Thursday, 6 April 2017

Sahabat dari Kota Riau


Sahabat, tahu dengan kalimat tersebut? Apa kalian dapat mengerti makna dan arti yang terkandung di dalamnya? Hanya orang-orang tertentu yang dapat memahami arti dan maknanya. Ya, hanya beberapa orang tertentu.




Seperti yang kalian ketahui, semua orang pasti pernah mempunyai seorang sahabat dalam hidupnya, dan hanya beberapa orang yang dapat disebut Sahabat.

Menurutku, sahabat adalah orang yang mampu menerima kita menjadi teman hidupnya dan menerima keburukan kita.

Bukan hanya itu, Seorang Sahabat juga mampu memahami perasaan kita dan menemani kita disaat masa-masa yang sulit, bukan hanya menemani disaat masa kejayaan kita. 
  
Dan ya, dulu aku mempunyai seorang sahabat, dan masih kusebut sahabat sampai sekarang. Namun itu dulu, karena sekarang kami sudah jauh terpisahkan oleh jarak.

Setelah beberapa tahun lamanya aku lewati tanpa kehadiran sosok yang kusebut-sebut sebagai sahabat. 

Namun, kini aku kembali mengingatnya, mengingat masa lalu yang telah terjadi bertahun-tahun silam. Ya, bisa dibilang bernostalgia.

Bagiku kenangan itu memang sulit dilupakan, bahkan tidak seharusnya dilupakan. 

Riau, 20 Mei 2015.

Aku turun dari sebuah mobil yang berwarna hitam mengkilap sembari memegang sebuah gadged di tanganku. Aku hanya fokus mengotak-atik layar gadged yang sedang kupegang sekarang. 

Tiba-Tiba..

“Sela! Lo Sela kan? Cucunya nenek Rohani!” Aku pun hanya menaikkan sebelah alisku dan menatapnya bingung.

“Hehe, sebelumnya perkenalkan, nama gue Messy. Lo bisa panggil gue sesuka hati lo.” Kini aku mengernyit.

“Eh. Oh oke, namaku Sela, lo bisa pang—“ belum selesai aku bicara, tapi tiba-tiba saja dia menarik tanganku dengan semangatnya. Matanya berbinar-binar, ya aku bisa melihatnya.

“Nah! Itu rumah nenek Rohani.” Ucapnya sembari menunjuk sebuah rumah gedung yang tembok luarnya bercat warna orange.

“Iya kok, udah tahu gue mah.” Jawabku terdengar malas.

“Oh begitu ya, hehe kalau gitu bagus deh.”

Aku pun melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah tersebut, dan disambut oleh keluarga nenekku. Aku tersenyum senang dan memeluk nenek dengan erat. Sementara itu, Messy masih berdiri di luar dan nampaknya tengah memerhatikanku dari luar. Kemudian ku tatap mata nenek dengan beberapa pertanyaan yang terkandung di dalamnya.

“Nek, siapa Messy? Keknya dia kenal banget sama aku, padahal aku ga kenal sama sekali sama dia.” Tanyaku spontan

“Oh dia, dia itu temen kamu pas masih kecil sayang, masa kamu ga inget. Coba deh inget-inget, dia itu satu satunya temen kamu yang paling betah main sama kamu.” Aku mencoba mengeja kembali kata demi kata yang dikeluarkan nenek.

“Lah kok?”

“Iya, soalnya kan kamu nakal dan mau menang sendiri. Untung si Messy mau temenan sama kamu dulu, kalau engga, bisa bisa kamu gaada temen.” Aku pun menoleh ke arah belakang dan menatap Messy yang masih berdiri di luar menungguku dengan setianya.

“Oh gitu ya nek, terus kenapa dia tahu sama mukaku yang sekarang?”

“Karena dia nanya kabar kamu mulu dan pengen liat foto kamu.”

“...” aku pun diam untuk beberapa saat dan langsung menghanpiri Messy tanpa menghiraukan nenekku sama sekali.

“Eh sel, lo udah ketemu sama nenek lo?” 

Udah.”

