Tuesday, 18 April 2017

Sejati Setia Sehati

Kejutan awal tahun 2014, kuliah untuk mendapatkan gelar S1. Saya memutuskan untuk mengambil jurusan Psikologi agar kelak nama saya yang singkat, padat, dan jelas ini bertambah menjadi dua kata bukan satu kata lagi. Nama awal saya Hijriani bila saya lulus nanti akan bertambah menjadi Hijriani S.Psi. Amiin.

Siapa yang tidak bahagia bisa berkuliah dan belajar kembali setelah lulus SMA. Walaupun bagi sebagian orang belajar kembali setelah lulus SMA itu melelahkan namun bila masih ada kesempatan dan keuangan yang mencukupi atau beasiswa yang memfasilitasi, mengapa tidak terus saja mencari ilmu. Tidak ada kata terlambat untuk mencari ilmu dengan menempuh pendidikan di manapun.

Dalam setiap menempuh pendidikan ada kalanya kita merasa jenuh bahkan bosan dengan kegiatan yang hanya itu-itu saja. Pasti kita perlu bumbu-bumbu penyedap untuk lebih bersemangat.

Awal perkuliahan adalah momen pengumpulan semangat untuk segera menyelesaikan perkuliahan. Mengerjakan tugas tepat waktu, datang tepat waktu, rajin baca buku, rajin ke perpus, rajin dalam segala hal.

Waah segala halnya menjadi penuh semangat, apalagi teman di tempat saya berkuliah sudah cukup dewasa dibanding saya yang baru saja lulus SMA. Mereka sudah banyak yang bekerja dan usianya sudah kepala dua semua. Sedangkan saya adalah mahasiswi yang paling muda pada saat itu masih berusia 18 tahun.

Awalnya saya sempat minder karena saya merasa kecil dan tidak tahu apapun. Bahkan ketika saya berbicara  di depan kelas seperti tidak dihargai. Akhirnya pada waktu itu saya memutuskan untuk tidak berkuliah selama 1 bulan. Saya merasa dilema, depresi dan rasanya seperti tak ada harapan apapun jika saya berada di kelas itu.
 
Ayah saya mengetahui hal ini. Beliau membentak saya, dan memaksa saya untuk melanjutkan kuliah, bila saya menolak. Saya akan di nikahkan.
 
What? Saya bukan Siti Nurbaya. Akhirnya dengan terpaksa saya kembali berkuliah. Ternyata selama 1 bulan saya tidak berkuliah. Ada satu orang teman sekelas saya yang terus menanyakan kabar saya melalui bbm. Dia adalah seorang pria. Setiap siang hari atau malam hari dia selalu bertanya “Kenapa ga kuliah?” “Apa kabar?” 
“Lama ya ga ketemu di kampus” “Kenapa ga ke kampus-kampus?”. Dan saya hanya membalasnya secara singkat “Gapapa”. Kalau dia bbm saya di pagi atau malam hari saya balasnya besok atau lusa bahkan saya tidak mau membuka bbm darinya. Karena yang saya pikirkan saat itu adalah saya butuh teman secara fisik bukan teman chatting.

Saya juga tidak berani berkata jujur kepada ayah saya, alasan saya mengapa sampai tidak masuk selama 1 bulan itu. Banyak mata kuliah yang saya tinggalkan. Saya harus mengejarnya dengan tugas tambahan. Meski dengan semangat yang sedikit pudar. Dengan tegas saya memutuskan untuk tetap di kelas ini dan menutup kuping serta mata dengan erat-erat bila ada yang merendahkan atau membicarakan saya.

Dan akhirnya saya mampu melewatinya hingga semester 6 saat ini. Saya mempunyai teman dekat yang jarak usianya dengan saya terpaut 11 tahun. Namanya Fani tapi saya panggil dia teh Fani. Dia tahu semua hal yang saya alami. Semangat saya kembali menggebu-gebu karena mendapat motivasi dari dirinya. Di tambah dengan pria yang selalu bbm saya kini menjadi teman saya juga. Pria spesial yang sangat berarti untuk saya. Yang banyak memberi saya pelajaran dalam hidup ini. Pria dewasa yang manja dan pelupa. Sering sekali pria ini marah ke saya dibandingkan dengan ayah saya. Tapi amarahnya selalu menyadarkan saya perihal cinta dan kasih sayang. Pria ini selalu berkata “katakanlah apa yang ingin kamu katakan, jangan di simpan sendiri masalahmu. Apapun itu, karena aku mau kamu jadi bagian di hidupku. Aku mau kamu jadi istri aku”. Meskipun hanya sekedar ucapan manis belaka, setidaknya ada yang membuat aku lebih kuat.

Di kampus dan di kelas saya saat ini saya jatuh cinta. Bukan tapi saya bangun cinta karena pria ini. Saya mulai menyusun kembali rasa minder saya menjadi kekuatan saya. Untuk menjadi sejati kita harus menguatkan, memotivasi. Untuk menjadi setia kita harus saling percaya. Untuk menjadi sehati kita harus bisa sama-sama merasakan senang ataupun sedih di dalam kehidupan kita.

Hidup Mahasiswa
Mulailah bangun cinta

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Hijriani sebagai pemenang.
Hijriani
Saya seorang perempuan. Nama lengkap saya Hijriani, nama panggilan saya Ani, atau Hijri. Saya anak ke tiga dari lima bersaudara. Anak tengah dari bapak Baharudi dan ibu Indri Purwani.Saya menyukai dunia anak-anak. Saya menyukai musik bergaya jazz, jazz pop dan juga keroncong. Saya suka sekali dengan taman dan museum. Dan yang jelas saya menyukai seorang pria karena saya normal.
 

0 comments:

Post a Comment