Saturday, 1 April 2017

Semoga yang Pesta di Tengah Jalan Pernikahannya Cepat Berakhir

Dalam sebuah perkawinan, doa dari masyarakat agar rumah tangga yang dibangun langgeng tentu menjadi harapan besar. Dan pesta merupakan salah satu alternatif untuk mengundang banyak orang untuk mendoaakan agar apa yang diharapkan itu tercapai.


Selain untuk mengharapkan doa, tentunya juga untuk membuktikan kelas atau taraf kehidupan di kalangan masyarakat. Pesta bisa jadi merupakan tolak ukur tentang keperkasaan ekonomi keluarga. Semakin besar dan meriah pesta yang digelar, maka semakin baik pula penilaian masyarakat terhadap kelas keluarga kedua mempelai.

Doa agar menjadi keluarga yang sakinah tentu menjadi pengharapan utama. Maklum saja, setiap orang mengharapkan menikah itu hanya sekali seumur hidup.

Namun, di balik itu semua, ada sumpah yang terselip disebagian pesta perkawinan. Terutama terhadap mereka yang menggelar pesta di tengah jalan. Sebab pesta yang demikian tentu mengganggu ketertiban umum.

Alih-alih mendapat doa agar pernikahannya langgeng, yang ada malah sumpah yang didapatkan. Tidak jarang pesta pernikahan menyebabkan kemacetan panjang. Dan tentunya, pengguna jalan yang merasa terganggu pun menyumpahi agar perkawinan sang mempelai cepat berakhir.

Hingga kini belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai perihal "mengapa pesta pernikahan dilakukan di tengah jalan". Penjelasan paling sederhana yang saya terima hanyalah keterbatasan lahan untuk pesta. Namun, bila dikaji menggunakan metode apapun, penjelasan yang demikian hanya alasan pembenar yang tidak dapat dibenarkan. 

Apa salahnya, bila tidak ada lahan untuk pesta, ya sewa saja hotel, atau lapangan bola agar tidak mengganggu pengguna jalan. Atau mungkin pasangan yang mau menikah tidak memiliki kesanggupan ekonomi untuk itu. Mereka menikah hanya karena alasan nafsu yang sudah tak tertahan lagi. Keadaannya yang demikian bisa disebut kebelet nikah.

Sama dengan kebelet kencing, tak ada wc, pohon pun jadi. Jadi, tidak ada lahan dan tidak ada modal untuk sewa hotel, Jalan raya pun jadi, asalkan pesta pernikahan tetap jalan.

Saya kadang bingung, mengapa bisa terjadi hal yang demikian. Padahal bila dikaji pakai ilmu fiqih, ilmu hukum, sampai ilmu persilatan sekali pun, tidak ada yang membenarkan menggelar pesta perkawinan dengan mengorbankan kepentingan masyarakat umum. 

Menurut saya, orang-orang yang menggelar pesta pernikahan di tengah jalan hanyalah orang-orang yang memiliki ekonomi kelas bawah. Tidak punya modal, tapi udah kebelet nikah. Ya dari pada berbuat zina, mending nikah dulu, walau ujung-ujungnya akan cerai juga.

Setidaknya dengan demikian dapat "mencabuli" anak gadis orang tanpa melanggar syariat agama mana pun. Bisa bercinta dengan bebas tanpa harus takut dizolimi banyak orang karena ketauan berbuat zina, atau setidaknya dapat menghindari pemerasan dari preman-preman karena ketahuan berduaan di tempat sunyi tanpa pengaman.

Anehnya lagi, orang-orang yang menggelar pesta di tengah jalan seperti tak peduli dengan pengguna jalan. Ia seperti orang tak berdosa dikala terjadi kemacetan parah akibat pesta yang ia gelar. Alih-alih mempedulikan pengguna jalan yang terjebak macet, ia malah sibuk dengan pesta konyol dan artis murahan yang menari-nari di atas penderitaan banyak orang.

Saya semakin bingung dikala memikirkan apa yang mereka harapkan dari sebuah pesta pernikahan. Doa, pujian, atau sumpah. Kalau dibilang mereka mengharapkan doa, kok malah dengan cara merugikan banyak orang? Kalau dibilang ingin menunjukkan kelas, kelas yang bagaimana yang ingin mereka tunjukkan? Kelas murahan gitu? Kalau dibilang mereka mengharapkan sumpah, maka terlalu naif rasanya ada orang yang menggelar pesta agar disumpahi agar rumah tangga yang dibangunnya berantakan.

Sekarang begini saja, kita sepakati saja kalau orang-orang yang menggelar pesta di tengah jalan adalah orang-orang kelas bawah yang tidak beretika. Masak iya pesta pernikahan yang digelar sampai melanggar ketertiban umum. Atau mungkin saja ia merasa kalau jalan yang ia gunakan itu adalah peninggalan nenek moyangnya yang sudah lama mati, sementara pengguna jalan adalah orang-orang yang menerima kebaikan hatinya karena telah diizinkan menggunakan jalan peninggalan nenek moyangnya itu.

Ah sudahlah, semoga yang biasa menggunakan jalan untuk pesta segera sadar kalau nenek moyangnya itu sudah mewariskan jalan peninggalannya untuk masyarakat umum. Semoga ia segera sadar kalau jalan itu merupakan fasilitas umum yang tidak dapat digunakan sesuka hati. Banyak kepentingan orang lain yang harus dihormati. Kalau ia golongan orang-orang yang beriman, tentu akan meletakkan kepentingan umum diatas segalanya, kecuali ia adalah golongan orang-orang yang bersumbu pendek yang mudah kolep oleh hal-hal yang tidak dapat diterima oleh manusia normal. 

Antoni Putra

  1. Mahasiswa galau tingkat akhir, kata “ACC” lebih berharga dari kata “i love u”

0 comments:

Post a Comment