Wednesday, 19 April 2017

Sepira Gedi Ning Sengsara, Yen Tinampa Amung Dadi Cubo

Namaku Cempluk,  aku berumur 18 tahun yang kata orang diumur itu sudah mengerti tentang apa itu dunia, bagaimana dia mengekspresikan dirinya melihat masa depan serta memandang suatu kelayakan abadi dalam bercengkrama dengan sejuta tanda-tanda kehidupan. Dalam seluruh kehidupan yang saya jalani pasti terdapat banyak liku-liku yang menghadang. Banyak orang juga bilang kalau hidup itu harus berjuang, atau dalam bahasa Jawanya “ngoyo”.


Ketika semua orang sibuk merenungi dan menjajah otaknya dengan seluruh pikiran-pikiran tentang bagaimana mencari ilmu, bagaimana mengekspresikan dirinya menjadi remaja, bagaimana dia menata kehidupannya yang baru dengan suami atau isterinya, tapi bagaimana denganku? Hidup amburadul yang tak tentu arah, hanya mengikuti arus angin dan air, stagnan, mengalir dan tak bisa berupaya. Bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku yang selalu demikian? Menjadi buruh dari juragan-juragan yang memandang sebelah mata padaku. Kadang miris sekali hati ini ketika anak juraganku berangkat ke sekolah, mencari ilmu, memakai baju-baju yang bagus, sedangkan aku hanya baju kumal yang sudah pudar warnanya.

Jika harus menyalahkan, aku ingin menyalahkan ibu dan bapak. Kenapa mereka membuatku menjadi anak orang miskin, dihina, dicaci, diperlakukan sesuka hati. Namun, orang-orang inilah yang membuatku tahu apa itu cobaan hidup. Abangku yang seharusnya menjadi panutan bagiku, malah dipenjara karena ketahuan mencuri. Betapa hancurnya hati bapak sama ibu ketika tahu abangku yang berlaku demikian.

Keluarga kecil kami dulunya sangat bahagia, walaupun kami serba kekurangan, dengan lampu ublik seadanya bapak selalu bercerita tentang nabi-nabi serta cerita-cerita wali yang dapat membuatku lebih memperjuangkan agamaku dan ingin mengenalkan agamaku ini pada seluruh orang di dunia. Selain itu bapak juga sering bercerita tentang pewayangan yang dapat menginspirasiku. Abangku yang dulu selalu menjahiliku dengan gurauan-gurauannya yang membuatku jengkel, dan memori seperti itulah yang membuat keluarga kecil kami bahagia.

“cemm .. cemm .. ceeemm .. teeempeee baaaceeemmm ..” kata abangku.

“ahhh .. abang, nama bagus-bagus masa disamain sama tempe?” kataku sungut.

“kan kamu juga doyan tempe Cem..” kata abangku sambil mencubit pipiku.

“tapi kan nggak tempe juga kali, ayu-ayu gini disamain sama tempe, huft” kataku sambil memukul abangku. Ibu yang melihat kami bertengkar segera melerai kami. Bapak yang sedang lesehan sambil meminum kopinya pun juga tertawa melihat kelakuan kami. Dalam hati bapak merasa senang, walaupun dengan keterbatasan biaya bisa berkumpul dan bercanda seperti itu. Bapak masih sering berpedoman pada falsafah-falsafah Jawa seperti “mangan ora mangan sing penting kumpul” yang artinya makan atau tidak makan yang penting tetap bersama.

Bapak yang bekerja sebagai buruh pasir dan ibu yang bekerja sebagai buruh cuci baju tetangga, tak pernah mengeluh akan pekerjaan mereka. Mereka sangat senang menjalani hari-harinya yang tua. Menurut mereka kebahagiaan anaknya adalah yang paling utama.

