Friday, 21 April 2017

Rindu, Kaukah itu ?

24 Mei, 2014

Roda-roda waktu terus berputar...
Ia terus berputar, meski aku terus berusaha untuk menghentikannya. Ia tak mau, bahkan tak peduli padaku. Hanya sejenak....saja. Aku ingin ia berhenti untukku.


Seseorang menghampiriku. Ia menyapaku dengan bahasa yang amat manis, dengan senyumnya yang aduhai...sangat elok. Aku bak anak kecil yang sedang mendengar dongeng si Kancil. Terpesona dengan sesuatu yang aku  sendiri tak tau apa yang membuatku terpesona. Ia sungguh elok, sangat elok.
Alunan gamelan mengalun lirih, syahdu, dengan iramanya yang menenangkan. Ia bagaikan alunan musik Mozart yang –katanya- membuat siapapun merasa damai. Ia mengalun, terus mengalun....hingga tanpa sadar, ia telah membuyarkan lamunanku. Gamelan telah berhenti, hingga tanpa ku sadari di depan sana, di hadapanku telah berdiri ratusan anak SMK dengan kebaya dan jas ala kadarnya demi acara setengah hari yang disebut wisuda. Aku tersenyum bahagia, saat ku dengar melalui microphone seseorang menyebut namaku sebagai salah satu wisudawan dengan nilai terbaik. Ya, aku lega karena usaha belajarku tak sia-sia. Tapi hatiku berontak, ia tak setuju dengan bibirku yang tanpa mempedulikannya tiba-tiba menyunggingkan senyuman. Ia terus berontak, ia mengirimkan sinyal ke otakku agar menghentikan senyuman di wajahku. Tiba-tiba, kepalaku terasa pening. Aku tak sanggup menghentikan perkelahian mereka yang kekanak-kanakan. Lalu dengan sedikit gontai, ku langkahkan kakiku menuju sumber suara, ya.. aku menuju panggung wisuda.

Di bawah sana, di arah 3150, ku lihat seseorang dengan senyuman yang amat elok tersenyum ke arahku. Ku dengar jantungku berdegup tak karuan, ia seperti ingin keluar dari tubuhku karena terlalu gugup. Tanpa ku sadari, bibirku melukiskan senyuman lagi. Dan hatiku, ia terus menggodaku, tak lagi tak setuju dangan bibirku.

Mataku berputar menelusuri setiap sudut aula, tapi nihil. Ia tak menemukan seseorang dengan senyuman yang amat elok itu. Hatiku, ia seakan tau apa yang kupikirkan. Tiba-tiba ia seperti tergores, membuat tubuhku seketika terasa sakit. Ia kecewa karena tak mampu membuatku bahagia di hari yang seharusnya membahagiakan itu.

24 Juli 2016

Roda-roda waktu masih terus berputar
Ia yang membuat setiap insan merasa terus dikejar.

Ia yang sering membuat seseorang merasa kecewa.

Padahal ia tak pernah mengejar dan mengecewakan siapapun

Angin musim kering berhembus pelan menerpa setiap inchi sudut wajahku. Ia berhembus pelan, tenang dan membuat tubuhku sedikit tak merasakan terik Raja siang. 

Aku masih duduk termenung di bawah pohon beringin tua di sudut terminal ala kota kecil. Aku melihat seolah waktu berjalan mundur. Ia kembali memutarkan episode kehidupanku dua tahun yang lalu.

Di depanku, kulihat seorang anak perempuan dengan seragam putih abu-abu duduk kepanasan menunggu angkutan. Ia terlihat gelisah. Dari seberang jalan, ku lihat seorang anak laki-laki dengan seragam yang sama dengan anak perempuan tadi berjalan ke arahku. Ia terus berjalan ke arahku, tapi tiba-tiba ia berbelok. Dengan gaya coolnya ia mencoba mengajak sopir angkot untuk narik. Lalu, kulihat anak perempuan itu sedikit tersenyum, ia tak lagi gelisah.

Handphoneku berdering. Seseorang yang amat kusayangi meneleponku, Ia menyadarkanku. Tak terasa waktu memang terus berputar, ia takkan berhenti apalagi berjalan mundur. Dengan langkah sedikit kupaksakan, kuputuskan untuk pulang demi orang yang amat kusayangi itu.

Angin malam  yang berembus pelan lewat jendela kamarku membuat sendi-sendiku terasa kaku. Tapi aku tak peduli. Kuputuskan untuk membuka album foto bersampul biru yang tak pernah kubuka sebelumnya. 
Lembar demi lembar foto sudah kubuka. Memoriku kembali ke masa laluku, saat aku masih seorang anak SMK dengan segala kekonyolan dan kepolosannya. Aku tersenyum saat mengingat masa-masa indah yang katanya masa terindah bagi sebagian orang itu. Kulihat fotoku di hari wisuda itu. Aku terlihat amat bahagia dengan medali menggantung di leherku.

Di halaman terakhir, kulihat foto seseorang yang amat ku kenal. Ia dengan senyumannya yang khas itu, berpose dengan gaya sedikit formal.

Jantungku seketika berdegup dengan amat keras, persis seperti di hari wisuda kala itu. Hatiku, seketika ia merasa damai. Mataku, tanpa dikomando ia meluncurkan butiran-butiran kecil ke wajahku. Dan kusadari semua inderaku bekerja bersama hari itu, tak ada perkelahian di antara mereka.

2 Februari 2017

Kusadari roda-roda waktu akan terus berputar.

Ia akan terus berputar hingga Sang Pencipta yang menghentikannya.

Angin...Ia terus berhembus.

Ia menghembuskan setiap syair rindu yang kutitipkan padanya.

Rindu, yang takkan pernah kusampaikan padanya.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Prihatini sebagai pemenang.

Prihatini Puji Lestari

20 tahun. Asal Cilacap. Mahisiswia Universitas Jenderal Soedirman

0 comments:

Post a Comment