Sunday, 23 April 2017

Sabang dan Sate Matang

Sore itu hampir berakhir. Ombak menggulung air laut silih berganti, mengundang busa-busa di setiap ujung gulungannya. Matahari itu seolah-olah pamit untuk istirahat menemani bumi, dan digantikan oleh bulan. Matahari akhirnya membenamkan dirinya ke dalam laut, yang perlahan-lahan mengundang gelap, mendekap dan memeluk bumi setengah bagian. Hawa dingin yang di bawa angin mulai menyentuh kulit hingga memenuhi lubang pori-pori yang mengharuskan orang-orang untuk memakai kain panjang untuk menutup tubuh, untuk mengusir rasa dingin. 

indonesiakaya.com
Aku dan Furqan menunggu becak motor Bang Mamat, yang tadi telah di telepon. Bang Mamat ialah perantau dari Banda Aceh, yang mengadu nasib merantau ke Sabang. Dari kisah yang di sampaikan bang Mamat sendiri, ia telah 3 tahun berada di Sabang. Bang Mamat lulusan SMA, awalnya tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah tamat. Setelah beberapa waktu menganggur setamat SMA, akhirnya Bang Mamat memilik narik becak motor untuk menyambung hidup. 

Awalnya Bang Mamat pontang-panting ke sana kemari dan membenamkan diri menikmati profesinya yang baru selepas menjadi siswa. Sebulan dua bulan awalnya Bang Mamat memang menemukan kesulitan dalam menjalani pekerjaannya, namun karena terbiasa, selanjutnya Bang Mamat tidak lagi terlalu gelisah menjalani hal tersebut. Pada tahun kedua Bang Mamat menemukan belahan hatinya, Kak Sinta yang bekerja di Cafe Sepakat. Pada tahun kedua bang Mamat di sabang, dan tahun ketiga mereka menjalin hubungan sebatas pacaran, akhirnya status itu di tingkatkan ke jenjang pernikahan. 

Bang Mamat akhirnya datang menghampiri. Ia datang bersama Honda Revo berwarna keluaran 2011 yang telah di rombaknya dengan menambahkan sebuah gerobak penumpang rakitan dengan las yang memang kurang rapi. Besi-besi itu seakan terpaksa sedemikian rupa, walaupun memang jauh dari kata rapi. Beberapa tambalan besi yang menutupi lubang-lubang karena besi yang telah berkarat. 

“Ayo jalan” Sahut Bang Mamat berselip senyuman.
“Siap Bang” Jawabku sambil memijak lantai gerobak becak motor bang Mamat, serta membetulkan posisi dudukku, juga di susul Furqan. Aku berjumpa dengan bang Mamat kemarin malam, juga bersama Furqan. Kami minta di antarkan ke wisma Zahira kepada bang Mamat setelah mencari suvenir. Dengan senang hati bang Mamat mengantarkan kami ke wisma bersanding beberapa penggalan kisah yang diceritakan bang Mamat. Sekitar 10 menit dalam perjalanan merayapi jalanan sabang memecah sendunya malam, kami merasa begitu dekat dengan mengobrol begitu saja. Tak lupa pula kami meminta nomor handphone-nya jika kami membutuhkan jasa bang Mamat. 

“Malam ini juga mencari suvenir?” tanya bang Mamat membuka pembicaraan.
Ndak Bang. Kita mau cari makan Bang. Kira-kira makanan khas sini yang enak apa ya Bang?” Tanya Furqan dengan logat medok Jawa.  Furqan adalah mahasiswa pertukaran pelajar dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Selama satu semester, ia akan menjalani kehidupan perkuliahan sebagai mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP).
“Pilih Sate Gurita atau Sate Matang? Ayo pilih” Tanya bang Mamat dengan nada sesopan mungkin.
“Keduanya Bang” Jawabku yang kemudian mengundang tawa kecil antara kami bertiga.
“Mantap Bang Fahri, semantap bayarnya ntar. Haha” Sambung Furqan menambah pecah tawa kami. 
“Sate Matang aja Bang kalo gitu” Pilihku dengan secarik senyuman karena tawa yang masih membekas.
“Oke” Sambung bang Mamat.

