Wednesday, 12 April 2017

Senyuman Semanis Coklat

Saat udara pagi menyapaku, gemericik air menemani langkahku menuju sekolah baruku. Kampus baru, iya kini aku mahasiswi di Universitas Airlangga tapi sayang langkahku terhenti di halte karena memang aku harus menunggu jemputanku, kalian tau sendiri kan bus umum itu, ahh sampai deh saat kulirik jam tanganku rupanya seperti biasanya 20 menit baru nyampek.

vemale.com
“Cinta, lama banget sih?" Terdengar suara teman dekatku dan memelukku dari belakang. 
“Cantika, tumben udah dateng? Kamu sama siapa tadi?".
"Bawa mobil sendiri tuh, nanti aku anter pulang aja yah biar nggak naik bus”. 
"Aduhhh".
“Eh maaf mbak, saya telat buru-buru ini bukunya maaf ya". 
“Siapa sih Tika?". Aku menepuk bahu Cantika lalu ia tersenyum. 
Nggak tau, udah masuk yuk”. 
“Tika aku ke perpustakaan dulu mau ngembalikan buku kamu istirahat dulu nanti aku susul ke kantin” teriakku lalu menuju perpustakaan. 

"Hei, kamu yang tadi pagi kan?".
“Iya, kamu yang terburu-buru tadi?" aku balik bertanya dan ia tersenyum. 
“Salam kenal ya, aku Dika” katanya mengulurkan tangan sambil tetap tersenyum. 
“Cinta, aku duluan ya ditunggu temenku soalnya” dan meninggalkan langkahku darinya, Dika senyumanmu itu....

"Cinta, tunggu bentar ya aku ambil mobil dulu". 
“Nunggu siapa?" 
“Eh, Dika itu nunggu temen lagi ambil mobil di parkiran" 
“Sama aku juga, pacar yaa?" tanyanya tanpa memandangku. 
“Ah bukan cewek kok nah itu dia aku duluan ya” balasku dan untuk yang kedua kalinya aku meninggalkannya. Ia tetap tersenyum hingga aku memasuki mobilnya Cantika. 
“Kenapa senyum-senyum sendiri?". Pertanyaan Cantika menyadarkanku tapi aku hanya menggeleng.

Seperti aktivitasku biasanya, bangun pagi ke halte menuju kampus dan terlihat senyumannya saat kami berpapasan di depan kampus, dia terlihat selalu berdua bersama kayaknya sih sahabatnya,.
“Saudara-saudari kelas kita mendapat mahasiswa baru 2 orang, silahkan masuk”. Dosen mengenalkan mahasiswa baru di kelas kami dan rupanya Dika sama sahabatnya yang kulihat tadi pagi.

Detik, menit, jam, hari, bulan berlalu seperti angin begitu cepat berlalu tak sengaja kulihat ditempat duduk belakang Cantika bersama Dika bercanda rupanya mereka seakrab itu?
“Cinta, kamu duluan nggak apa-apa aku mau keluar dulu sama Dika”. Aku hanya tersenyum dan kulihat dika hanya menunduk. Hanya firasatku saja mungkin mereka akan kerja kelompok. 
“Pulang naik apa cinta?". 
“Eh, Pak Ketua kelas, naik bus kayak biasanya” sahutku tersenyum.
“Oh ya udah aku duluan ya,”  Adit ketua kelas kami dia sahabatnya Dika tapi tak seramah Dika, dia terlalu cuek dan aku emang nggak pernah kenal dia.

"Cinta"
“Eh, Dika kenapa tumben nggak sama soulmate mu itu?". 
“Adit ya ciyee yang nyari Adit” ledeknya sambil menyandung kakiku. 
“Ya, nggak gitu Dika, biasanya kalian kan berdua”.
”Adit suka loh sama kamu” perkataannya membuatku diam. 
“Udah bercanda kamu nggak lucu,” jawabku lalu memukulnya, ia hanya tersenyum. Hmm, please jangan senyum, senyumanmu itu semanis coklat.

