Monday, 24 April 2017

Senyuman untuk Suri Tauladan

Alkisah di sebuah tempat yang tidak terlalu terpencil, hiduplah seorang komsumen yang maunya dilayani dengan baik. Sebutlah namanya Suri, lengkapnya Suri Tauladan. Sehari-hari Suri suka berpakaian ala kadar namun lebih tepatnya emang cuma punya baju begitu. Suri tidak malu berpakaian seperti kang ojek yang pakai jaket kebesaran, dalam hatinya ia merasa senang karena jaket warna dongker yang tak lagi dongker itu pemberian om nya dari kota seberang.


Tiap-tiap malam yang sepi Suri selalu keluar memakai jaket kesayangannya. Untuk bawahan Suri tinggal memadu padankan dengan celana katun motif bunga full. Sudah macam taman kembang saja ia berjalan. Lalu telah siap ia dengan motor matic-nya untuk sekedar pergi ke minimarket beli es krim yang lagi hits. Sekali-kali kepengen juga rupanya Suri mencoba burger lapis keju tak jauh dari rumahnya. Maka pergilah ia dengan jaket dongkernya. Tak ada yang salah dengan jaket Suri, yang salah hanya kemana Suri pergi. Lantas saja baru memasuki pintu restoran junk food itu semua mata tertuju padanya. Aiiih, malu Suri dibuatnya. Sudah seperti kedatangan artis ibu kota restoran itu. Tapi ia tetap melenggang cantik menghadap pelayanan untuk memesan burger isi keju lima buah. Apa yang salah dari Suri? Toh ia juga pembeli sama dengan yang lainnya.

Di lain kesempatan, Suri dan adiknya keppo pula ingin melihat-lihat gimana penampakan handpone terbaru saat ini. Adiknya tak kalah cuek cuma pakai pajama ke toko Hp. Jadilah mereka berdua hanya termenung. Jangankan dipersilakan duduk macam pelanggan yang pakai baju necis di sebelah mereka, dilayani saja tidak. Apa yang salah dari Suri? Apa karena pelayan toko Hp tidak mencium bau uang di saku celana ia dan adiknya?

Lain lagi persoalan yang Suri alami tak lama ini, kembali mereka berduel. Suri dan adiknya pergi ke kang jahit dekat rumahnya berniat hendak tanya-tanya. Kata adik Suri mereka harus pakai baju bagus kali ini biar tidak dipandang sebelah mata.

“biar kita dilayani”  begitu kata adiknya.

Akhirnya Suri mau juga menggapai baju bagusnya. Ia pakai dengan baik dan langsung tancap gas ke tempat kang penjahit. Waahh, pelanggan lain malah datang dengan mobil keren, kece badai. tak bisa dibandingkan dengan motor matic Suri yang butut. Jauh. Tapi adik Suri tetap meyakinkan kalau mereka harus masuk dan tanya-tanya. Siapa tau berjodoh. Assalamualaikuum! Suri meneriaki doa dari luar, tak ada yang menyahut. Lantas saja ia dorong pagar rumah kang penjahit dan langsung masuk. Rupanya Ibu kang jahit ini sedang kedatangan tamu, sedang melayani pelanggan potensial. Nampaknya pelanggan ini yang bawa mobil mewah. Tapi masa bodo...

“Ibu, kami kesini mau tanya soal jahitan” tanya Suri.

“Jahitan apa?” dahi Ibu kang jahit berkerut.

“begini bu, saya mau jahit baju tapi tidak tau nama kainnya, mungkin ibu bisa bantu?” lantas Suri mengeluarkan android made in China-nya memperlihatkan foto baju yang sekiranya ingin dibuatkan semacam itu.

Dahi Ibu kang jahit kembali berkerut “nak, kalau dijahit ini bisa mahal. Kainnya bagus, mending anak beli saja di pasar. Murah! Lagian yang kesini itu orang badannya besar-besar, kalau badan macam anak yang kecil ini tak payah lah beli baju di pasar. Banyak pilihannya!”

Suri langsung manggut-manggut. Kemudian pamit pergi. “bilang saja kalau dia tidak mau melayani kita kak! Apa karena kita ‘belum’ punya duit? Makanya dia tak mau layani?” celoteh adek Suri makin menjadi sepanjang jalan pulang.

“lihat saja gaya ibuk itu kak! Kita tak dipersilakan duduk. Kalau aku punya banyak uang, tak akan kesana aku mau jahitkan kain ini. Bahkan Om Ricard yang desainer sekelas nasional saja amat ramah pada kita bulan lalu, aku tanya-tanya di mau ladeni” tetap saja Suri setia mendengar celotehan adiknya.

Suri tersenyum sambil mengendarai mator matic-nya. Ia dapati kenyataan bahwa ia harus pakai baju mewah, mengendarai kendaraan kinclong, memakai sepatu terbaik dan melenggang masuk ke dalam toko dengan anggun. Agar ia bisa mendapatkan senyuman dari pelayan toko, agar pertanyaannya didengar dan dipersilakan duduk.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Umniati sebagai pemenang.

Umniati Islamy

Mahasiswi tahun akhir yang sering dikira masih SMP. Hobi tidur dan baca buku kalau sedang bosan.


0 comments:

Post a Comment