Kami akhirnya sampai kepada tempat yang di tuju. Beberapa baris bangku panjang dengan beberapa pelanggan yang sudah duduk terlebih dahulu, seolah sedang menunggu kami. Terlihat pula penjual Sate Matang sedang sibuk menyiapkan pesanan dengan lincahnya. Para penikmat Sate Matang terlihat sabar menunggu, dan mengusir rasa habisnya waktu dengan membuka beberapa obrolan. Entah apa yang di katakan, karena mereka menggunakan dialek setempat yang kami berdua juga tidak paham. 

“Nanti jemput lagi ya Bang. Kami akan keliling-keliling dulu setelah makan. Ke toko suvenir lagi mungkin” Aku menjelaskan dengan nada semacam permintaan. Aku kemudian mengambil uang 5 ribu dari kantung kanan celanaku. Lalu memberikan kepada Bang Mamat. Bang Mamat menerimanya dengan senang hati berselip senyum ramah di sudut bibirnya yang menghitam, mungkin karena tembakau rokok yang biasa menemani Bang Mamat kala mangkal menunggu penumpang. Bang Mamat memasukkan uang itu ke saku jaket kiri atasnya.

“Telpon saja kalau nanti sudah selesai mengitari sekitar pasar ini. Hati-hati juga kala berbelanja, jangan nanti hanya sekedar membeli dan membeli saja, sedangkan ongkos untuk kembali ke Wisma tidak disisakan. Haha” Tanggap bang Mamat memicu tawa kembali.
“Siap Bang. Kalau duit kami habis, berarti kami ngutang dulu bang. Atau Bang Mamat mungkin mau berbaik hati memberikan kami tumpangan pulang ke Wisma secara gratis? Kan kami di sini pendatang yang hanya berkeliling dan masih mengharapkan uang dari orang tua. Iya kan Bang Fahri? Haha”  papar Furqan dengan pertanyaan.

“Haha. Boleh juga Qan. Aku sih yes. Keputusan kan tinggal sama Bang Mamat aja. Haha. Gimana bang?” Aku menyambung
“Jangan gitu dong, nanti Abang bayar bensin pakai apa? Pakai kebaikan hati? Haha” Jawab Bang Mamat bersiap-siap meninggalkan kami.
“Haha. Iya Bang. Cuma bercanda kok. Nanti kami telepon ya Bang?” 
“Siap. Selamat menikmati makanannya” Bang Mamat meninggalkan kami dengan gas dan suara motor seakan dipaksa menarik bang Mamat. Kami berdua memasuki tenda dan memilik kursi tempat duduk yang nyaman.

“Sate Matang dua porsi bang” Pesanku
Otewe” Jawab penjual seolah tertawa, namun tak bersuara.
“Haha. Buyan Abang itu” Bisikku ke Furqan
“Haha. Itu salah satu cara menarik pelanggan Bang. Mungkin Abang itu mengira kita akan sering ke sini” Tanggapan Furqan dengan nada bijaksana.
“Iya. Itu trik berdagang untuk mencari pelanggan. Teori ekonomi ternyata bukan hanya memakai modal sekecil mungkin, dan mencari keuntungan sebesar-besarnya saja. Haha” Aku mencoba melucu.
“Haha. Iya bang” Sambung Furqan.

Pesanan kami datang. Sate Matang dengan beberapa potongan daging yang disate, menggunakan kuah soto dan kuah kacang, serta nasi yang masih panas, membuat perut memberontak lebih keras. Mungkin cacing-cacing yang berada di dalam perut kami sedang membakar ban dan berdemonstrasi menuntut untuk mendatangkan makanan. Mungkin saja.