Dika, aku takut kekagumanku menjadi sebuah rasa yang tak kuinginkan sebelumnya saat melihatmu bercerita dan tersenyum di sampingku membuatku nyaman ada di dekatmu aku takut mencintaimu jika lama-lama kita seperti ini aku takut rasa kagumku menjadi nyaman dan rasa ingin bersamamu sepanjang waktu.
“Kok nglamun sih aku lagi cerita nggak kamu dengerin ya?" 
“Aku dengerin kok, jawabku gelagapan dan ia tersenyum. 
“Udah Cinta aku pergi dulu ya ada janji”.

Setiap malam, aku selalu ingat senyumanmu bercandamu kelucuanmu, ah mungkin hanya rasa kagum. 
“Cinta, nanti keluar yuk bosen di rumah terus”. 
“Aku ada kerja kelompok Tika, besok gimana?" jawabku memberi ide namun ia tampak kecewa. 
“Iya deh, emang ada acara apa sih segitu pentingnya ya?". 
“Besok ada ulang tahun seseorang aku pengen ngasih kejutan beri ide ya kamu kan kreatif”.

Suara hewan malam menemani perjalanan kami, bayangin aja jam 11 malem kita ke suatu tempat cuma buat nyiapin kejutan ulang tahun, kalau tebakanku sih dia lagi jatuh cinta tuh
“Ini rumah siapa?" pikirku heran karena kami berdiri di sebuah rumah jam 12 malem. 
“Kamu gila ya, kita bisa dihajar warga karena udah ganggu tidur orang". 
“aku udah kerjasama sama ibunya” bisiknya lalu tertawa. Dan seorang wanita paruh baya tersenyum saat membuka pintu.
“Ayo masuk dia lagi tidur di atas”. Rumahnya besar sih. 
“Ini Cinta tante teman kampus kita” lalu.. 
“Hai cewek,” suara yang tak asing bagiku menepuk bahuku lalu tersenyum. 
“Dikaa? Kok kamu..".
Sstttt nanti dia kebangun ayo kita ke atas“. Kebingungan masih menyelimuti pikiranku sebenarnya ini rumah siapa sih?.

Happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you.Terlihat cowok itu terbangun karena kaget dan betapa kagetnya aku rupanya ini rumah Adit ketua kelas kita!
“Selamat ulang tahun Adit semoga panjang umur sehat selalu lancar rezeki dan jodoh tentunya" lirikan Dika dan Tika membuatku takut dengan semua ini. 
“Oh iya selamat ulang tahun Pak Ketua kelas maaf ya aku nggak tau kalau ini rumah kamu dan ulang tahun kamu"  kataku gelagapan.
"Makasih ya" jawabnya lalu tersenyum. Sekitar jam 4 setelah kita makan-makan kita pun menuju rumah masing-masing. 
“Naik mobil aku aja bahaya jam segini kalian berdua cewek lagi” usul Dika saat kami hendak pulang. 
“Cinta aku anter gimana?" usul Adit hingga kami semua terdiam dan ia menunduk.
“Maaf kalau salah ngomong” katanya lagi lalu Cantika tertawa .
“Boleh juga”.

"Sama aku aja kasihan Adit kan harus istirahat, udah kami pulang ya dit". 
“Kok, Cantika dulu yang diturunin? Kan rumahku deket cinta,?" sahut Tika lalu turun dari mobil dan melambaikan tangannya .
“Kamu suka sama Adit?". Pertanyaan Dika membuatku kaget akupun diam tanpa kata.
"Enggak Dika, kenapa?".
“Adit suka sama kamu” katanya lagi tanpa senyuman biasanya .
“Kenapa dia nggak pernah ngobrol sama aku kalau suka? Dia cuek cuek aja".
“Dia suka sama kamu” katanya lirih lalu tersenyum.
“Kalau dia suka kenapa cuek aja, nggak pernah dia coba akrab kayak kamu gini” jawabku spontan lalu ia memandangku. 
Emm udah sampai aku turun dulu makasih ya” tambahku lalu cepat-cepat memasuki rumah.