Udah kangen-kangenan sama keluarga lo?"

Udah.”

Udah jabatan tangan juga?”

Udah.”

“Lo udah mendekati ajal lo belom?”
“Ud--“ Ckk, aku berdesis saat menyadari pertanyaan bodoh yang Messy lontarkan, sementara itu Messy tertawa terbahak-bahak.

Lo sama sekali ga berubah ya Sel, masih tetep sama kek dulu. Galak dan sok cool.” Ia menyebut kata cool dengan sebutan col.

Cool kali, lagian bukan cool. Tapi cold.” Jawabku terdengar Cold.

“Hehe gitu ya, anak gaul mah beda ya!” Ucapnya menggodaku.

“Apa sih, udah ah! Yok temenin gue keliling-keliling di sini.”

“Siap bos! Siapa tau nanti kita ketemu cogan.” Aku menatapnya sinis, kemudia Ia hanya mencengirkan gigi putihnya tersebut.

*** 

Sudah 3 jam kami berjalan mengelilingi kota tersebut, begitu banyak yang menarik dan yang kulakukan bersamanya. Mulai dari mengintip orang mandi, dan.. Mencuri mangga di kebun orang.

Ntah apa yang ada di pikiran sahabatku itu, tapi lambat laun aku luluh dan merasa nyaman dengannya. Tak butuh waktu lama untuk mengulang kembali persahabatan kami saat kecil dulu.

Kami duduk di sebuah pondok yang berada tepat di depan sungai yang warnanya terlihat sangat bening. Aku memerhatikan keindahan alam tersebut dan tersenyum puas. 

Kemudian, tiba-tiba saja Messy menarik tanganku menjauh dari pondok tersebut. Aku pun hanya mengikutinya, ia membawaku ke arah sungai dan menunjukan sebuah perahu.

“Ayo naik!” aku pun menatap perahu tersebut dan berganti menatap Messy.

“Ayo naik!” Serunya lagi

Lo yakin bisa bawa tuh perahu Mess? Gimana kalau kita hanyut di tengah jalan. Udah naik gausah banyak tanya atau gue pergi sendiri.” Ancamnya

Kemudian, saat mendengar ancaman tersebut, aku pun dengan cepat menaiki perahu tersebut dan membaca semua doa yang kubisa. Ya, aku terlalu takut pada saat itu.

Messy mengayuh perahu tersebut dengan penuh semangat, kemudian aku menatap pemandangan yang berada di sekelilingku. Indah, sangat indah. Aku takjub melihat pemandangan-pemandangan tersebut. 

Sudah 5 hari lamanya aku berada di kota ini, banyak hal yang sudah kulakukan di sini selama 5 hari tersebut. Dan itu kulakukan bersama sahabatku, Ya. Messy.

Kini aku bersamanya, duduk di sebuah pondok kecil, ya tempat itu menjadi tempat favorit kami sekarang.

Pada saat itu, Messy menatapku seperti ingin menanyakan sesuatu, entah apa yang ingin ia tanyakan padaku.

“Sel?” 

“Ya?”

Gue mau nanya, lo kok gue liat dingin banget ya. Terus murung juga orangnya, gue aja dulu bingung gimana caranya supaya lo bisa luluh sama gue.” Nyess. Pertanyaan itu membunuh bagiku.

Kemudian aku menatap matanya sekilas, rasanya air mataku ingin jatuh pada saat itu. Namun aku lebih memilih menundukkan kepalaku, Namun nihil, air mataku tiba-tiba saja jatuh.

Lah Sel, lo kok nangis?” Messy memeluk bahuku dan mencoba menenangkanku. 

Gue salah ngomong ya?”

“…”

Lo mau cerita?” Aku menegakkan kepalaku kembali dan menatapnya memberi sebuah kepercayaan.

“Cerita aja kok, cerita pelan-pelan, gue bakalan dengerin.”

Aku pun mengusap air mataku dan mencoba menceritakan semuanya.