Kami menikmatinya dengan lahap. Hal yang unik dari sate matang ini adalah ketika kuah kacang dan kuah soto bercampur baur dalam sebuah mulut. Perpaduan rasa keduanya entah di sebut apa. Namun rasanya begitu lezat, ditambah pula hawa dingin dengan makanan di lahap kala masih hangat, benar-benar merupakan surga kecil yang diberi tuhan dengan kemurahan hati-Nya yang maha pemberi kenikmatan.

“Andai Sate Matang ada di Padang” Furqan bicara sambil mengunyah daging sate.
“Ya. Ini enak sekali” Tanggapku.
“Habis ini kita kemana Bang?” Tanya Furqan.
“Ayo cari kopi. Atau bagusnya cari di Banda Aceh saja?” Aku menyarankan.
“Di Banda Aceh saja Bang. Di sana kan kota seribu warung kopi” Furqan menyetujui saranku.
“Jadi, setelah ini kita berkeliling-keliling saja?” Tanyaku
“Iya Bang. Sambil olahraga, jalan-jalan malam” Furqan kembali menguatkan saranku. Seusai makan, kami membayar Sate Matang yang rupanya seharga 25 ribu. Aku mengeluarkan dompet mengeluarkan lembar 50 ribu, dan pamit kepada penjual Sate Matang dengan ucapan terima kasih. 

“Nanti kuganti Bang” Sahut Furqan.
“Tidak perlu. Bayar saja ongkosku pulang ke Padang. Haha” Tanggapku dengan tawa.
“Buset. Terlalu besar bunganya kalau gitu Bang. Haha” Jawab Furqan yang juga menimbulkan tawa yang lebih besar.
“Haha. Cuma bercanda. Itu ada kopi, ayo ke sana” Ajakku.
“Bukannya tadi rencananya kita nyari kopinya di Banda Aceh saja?” Furqan heran.
“Banda Aceh juga, Sabang juga. Haha” Tanggapku.
“Haha. Okelah kalau begitu, penasaran aku dengan kopi ini” Sahut Furqan. Kami memesan Kopi Aceh untuk kami berdua. Kopi Aceh yang seharga 10 ribu itu ternyata banyaknya bukan main. Di dalam plastik 1 Kg itu terisi air keruh kopi berwarna hitam bening yang hampir penuh.

“Bisa kembung kalau begini” Sahutku berbisik ke Furqan.
“Ngeri ini banyaknya bang. Bisa 2 hari ini ngabisinnya” Tanggap Furqan sambil membayar. Kami mulai berjalan kesana kemari dengan plastik kopi di tangan. Rasanya seperti pahit, dan berselip sedikit rasa asam. Asam yang sangat sedikit itulah yang aku rasa merubah rasa kopi yang biasa kuminum sebelum-sebelumnya. Namun, ini kenikmatan tersendiri yang ku rasakan malam ini, kopi yang seolah jernih hitamnya yang tidak terlalu pekat itu benar-benar enak. Kopi yang unik kurasa.

Kami keluar masuk toko suvenir, dan hanya melihat-lihat saja. Setelah sekitar setengah jam kami jalan-jalan, kami akhirnya menelpon Bang Mamat untuk minta dijemput kembali. Selang beberapa menit akhirnya Bang Mamat datang, mengantar kami ke wisma bersama rayapan motornya memecah malam berselip dinginya udara Sabang dengan perut kenyang, setelah tadi sempat mencoba Sate Matang, dan Kopi Aceh yang masih dalam genggaman.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Fadhil sebagai pemenang.

Fadhil Hudaya 
Kebetulan bernama Fadhil Hudaya. Kebetulan pula lahir di Kerinci, Jambi, pada 3 Rajab 1916 H. Pernah sekolah, dan sekarang hampir tamat kuliah, tapi tak pernah pintar-pintar juga. Belum pernah orang memanggilnya sebagai "orang pintar". Yang ini sungguh bukan kebetulan. Pengagum betulan @timorbeta di instagram yang adminnya entah mengapa merahasia diri. Silakan tanya sendiri kalau tak percaya. 

0 comments:

Post a Comment