“Kau menyukai orang lain?" Sekali lagi ia membuatku terdiam pagi itu.
"Kenapa diam? Kamu suka sama orang lain?" 
“Dika, ayo katanya mau jalan?" 
“Iya Cantika sebentar” balasnya tapi tampaknya Cantika menghampiri kami. 
“Ayo sayang keburu sore”
"Cantika?" aku memanggilnya dan ia menoleh lalu memelukku.
“Iya sahabatku maaf ya, belum cerita sama kamu" namun aku tersenyum tanpa berkomentar, kulihat mereka meninggalkanku.

Aku tak bisa melampiaskan perasaanku saat ini, entah harus bahagia melihat Cantika bahagia atau sakit hati karena cintaku bertepuk sebelah tangan? Hanya aku dan Tuhan yang tahu mungkin aku harus melepaskan perasaan itu sebelum dia melekat dan aku tak bisa membuangnya. 
"Cinta nih dicari Adit".
“Kenapa?" tanyaku menoleh. 
Enggak Cinta, Dika bercanda” sahut Adit tanpa memandangku .
“Adit suka sama kamu”. Dika mendekatiku dan membisikkan kata itu seketika itu juga hatiku berdebar lagi, tanpa senyum tanpa komentar kulihat ia menghilang di lorong kampus. 
“Aku mencintaimu”. 
“kenapa Cinta?" 
Loh kamu kan barusan jalan kesana kok sekarang disini?" tanyaku heran dan ia tersenyum. 
"Aku selalu disini, dihatimu" katanya lagi lalu mengusap rambutku dan ia berlalu.

“Lama-lama aku bisa gila nih, nggak mungkin aku bisa ngebayangin Dika disini”.
“Cinta nanti aku nggak bisa kerja kelompok besok aja aku bantu, nanti aku mau ngerayain ulang tahunnya Dika yang ke 20".
“Aku boleh ikut?" seketika kata-kata itu terlontar dari mulutku pertamanya Cantika memandangku lalu tersenyum. 
“Kenapa enggak, kamu kan pinter kalau bikin kejutan” tambahnya lalu memelukku.

Maafkan aku Cantika, kamu sahabatku yang paling baik tapi aku malah suka sama cowok kamu tapi memang ini dari awal kita ketemu. 
Happy birthday sayang” kulihat ia mencium kening Dika dan Dika tersenyum, aku hanya menunduk. 
“Eh ada Cinta juga disini?" teriaknya lalu tersenyum. 
Happy birthday Dika ini kadonya semoga kamu selalu bahagia” .
“Eh ada kado juga? Makasih ya Cinta. Oh iya Adit bentar lagi nyampek kesini.
"Aku mau balik dulu Dika, Cantika nanti kemaleman aku nggak berani". 
“Biar dianter Adit aja tuh dia udah dateng” usul Dika. 
Nggak usah makasih aku naik angkot aja”.  
Nggak apa-apa ayo aku anter aja” hendak menolak namun Dika memandangku. 
“Baiklah” sahutku mengalah dan kulihat Dika tersenyum. 

"Kamu udah lama tadi?" 
“iya”. 
“Maaf tadi aku telat kamu soulmate banget ya sama Cantika kayak aku sama Dika.” katanya lagi namun aku hanya tersenyum. 
“Nih aku ada coklat” katanya memberikan sebatang coklat dan memandangku. Coklat? kenapa bukan Dika senyumannya seperti coklat ini. 
Nggak usah makasih” jawabku tanpa memandangnya. 
“Aku beneran nih, tambahnya memaksa. 
“Adit awas! “ 
BRUAKKKKKK.

"Cinta, cinta, cinta!" kudengar suara Adit dan samar-samar kulihat wajahnya yang penuh darah dikeningnya dan kakinya yang berdarah sambil terseret-seret ia memegang tubuhku dan berusaha membuatku sadar. 
“Adit, bagian belakang punggungku sakit sekali" kulihat darah mengalir dan darah menetes di pipiku lalu kurasakan keningku perih. 
"Cinta kamu nggak apa-apa?" ia terus bertanya sambil memegang tanganku yang penuh darah. 
“Adit keningmu itu berdarah” terlihat darah itu mengalir sampai ke wajahnya. 
“Jangan khawatirkan aku tangan dan keningmu juga berdarah” ia nampak berusaha berdiri dan jatuh lagi, namun ia tetap berdiri meski aku tahu kakinya sangat sakit. 
“Ayo kita ke RS”. Sekitar pukul 11 malam keluargaku dan Cantika juga Dika datang. 

