Saturday, 22 April 2017

Sebut Saja Satya

Teruntuk Amalia
Di, tempat

Seperti di bagian depan surat ini, kamu pasti sudah mengerti apa maksud dari si pengirim yang tidak mau menuliskan bagian perkenalannya sendiri. Malu katanya, jadi dia menyuruhku menyusun kata yang disampaikan dengan tergagap. Maka dari itu, kita mulai saja dengan menyebut nama orang itu Satya. Sebenarnya dia memiliki nama panggilan yang lebih akrab seperti: ‘Taya’ atau ‘Yak’, tapi teman-temannya lebih suka memanggil dia ‘Tayo’ atau ‘Yok’ (kesannya terlalu perempuan kalau dengan huruf ‘a’ kan?). Tapi biarkanlah kita tetap memanggilnya dengan panggilan Satya saja. Lebih gagah, lagi-lagi katanya.  

pinterest
Lalu, jika digambarkan detail wajah si Satya ini, maka sebenarnya agaklah susah bagiku untuk menjelaskannya melalui tulisan. Karena bagaimanapun juga sesuatu yang dari awal sudah pasti abstrak tidak mungkinlah jadi absolut. Tapi, biarkanlah kuberi kau sedikit penggambaran untuk menerka bagaimana rupanya yang sejujur-jujurnya. 

Hmm, hal pertama yang pasti jadi pusat perhatian dari wajah Satya, atau bahkan keseluruhan dirinya, adalah rambutnya yang keriting dan mengembang. Penggambaran paling bagus bayangkan saja seperti rambut Giring Nidji diawal kemunculannya, plus belum keramas satu minggu. Kuperingatkan, meskipun tanganmu gatal sekali, jangan sekalipun menyisir rambut si Satya itu dengan sisir yang jaraknya kurang dari 3 cm! Kalau kau tidak mau sisir itu menempel sepanjang sisa waktu sebelum dia kembali keramas. Tapi kalau kau tidak suka rambut sarang laba-laba itu, nanti kusuruh dia potong sebelum bertemu denganmu.

Kedua, kumis percampuran Adolf Hitler dan Charlie Chaplin andalannya. Entah berapa banyak ramuan yang dia gunakan untuk menyelaraskan kiri kanan, atas bawah kumis tersebut diikuti dengan ketebalannya yang sempurna, sementara bagian wajahnya yang lain mulus-mulus saja. 

Mungkin jika Hitler dan Caplin masih hidup, mereka bisa saling berbagi rahasia. Huuft, tapi.. kalau kau juga tidak suka dan menyuruhku mencukur habis kumis itu, maka maafkanlah aku, karena untuk kali ini aku tak bisa memaksanya. Bahkan surat ini pun ditulis dengan kesepakatan : “Tak ada kumis yang dicukur!”.

Ketiga, matanya, yang menurutku adalah satu-satunya bagian dari tubuh Satya yang diciptakan sempurna oleh Tuhan (#tuhanituadil #godblesssatya’seye). Kau boleh sedikit ngiri dengan mata milik Satya, karena tanpa operasi lipatan mata ataupun lensa kontak dia sudah memiliki mata yang besar dan tanpa kantung! (satu-satunya keajaiban bagi pecinta begadang dan insomnia seperti kami) diikuti dengan bola mata coklat terang dan bulu mata panjang yang sedikit lentik. 

Semisal saja dia disuruh memakai cadar, jilbab dan maskara, pasti banyak lelaki yang tertipu dengan bulu mata lentik itu. Sudah sering rencana itu terpikirkan, tapi belum juga terealisasi karena tiga penghalang. Satu, kami tidak memiliki cadar, dua, kami juga tidak memiliki baju ala-ala gamis para manusia di Arab. Dan tiga, yang paling menyebabkan rencana itu tak berjalan adalah, si Satya tidak mau memotong ataupun sekedar menguncir rambut keriting dan mengembangnya itu! 

Jujur saja, membayangkan bagaimana rencana hebat itu hancur karena seeonggok sarang laba-laba yang ia pelihara membuatku selalu kesal dengannya. 

Keempat, hidungnya yang sedikit mancung dan bibirnya yang meskipun sebagian tertutup kumis tetaplah enak dipandang. Lalu lesung pipi. Ya, si Satya ini punya lesung pipi sangat dalam di pipi kiri kanannya. Tapi, entah kenapa yang terbayang di kepalaku saat dia tersenyum bukanlah senyum Giring Nidji dengan style rambut lamanya ketika bernyayi Laskar Pelangi. Tapi, sosok yang kupikirkan malah Adolf Hitler yang berambut kribo dan bermata belo ketika sedang memimpin orasi perang bersama pasukan Nazinya untuk melawan kaum Yahudi. Lalu, orang-orang yang melihatnya akan tertawa terbahak bagai melihat sang komedian Chaplin berpantonim. Makanya, wajarkan jika kusebut kumis itu perpaduan antara dua tokoh besar yang sifatnya saling bertolak belakang. 

Untuk tinggi dan berat badan Satya masih standar manusia laki-laki Indonesia pada umumnya. Tingginya 167 cm kalau boleh kubocorkan. Dan berat badannya juga standar manusia Indonesia yang tidak cepat mengeluh atau mati-matian diet karena takut gemuk. 70 kg ditambah otot katanya berbisik pelan di telingaku. 

Ditambah ukuran sepatunya 43 standar Indonesia (9 kalau standar U.S). Lingkar badan, pinggang, lebar dada, lebar bahu dan lain-lainnya bolehkah jika kukirimkan berupa lampiran file excel saja? Karena mengukurnya sendiripun merupakan perjuangan tersendiri yang harusnya dihargai dengan gratis ongkir dan potongan 40%. 

Tapi, karena aku adalah pelanggan terbaikmu, dan karena ini adalah setelan jahitan khusus untuk calon pengantin baru seperti kami, tak apalah jika mengeluarkan biaya normal atau bahkan lebih. Harapanku hanyalah ekspektasi ini sebanding dengan realita yang bisa kau tempelkan di tubuh Satya nanti. 

Intinya, janganlah sampai orang-orang mengira aku menikahi reinkarnasi Giring Nidji (padahal orangnya saja masih hidup), Adolf Hitler dan Charlie Chaplin sekaligus. Cukup satu hari saja dia tampil “tampan”. Besok-besoknya? Terserahlah, urusanku nanti sebagai istrinya yang setia. Hahaha

Sudah ya, sudah kukirimkan semua detail yang kau mau sebagai penjahit terpercayaku. Minggu depan doakan saja aku dan Satya sempat mampir ke tempatmu. Persiapkan saja mental untuk melihat sosok asli makhluk abstrak yang kucintai ini!! 
Dari, 
Sahabat dan pelanggan terbaikmu...... 

ps : aku yakin kau pasti menyukai sikap dan sifatnya (wink smile)
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Almira sebagai pemenang.

Almira Hakim
Mahasiswa tingkat akhir, yang akhir-akhir ini lebih sering mengasah kreatifitas diri dibanding ke dosen pembimbing untuk konsultasi. Dengan harapan menulis (selain skripsi) jadi salah satu sarana relaksasi dari urusan akademik. 














0 comments:

Post a Comment