Lo tau Mess? Gue punya orang tua tapi rasanya kek ga punya. Mereka ga pernah peduli sama gue, ntah gue masih hidup atau engga mungkin mereka ga akan pernah perduli. Mereka sibuk dengan dunianya masing-masing.” Messy mengusap-usap bahuku.

“Kadang, gue pengen jadi orang lain. Jadi kek anak – anak lain. Gue pengen diperhatiin, disayang, gue pengen.” Seketika air mataku jatuh tanpa terkendalikan.

Messy memeluk erat tubuhku dan mengeluarkan semua kata kata yang menurutnya dapat menenangkanku.

Dan benar, aku tenang karena hal tersebut.

Sudah hari ke 6 aku di sini, dan ini adalah malam terakhir aku berada di kota ini, karena besok aku akan pulang ke kota asalku, Palembang.

Karena besok aku akan pulang, maka dari itu, hari ini aku meminta Messy untuk tidur bersamaku. Bisa dibilang permintaan terakhir mungkin.

Hanya kami berdua yang berada di dalam kamar tersebut, Messy memegang sebuah buku diary dan memintaku untuk mendekatinya.

“Sel! Sini deh, gue ada sesuatu.” Aku pun mendekatinya.

“Apa?” Ia Membuka sebuah diary tersebut, di sana terdapat beberapa foto kebersamaan kami dan sebuah tulisan yang ditulis oleh sahabatku itu.

“Ini buat lo sekarang, bacanya pas lo udah pulang aja ya.” Aku menatapnya, ada sebuah kesedihan di sana. Begitu juga denganku.

Sementara itu, aku bingung harus memberikan apa padanya, kemudian aku melepaskan jam tangan milikku dan memasangkannya di pergelangan tangan Messy.

Kemudian ia memelukku erat dan menangis sejadi-jadinya, aku pun hanya terdiam dan menatapnya dengan kesedihan juga.

Gue bakalan kangen banget sama lo Sel..” Ucapnya sembari menyeka air matanya.

Gue juga Mess, udah eh, udah malem ini. Yok tidur, besok gue harus bangun subuh-subuh.” Messy pun mengangguk dan membaringkan tubuhnya di atas kasur, begitu juga denganku.

Aku menatap langit-langit kamar tersebut dengan tatapan kosong, kemudian pandanganku beralih ke arah Messy. Dia sudah tidur rupanya. 

Kemudian aku meraih Diary yang ia berikan padaku tadi, aku membukanya dan pandanganku tertuju pada sebuah tulisan yang bertuliskan

Eh Sel! Gimana menurut lo tulisan gue? Bagus ga, hehe.. Sebenernya tulisan gue jelek sih, cuman karena lo yang baca, yaudah gue bagusin. Btw, ga nyangka ya besok lo bakal pulang dan gue ga tau kapan lagi lo ke sini. Gue pasti kangen banget sama lo Sel, gue kangen tatapan mata lo yang sinis itu. Dan, gue harap lo ga akan pernah lupain gue. Lo tau Sel? Lo sahabat gue satu-satunya, gue seneng kenal lo dan gue sayang sama lo. See you next time Sel! Jangan suka sinisin orang lagi ya, kalau engga gue tabok dari jauh lo.

Seketika air mataku jatuh tak tertahankan, kututup diary tersebut dan kupeluk erat. Aku akan merindukan sosoknya.

05.30 

Semua barang-barangku sudah siap, dan kulihat Messy belum juga bangun.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan dengannya. Sengaja. Aku tidak ingin membuatnya menangis lagi.

Aku memasukkan semua barangku ke dalam mobil dan memberi isyarat pada sopir di depanku untuk segera menjalakankan mobilnya.

Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan yang memanggil namaku.

“Sela!” Ya, Messy. Ia melambai-lambaikan tangannya dengan air mata yang mengalir. Begitu juga denganku.

Aku akan merindukanmu.

                            T A M A T

***
Tulisan inu ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagika jika menyukai Sela sebagai pemenang.


Sela Marsela


Cuma seorang anak SMA yang kurang kerjaan. Suka Lee Min Ho, udah gitu aja.

IG : Selamarselaa15


0 comments:

Post a Comment