“Adit kehilangan banyak darah,”. Dika tampak sedih memberitahuku. 
“Dimana dia?". Aku pun berusaha bangkit namun tangan dan kepalaku masih terasa sakit apalagi bagian punggung bawahku.
“Dia masih ditangani dokter tunggulah nanti dia akan baik-baik saja”. Cantika nampak khawatir tanpa senyum diwajahnya.

2 haripun berlalu, kini aku sudah mendingan tapi Adit masih terbaring di kamarnya. 
“Dit, makasih udah mentingin aku padahal..". 
“Sudah, aku nggak mau kamu celaka. Maafin aku ya udah nggak bener nyopirnya”.
”Makasih udah nyelametin aku” spontan aku memeluknya tanpa ada rasa ragu lagi. 
“Sama-sama Cinta yang penting kamu udah sehat”.  
“Oh iya ini aku bawain kamu makanan sama buah” kataku melepaskan pelukanku dan menyuapinya kita bercanda tertawa. 

Sebelumnya aku tak pernah sedekat ini sama Adit, Cuma Dika satu-satunya cowok yang bisa bikin aku ngakak ketawa nggak jelas dan kini Adit juga bisa ngelakuin itu tapi meski kedekatan kami aku masih mencintai Dika, tapi sejak hari ini Dika mulai berubah dia nggak pernah lagi ngasih senyum manisnya buat aku saat pagi aku berangkat kuliah tak pernah lagi ia ngobrol sama aku.

"Dika kita satu kelompok kan? Nanti kerja kelompok ya". 
“Aku aja yang ngerjain kamu juga ngerjain terus kita bandingin gitu aja.". 
“kenapa Dik?" Aku tetap bertanya namun ia memalingkan wajahnya dariku. 
“Aku sibuk” jawabnya singkat lalu meninggalkanku. 
"Apa aku punya salah sama kamu Dik, dika!" teriakanku tak menghentikan langkahnya. 
Siang berganti sore, setiap detik kurasa cepat berlalu kulihat Dika dan Cantika keluar sambil tertawa dan bergandengan tangan .

“Cantika bawa mobil?" aku bertanya tanpa ada jawaban dari mereka. 
“Aku bareng Dika, oh iya sayang kamu sama Adit aja” balasnya lalu tersenyum. 
“Ah enggak deh aku nyari bus aja”. 
“Bus jam segini nggak ada Cinta” kudengar suara Dika yang sangat aku rindukan. 
“Adit ada buat nganterin kamu“ tambahnya lagi tanpa memandangku.
"Nggak usah Dit, aku duluan ya". 
“Cinta nggak apa-apa aku anterin aja udah sore kan deket sih?" 
“Ke terminal aja ya, bener nih nggak ngerepotin?" akupun balik bertanya dan ia tersenyum. 
“Iya deh iya 5 menit dari sini kan? Ayo udah santai aja kalau sama aku” akupun tersenyum dan naik di motornya ketika itu kulihat Dika tersenyum untuk yang pertama kalinya padaku setelah sekian lama tak kulihat senyuman itu.
”Terima kasih” katanya lalu tersenyum.

Apa iya Dika tahu kalau aku mencintainya setahun ini? Sehingga ia menghindar beberapa minggu ini. 
“Kok ngelamun cinta kenapa?"
“Eh, enggak kok Dit ini terminalnya terima kasih ya” kataku turun dari motornya dan ia tersenyum lalu berlalu. Apa aku harus belajar sayang sama Adit ya? Tapi nggak segampang yang aku fikirkan gimana caranya aku ngelupain Dika kalau tiap hari aku ketemu sama dia sekelas pula.

Hari mulai berganti tak bisa ku hindari, kau tahu betapa lama aku mendambamu. 
Ciyee yang kemaren dianter Adit, gitu dong Cinta” suara Dika mengagetkan lamunanku dan ia menepuk bahuku.
"Eh Dika, kenapa sih kamu ini?". 
“Adit lama lho suka sama kamu Cinta. Kamu nggak mau ngasih dia kesempatan buat ngebahagiain kamu, apa karena orang lain?" tapi aku hanya terdiam tanpa memandangnya.

"Orang itu mencintaimu, tapi kalian beda keyakinan orang itu lama mencintaimu lama sebelum rasa yang kau rasakan timbul tapi orang itu tahu bahwa sahabatnya mencintaimu, jadi ia berfikir 2 kali antara beda keyakinan dan sahabat yang punya rasa yang sama. Ia memberikan kamu untuk kebahagiaan sahabatnya dengan orang itu belajar melupakanmu dengan cara menghindar dan belajar mencintai sahabatmu, karena Cinta nanti kau juga akan mencintai Adit seperti ia mencintaimu". 
“Apa maksudmu ini?" aku bertanya dengan memandang matanya .
“Kamu tahu siapa dia” balasnya memalingkan wajah dariku dan meninggalkanku. 
"Perkataanmu membuatku bingung apa sebenarnya yang ingin kau katakan padaku?" tapi teriakanku tak menghentikan Dika.

Gemericik air pagi hari seperti biasanya menemani langkahku menuju kampus, hari ini kenaikan tingkat kami menuju tingkat selanjutnya, maksud untuk menuju kamar mandi, tapi...
“Sampai kapanpun Cinta nggak akan pernah suka sama aku”. Akupun menghentikan langkahku.
“Dia mencintaimu Dit, cobalah ungkapkan perasaanmu jika memang ia menolakmu setidaknya kan kamu sudah berjuang nunjukin itu selama setahun ini, apalagi saat kamu kecelakaan, kamu donorin ginjal kamu buat dia padahal kamu sendiri dalam keadaan yang parah". 
“Cinta itu tulus Dik bukan karena balas budi, aku mau ngeliat dia bahagia sama orang pilihannya, aku mencintainya bukan untuk sebuah balasan atau pamrih".
“Baiklah kalau itu mau mu, tapi setidaknya ungkapkan perasaanmu padanya" lalu kulihat Dika meninggalkan Adit.

Tuhan, bodohnya diriku ini aku tak pernah bisa menilai rasa yang diberikan Adit buat aku selama ini, aku egois ingin Dika menjadi milikku tapi seandainya aku diposisi Adit, kenapa aku malah mencintai orang yang udah punya cewek sedangkan Adit mau mendonorkan ginjalnya untukku, padahal ya Tuhan terbuat dari apa hati anak Mu ini? Dia begitu tulus mencintaiku. 
“Cinta?" ia nampak kaget saat keluar. 
“Maafkan aku Dit" kataku sontak memeluknya. 
“Kamu kenapa?".
“Aku salah, maafin aku” kataku lagi dan ia pun melepaskan pelukanku dan mengusap airmataku. 
“Kamu denger semuanya?" tanyanya memandangku.

"Aku mau belajar mencintaimu, aku mau kau ajari aku cinta itu apa".
“Aku akan selalu ada untukmu” jawabnya lalu memelukku. 
“Aku mencintaimu, sudah lama Cinta sudah lama” akhirnya aku menerima Adit untuk mengajariku artinya cinta. Aku mau mencintainya tulus seperti ia mencintaiku, dari kejauhan kulihat Dika tersenyum, sayang senyuman semanis coklatnya itu tak bisa menjadi miikku, namun aku bahagia karena ada orang lain yang siap ngasih semua senyumannya buat aku dan kulihat matanya yang berkaca-kaca, entah benarkah ia pernah mencintaiku? Apa mungkin yang diceritakan kemarin adalah perasaannya sendiri.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Eka Nanda Yustianti sebagai pemenang.

Eka Nanda Yustianti
Asal Mojokerto.

0 comments:

Post a Comment