Friday, 7 April 2017

Saya Tahu, Saya Diam, dan Saya Kecewa

3 tahun bersama menjalani sebuah ikatan kekeluargaan menjadi sebuah masa yang tidak terlupakan. Suasana itu, makin terasa ketika di akhir semester menjelang hari yang paling dinantikan oleh seluruh mahasiswa yaitu hari wisuda. Untuk melepaskan rasa kegembiraan itu, kami sepakat untuk liburan ke salah satu tempat yang lagi menjadi top di daerah kami yaitu Karomba yang terletak 300 km dari Kota Makassar.


3 minggu sebelum wisuda kami pun berangkat. Meskipun kami hanya 8 orang tapi kami sangat senang karena kami lah yang selalu bersama dari awal semester sampai sekarang. Dalam Perjalanan menuju Karomba, di tengah jalan kami berhenti dan terpaksa berjalan kaki  sekitar 3 km untuk sampai ke tujuan.

Saat berjalan bersama, kecurigaan dengan tingkah kedua teman saya Rum dan Wulan mulai muncul. Keduanya berpegangan tangan dan begitu mesra. Saya menengok ke teman saya Fajri karena dia pernah berkata sama saya dia suka sama Wulan tapi dia menunggu moment yang tepat untuk menyatakan perasaanya. Saya pun berpikir ini seperti sinetron saja. Saya pun mengabaikannya.

Setelah berjalan sekitar 2 jam kami pun sampai. Teriakan teman-teman saya membuat seakan-akan inilah surganya dunia yang kami kunjungi. Namun, kecurigaan saya mulai muncul kembali, saat Rum memberikan jaketnya kepada Wulan. Tapi saya kembali mengabaikannya di pikiran saya itu hal yang biasa dalam persahabatan.

Kami pun mempersiapkan kemah yang akan menjadi tempat kami beristirahat. Setelah kemah siap, saya pun memanggil Wulan dan Fajri ke suatu tempat niat saya hanya membuat mereka tambah dekat. Saya mulai beralasan untuk pergi dan membiarkan mereka hanya berdua, saya kembali ke kemah dan Rum pun menghampiri saya dengan menyuguhkan segelas kopi hangat. Di tengah asyik berbicara betapa kagetnya saya ketika Rum berkata dia menyukai Wulan. Rum ingin menyatakan Cintanya di Puncak Karomba. Aduh, saya diam sejenak dan berpikir. Apakah ini yang namanya cinta segitiga?

Karena takut membuat Rum patah hati saya pun tidak mengatakan bahwa teman saya Fajri juga suka pada Wulan. Saya mulai berpikir mungkin persahabatan kami akan hancur di akhir semester hanya persoalan perasaan, tapi pada saat itu saya hanya bisa berharap ada yang akan mengalah dan menerima kenyataan ini.  Saya serahkan semuanya kepada Wulan.

Malam pun semakin larut dan kami pun menuju kemah masing-masing. Nampak Rum yang terlihat cemburu melihat Wulan dan Fajri tidak nampak di kemah. Saya pun mulai membangun senyum rekan saya dan mengajaknya masuk kemah kembali.

Suasana pagi begitu dingin, matahari mulai nampak kami pun mulai sibuk memotret dan selfi. Kami sangat takjub dengan keindahan Karomba yang begitu sedap dipandang mata. Saya pun menghampiri Fajri dan bertanya mengapa pagi ini dia tidak begitu bersemangat. Dia pun menjawab ternyata semalam dia menembak Wulan mendapat penolakan. Saya terus memberikan semangat dan menyembunyikan bahwa Rum juga punya perasaan sama dengan dia terhadap Wulan. Selepas dari itu, kami pun kembali ke kemah dan bergegas untuk kembali ke Makassar. 

Wisuda pun semakin dekat, saya kembali memanggil  Fajri, Rum, dan Dirga untuk nongkrong bareng. Kami pun memilih Mie Rampok, saya kaget secara tidak sengaja saya membuka ponsel Rum dan menemukan chat dengan Wulan dengan kata yang mesra. Sepulang dari itu, saya pun bertanya pada Rum mengenai chat tersebut. Eh dia jawab dia ternyata sudah pacaran dengan Wulan. Saya sangat kaget dan memikirikan Fajri. Saya pun beri saran pada Rum tolong hubungan ini harap disembunyikan dulu untuk menghargai perasaan Fajri.

Tepat Malam wisuda ternyata Fajri sudah mengetahui hubungan Wulan dan Rum. Dia sangat kecewa dengan sahabatnya Rum. Dia tidak bisa menerima hubungan mereka. Dia pun mulai menyendiri setiap waktu. Saya pun bingung entah kemana arah saya. Dari situlah saya merasa kecewa akan arti persabatan selama 3 tahun yang hancur hanya karena perasaan.

Saya pun memutuskan untuk tidak membela keduanya. Karena keduanya adalah sahabat dekat saya dari situ saya memutuskan untuk diam dan pergi dari keduanya. Saya terus mengingat kata-kata keduanya “persahabatan adalah segalanya."

Tepat hari wisuda kami tidak pernah lagi bersama, akan tetapi pada hari itu, saya pun meminta maaf ke kedua sahabat saya dengan harapan mereka bisa kembali seperti dulu lagi. Saya pun membujuk keduanya namun tak kunjung mendapat hasil, keduanya saling menyalahkan satu sama lain. Keduanya sudah saling membenci dan memutuskan tali persaudaraan. Saya pun hanya bias berharap suatu saat nanti mereka akan sadar dan mengingat persahabatan yang terjalin 3 tahun lalu. 

***

Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Irwansyah sebagai pemenang.

Irwansyah

22 Tahun. Lulusan Diploma III Teknik Mekatronika. Bekerja di salah satu perusahaan swasta. Berasal dari keluarga yang sederhana, akan tetapi kegigihan dan usaha untuk menjadi orang sukses sangat besar. Pecinta traveling.

2 comments: