Wednesday, 26 April 2017

Sebuah Melodi

‘Ketika orang lain berbicara, dengarkan sepenuhnya. Terkadang, kebanyakan orang tidak mau mendengar.’


Pernah mendengar rentetan kalimat di atas? Tentu sering. Bahkan mungkin sudah tak asing lagi pada indra pendengaran kita. Sayangnya, rentetan kalimat itu tidak berlaku bagi diriku yang hanya bisa duduk terdiam di balkon flat mini yang kusewa. Pikiranku berkeliaran kemana-mana. Manik yang asyik menatap rembulan yang tampak indah yang kini tengah menjalankan tugasnya menggantikan sang mentari untuk menyinari permukaan bumi yang ganas ini. Tampaknya aktivitas yang kulakukan ini sudah menjadi rutinitas harianku setelah bergelut dengan tugas kuliah yang menumpuk.

Sang cakrawala yang kini dihiasi oleh bintang-bintang dengan sinar gemerlap yang menemani si rembulan membuat benakku kembali berputar dalam memori bersama dengan sosoknya yang kini telah pergi meninggalkanku. Kuulas kurva positif pada bibir tipisku. Oh ya, perihal kalimat itu, apa kalian tahu mengapa hal itu tidak berlaku bagiku? Yup, tepat sekali! Karena memang aku adalah sosok orang dengan sifat sedingin es yang memiliki seorang kekasih dengan rupa tampan disertai sifat yang sangat kontras dengan diriku. 

Kim Taehyung. Begitulah nama orang yang kini tengah disibukkan dengan pekerjaannya setelah hubungan asmara ini terputus beberapa pekan yang lalu. Mungkin ini aneh. Namun, semua terjadi begitu saja. Wanita sedingin es seperti diriku, jika dipikir-pikir memang sangat tidak pantas untuk bersanding dengan pria hangat layaknya kekasihku—oh! Ralat maksudku mantan kekasihku. 

Bahkan semenjak dirinya memutuskan hubungan asmara ini—dengan alasan tidak ingin membuatku menunggu karena dirinya yang akan melaksanakan tour konser bersama dengan grupnya di beberapa Negara dalam waktu yang lama—membuatku masih enggan untuk melupakannya. Bukan enggan sih, namun ini lebih ke suatu hal yang tidak bisa kulakukan. Payah, bukan? 

Namun, entahlah jika dipikir-pikir memang benar. Dalam hal ini, diriku lah yang bersalah. Mungkin karena sifatku yang dingin, hal tersebut membuat Taehyung enggan untuk melanjutkan hubungan ini mengingat kosa kata yang kuucapkan sangat terbatas—setiap kali kami kencan—dan mungkin saja Taehyung jenuh melihat sikapku. Bukankah hal tersebut lebih masuk akal ketimbang tidak tega membuatku menunggu? 

Aku beranjak dari singgasanaku dan mengambil gitar coklat pemberian Taehyung saat ulangtahunku beberapa bulan yang lalu—kemudian kembali merajut langkah dan mendamparkan diri pada kursi tadi. Aku memetikkan senar gitar itu sesaat. Lalu memejamkan kedua manik kelamku dan mulai membentuk sebuah melodi indah seiring dengan bibir yang mulai menyanyikan sebuah lagu. 

“Melodi menyedihkan ini mirip denganmu. Membuatku menangis, aromamu adalah sebuah kejahatan. Aku sangat membencimu tapi aku mencintaimu.” 

Satu lirik lagu yang kunyanyikan bagaikan curahan hati yang kusimpan dalam-dalam pada lubuk hati ini. Masih dengan iringan sebuah gitar, kembali kunyanyikan lirik selanjutnya bersamaan dengan angin yang tahu-tahu berhembus menerbangkan surai kecoklatanku. 

“Sebelum malam gelap menjebakku, jangan tinggalkan aku. Apakah kau masih mencintaiku? Jika kau merasakan hal yang sama, jangan pergi hari ini. Jangan tanya kenapa, tapi kau harus melakukannya. Tetaplah bersamaku.”

Kuhentikan nyanyian indah ini disertai dengan petikan gitar yang kumainkan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan setelah ini. Entahlah, semuanya tampak sunyi semenjak dirinya yang dengan teganya memutuskan hubungan ini dan membiarkanku terjebak pada perasaan cinta yang masih tersimpan rapi untuknya.

Aku benar-benar menyesal karena tidak menahanmu untuk pergi saat itu. Aku menyesal karena telah bersikap dingin pada orang yang kucintai. Aku tahu letak kesalahanku hanyalah pada sikapku saja. Namun, semuanya sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur. Mustahil untuk mengembalikan hubungan yang sudah kandas ini. Toh, Taehyung juga tidak memikirkanku lagi. Mungkin dirinya sudah menghilangkan sosokku yang telah banyak sekali menyakitinya dengan sikapku yang terlampau tak acuh. Melupakan bukankah hal yang mudah bagi dirinya? Sementara aku harus bersusah payah untuk menghilangkan sosok Taehyung dalam benak ini. 

“Bodoh!” desisku perlahan. Umpatan yang kulayangkan jelas-jelas tertuju pada diriku sendiri kendati umpatan itu kukeluarkan dari bibir tipisku. Aku sudah tidak bisa lagi mengatakan kalimat apapun meski banyak sekali yang ingin kuutarakan dalam pikiranku. Mungkin barangkali itu sebabnya Tuhan menciptakan air mata karena tidak semua kata mampu mewakili perasaan. 

Namun, aku mulai sadar bahwa kehidupan adalah buah dari tindakan yang kita lakukan, tidak ada yang bisa disalahkan selain dirimu sendiri—begitupun juga diriku. Dan jangan lupa bahwa penyesalan itu selalu datangnya diakhir. 

-End-

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Windi sebagai pemenang.

Windi Inanto Putri

Aku dilahirkan pada tanggal 24 Mei 2003 di Jakarta. Tapi, karena ada sedikit urusan, keluargaku terpaksa pindah dan kini kami menetap di kampung halaman tepatnya di Kota Brebes, Ds. Keboledan RT. 21 RW.03. Akun facebook yang kupunya ialah Windi Inanto P. Mungkin sekian biodata singkat ini. 


0 comments:

Post a Comment