Thursday, 20 April 2017

Semua Tentangmu


Setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. Ya, begitulah kata-kata orang yang senantiasa mengusik pendengaranku dari kecil hingga aku beranjak dewasa kini. Perpisahan..., sakit memang, namun apalah daya, aku hanyalah hamba yang hanya bisa menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya. Saat mendengar kata-kata perpisahan rasanya ada yang mengiris hati yang paling dalam, serasa perih, perih sekali. Apalagi jika perpisahan itu terjadi dengan orang yang sangat berarti dalam hidup kita. Entah itu keluarga, sahabat ataupun seseorang yang spesial di hati kita/kekasih kita. Mereka semua teramat sangat kita sayang dan kita cinta dengan sepenuh hati kita. Mereka yang senantiasa mengisi hari-hari kita dengan warna seindah pelangi, bahkan keindahannya lebih indah dari pelangi. Cahaya penerangnya lebih terang dari bulan dan matahari. Karena tak ada satupun yang sanggup mengganti nama-nama mereka di hati kita.


Dan kini perjumpaan yang teramat singkat itu harus berakhir dengan perpisahan. Terima kasih engkau telah hadir memberikan warna dalam kehidupanku, terima kasih atas semua ketulusan dan kasih yang telah kau curahkan untukku. Jika mungkin saat ini kita terpisahkan oleh jarak dan waktu, percayalah esok jika Allah berkehendak perjumpaan itu akan menyapa indah seindah taman yang menebarkan aroma harum. Yakinlah bahwa akan ada fajar yang kan mengganti kegelapan malam, akan ada pelangi yang kan mewarnai keindahan hari, akan ada embun yang kan menyejukkan pagi. Dengan kita berpisah, bukan berarti semua telah berakhir dan sirna bak tsunami yang menghantam jutaan rumah kokoh di atas bumi, melainkan itu semua akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih bersabar dan dewasa dalam menyikapi suatu hal. Ingatlah, perpisahan ini bukan untuk selamanya. Raga kita memang berpisah, namun hati kita akan tetap menyatu.

Masih ingatkah kau dengan semua kisah yang telah terukir indah di bumi ini? Tentang perjumpaan yang tak kita kehendaki sebelumnya, tentang masa saat kita bersama, tentang rindu yang kian berselimut di bawah hati yang luka. Semua yang telah terjadi diantara kita dulu akan menjadi sebuah kisah indah yang senantiasa menemani hari-hariku tanpa hadirnya dirimu, kisah yang kan menemani malamku saat mata tak mampu tuk terpejam, kisah yang akan selalu aku bawa bersama dengan hati yang senantiasa aku jaga.

Saat kita berpisah hanya satu yang kupinta. Jagalah selalu hatimu. Jangan biarkan ada orang yang mengusiknya. Jangan kau beri celah sedikitpun kepada seseorang untuk masuk ke dalam hatimu meski sesaat. Kita yang terpisah oleh jarak senantiasa menjaga hati masing-masing. Jadikan perpisahan ini sebagai perpisahan terindah untuk kita, perpisahan yang kan dapat mengguncang dunia dalam kehangatan cinta yang bersemi dalam hati kita. Jadikanlah perpisahan ini perpisahan termanis dalam hidup kita, bahkan lebih manis dari gula dan madu, suatu saat perpisahan ini kan jadi bahan renungan kita dalam melangkah, suatu saat perpisahan ini kan jadi kisah termanis diantara kisah yang telah kita cipta sebelumnya. 

Hari ini kita telah menjalani hidup kita masing-masing. Kau menempuh pendidikan yang telah kau impikan sejak dulu kala, sedang diriku juga menjalani hidup yang telah Allah takdirkan untukku. Tahukah kau, bahwa setiap detik yang berlalu, setiap menit yang telah berganti jam dan setiap jam yang beranjak menjadi siang dan malam dalam hariku terasa sepi dan hampa. Ibarat makanan serasa hambar tanpa rasa sedikitpun, ibarat tanah telah jadi gersang tanpa air yang menyiram, ibarat bunga jadi layu tanpa ada terik matahari dan air yang membasahi. Tahukah engkau, disini aku selalu menanti saat-saat perjumpaan dengan dirimu, khayalan semu yang senantiasa mengisi kekosonganku dengan dirimu. Rindu yang telah terpendam dalam hati ini sudah tak tertahankan. Ingin sekali diri ini berjumpa denganmu meski sekejap tuk haturkan senyum sapa, meski sesaat tuk sampaikan pesan yang telah lama terpendam dihati. Tahukah engkau bahwa hati ini hancur saat menatap dirimu beberapa tahun lalu. Sebuah tatapan yang tak seperti biasanya, tatapan mata yang seolah-olah mengisyaratkan perpisahan kita berlangsung lama, tatapan yang menunjukkan seolah-olah penantian panjang akan menimpa kita. Dan memang begitulah adanya. Semenjak perpisahan kita dulu sewaktu wisuda kau tak lagi hadir dalam hidupku, kini kau telah merantau ke tempat perantauan yang teramat sangat jauh dariku.

Disini aku hanya bisa membawa namamu dalam setiap lantunan do’aku. Semoga Allah mempertemukan kita dengan pertemuan terindah seindah perpisahan kita dulu, bahkan lebih indah dari perjumpaan kita sewaktu pertama bertemu. Semoga kau kembali membawa kesuksesan dalam mimpi yang pernah kau tulis dalam coretan tinta catatan hidupmu. Aku akan selalu menanti hadirnya dirimu kembali dengan perasaan yang tak kan pernah terganti.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibaikan jika menyukai Siti sebagai pemenang.

Siti Ririn Mu’tamiroh

Gadis kelahiran Bojonegoro kini mulai menekuni dunia literasi semenjak ia tertarik dengan dunia kepenulisan. Ia lahir pada tanggal 29 Juli 1998. saat ini ia menempuh pendidikan D1 di Kampus Entrepreneur Penghafal Qur’an (KEPQ) Surabaya jurusan PGPAUD. Ia berharap karya tulisnya dapat dibaca banyak orang serta menginspirasi pembaca karyanya dimanapun berada. Karena baginya menulis untuk beribadah, menulis untuk berdakwah dan menulis untuk berkarya, itulah salah satu pegangan yang selalu ia bawa dalam dunia kepenulisan. Walau hingga saat ini tak ada satupun dari karyanya yang berhasil menembus media atau penerbit, namun semangatnya dalam menulis tak kan pupus. Ia mempunyai akun facebook SITI RIRIN MU’TAMIROH & BINTUN NUQTHOH alamat e-mail ririnmutamiroh@gmail.com dan ia juga mempunyai blog SITI RIRIN MU’TAMIROH. Selain itu ia dapat dihubungi via sms/WA 085853225250


0 comments:

Post a Comment