berpendapat ?". Orang yang tidak bertanggungjawab akan memakai jawaban tersebut untuk melindungi diri. Sosial media adalah jembatanbkomunikasi penghubung seseorang drngan seorang yang lainnya. Ruang hiburan, awalnya digunakan sebagai ajang hiburan oleh masyarakat. Selepas bekerja, selepas beraktifitas seharian penuh, biasanya orang-orang berselancar di media sosial untukbmelepas penat, melepas kejenuhan setelah menggunakan pikiran dan tenaganya untuk rutinitas. Tapi, semakin hari, soaial media digunakan sebagai ruang perang pikiran. Manakala tercipta konflik, dimulai perang gagasan, disitulah benih kebencian seseorang mulai tertanam di alam bawah sadar mereka. Ketika itu terjadi, Sila ke-3, ke-4, dan ke-5 akan sulit untuk direalisasikan. 

Apa kita pernah teringat terhadap era pra kemerdekaan atau pasca kemerdekaan ? Kalau saja founding father pertama Indonesia masih hidup. Niscaya, beliau akan berkata "Kalian teriak lantang perkara NKRI Harga Mati. Kalian teriak lantang tentang Merdeka atau mati. Hari ini, kalian menjilat ludah kalian sendiri. Dusta dengan teriakan. Kalian membaliknya dengan sengaja. Apa kalian benar benar menginginkan Kematian NKRI ? Apa kalian benar benar menginginkan matinya kemerdekaan ?". Dewasa ini, kita hidup dan menjalankan ide ide yang telah lama terkubur sebutulnya. Kita menggali kembali, ide ide yang telah terkubur puluhan tahun lamanya. 

Paham paham insularisme, provinsialisme, federalisme, primordialisme yang dulu telah terkubur dan dianggap menjadi penghambat bangsa ini mendapatkan kenerdekaan satu kesatuan yang utuh. Ya, bangsa kita terpecah. Sebagian berjuang demi keadilan golongannya sendiri, berjuang untuk sukunya sendiri, wilayahnya sendiri. Tak lagi berjuang bersama demi kedaulatan rakyat. Terbentuknya boedi utomo adalah sebuah pencapaian yang jenius, dimana paham paham insularisme, provinsialisme, federalisme, dan primordialisme dapat dikubur. Dari hal tersebut terumuskan satu kesatuan yang utuh, satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa : Indonesia.

Republik Indonesia adalah Negara Hukum, bukan merupakan Negara Massa, Negara civik society. Sejauh ini, Cita cita Eropa Barat terealisasi. Pasalnya, beberapa negara dapat dipengaruhi, tujuannya adalah menggemakan seluruh negara menjadi Negara civil society. Dalam kondisi seperti demikian, Negara akan mudah goyah. Karena, semakin banyak jumlah penduduk, semakin banyak pula organisasi civil society yang dengan sigap melakukan control social terhadap pemerintah. Hal ini menyebabkan situasi politik sebuah negara tak lagi stabil. Terlebih politik massa bukanlah cara yang ideal digunakan di bangsa Indonesia.

Melanjutkan pertanyaan (pernyataan) yang tadi, apakah Sosial media merupakan pilar demokrasi kelima (?). Saking hebatnya guncangan sosial media, kejadian yang terjadi di sosial media diangkat menjadi topik pembicaraan oleh media cetak dan media televisi. Kalau mengangkat suatu hal dan membesarkan suatu hal yang maya kedalam kenyataan. Berarti, selain bangsa kita melupakan filosofis Res Publica, bangsa kita benar benar telah menjadi Negeri dongeng. Memperbincangkan dan mengangkat topik dari dunia maya ke dunia nyata. Bukan sekedar insularisme, provinsialisme, federalisme dan primordialisme yang menjadi penyebab terpecahnya bangsa ini. Virus individualisasi saat ini mulai menjamur, nilai nilai solidaritas akan segera musnah. Serta persatuan indonesia yang menjadi tujuan serta fondasi negara akan roboh. Dulu, paham ini dapat terkubur, bangsa indonesia bisa bekerja sama. Ketika penyakit yang telah dikubur hidup kembali, otomatis ada yang menggalinya. Siapa yang menggali ide ide ortodoks pemecah bangsa ? Jawabannya adalah lihat saja, siapa yang merasa takut manakala bangsa Indonesia bersatu ?

Oleh karena itu, adanya sosial media yang bermanfaat sebagai jembatan komunikasi, harus digunakan secara baik dan bijak. Hidup penuh kasih sayang akan begitu indah, daripada hidup dalam bayang - bayang kebencian. Bagaimanapun juga, kita sama. Dari tanah air, satu bangsa, satu bahasa : Indonesia. Jangan mengubah suatu hal yang mulai harmonis menjadi hal tak dinamis

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Rizki Eka sebagai pemenang.

Rizki Eka

0 comments:

Post a Comment