Suatu sore ibu mengajakku “unduh jagung” milik tetangga kami. Aku pun antusias dengan ajakan ibu, karena memang sedang liburan semester dan tak ada pekerjaan lain yang membuatku menolak ajakan orang yang paling kukasihi di dunia ini. Walaupun dalam semester ini aku mendapat juara pertama, orangtuaku tak memberikanku hadiah seperti orangtua teman-temanku pada umumnya. Walau begitu aku tak merasa marah atau merasa kekurangan. Semua yang diberikan-Nya sudah cukup bagiku. Bahkan bapak juga sering berpesan “aja kuminter mundak keblinger” yang artinya  jangan merasa paling pandai, agar tidak salah arah dan “Ojo sok rumangsa bisa, nangin sing bisa rumangsa” yang artinya tidak usah merasa paling bisa, tapi harus bisa sadar diri. Pepatah-pepatah kecil bapak ini selalu terngiang-ngiang dalam ingatanku. Aku ingin menjadi orang yang biasa di luar namun luar biasa di dalamnya seperti bapak.

“Pluk.. sudah hampir sore nduk. Kamu istirahat saja sana, sisanya biar ibu saja yang selesaikan. Kelihatannya kamu sudah capek banget” kata ibuku, karena melihatku yang berkali-kali menyeka keringat dan terkesan lesu.

“ndak papa kok bu, cempluk masih kuat kok. Cempluk malah ndak tega kalau lihat ibu bekerja sendiri, Cempluk bantu ibu aja ya” kataku sambil tersenyum semanis mungkin.

“nduk.. nduk.. kamu itu” kata ibuku sambil tertawa kecil. Ibuku belum begitu tua menurut usianya, namun karena pekerjaan yang berat, beliau jadi kelihatan lebih tua.

Selesai memetik jagung aku mengajak ibu membasuh tangan dan kaki di sungai bawah kebun jagung ini. Air disana masih jernih dan sangat nyaman untuk ngleset barang sebentar. Ibu membuka bekal yang sebelumnya sudah dipersiapkannya. Selesai makan akupun tiduran di pangkuan ibu. Beliau mengelus-ngelus rambutku dengan sayang sambil bernyanyi;

Lir-ilir lir-ilir
Tandure wis kumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh penganten anyar
Cah angon ah angon
Penekno belimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo masuh dodot Ira
Dodot Ira dodot Ira
Kumitir bedahing pinggir
Damana jlumatana
Kanggo seba mengko sore...

“loh bu, kok berhenti? Diterusin bu nyanyinya.” Kataku sambil terpejap.

“matahari sudah mau turun nduk, ibu belum menyiapkan makan malam buat bapak sama abangmu. Ayo pulang nduk, bantu  ibu masak dirumah nanti.” Kata ibuku sambil terus membelai-belai rambutku.

“yahhh .. ya udah, ayo pulang bu, nanti abang wajahnya melas lagi gara-gara kelaparan. Hahahahaha”

“huusshh.. ndak pareng gitu, sama abangnya harus menghormati nduk.” Kata ibu sambil tersenyum dan membantuku duduk.

“enggeh bu, enggeh.” Kataku sambil tersenyum pula.

Sesampai di rumah ibu segera menjerang air dan aku mengambil beras untuk dicuci yang kemudian akan dimasak di tungku. Sebelum adzan maghrib berkumandang, masakan istimewaku dan ibu sudah siap dan bapak sama abangpun juga sudah pulang. Bapak sama abangpun segera membersihkan badan dan menyuruhku segera mengambil air wudhu untuk sholat berjamaah seperti biasanya. Selesai sholat dan mengaji, kamipun segera menuju ruang tengah untuk segera menyantap masakan spesialku.

“bapak.. bapak.. abang.. abang.. ini Cempluk lho yang masak, enak nggak?” kataku ingin dipuji.

“emang kamu bisa masak apa Pluk? Masak air aja gosong, hahahahahaha” kata abangku yang selalu membuatku jengkel.

“ihhh abaaaaang.. ibuuuu, tadi Cempluk yang masak yaa?” kataku beringsut.

Dengan tersenyum ibuku menjawab “iyaa, ini tadi Cempluk yang masak bapak, abang. Ibu cuma masak air aja tadi. Cempluk yang siapin semuanya”.

“tuh kan, makanya abang jangan sok tahu” kataku sambil meletin abangku ini. Seluruh ruangan pun tertawa akan tingkahku, karena aku anak bungsu jadi menurutku masih pantas-pantas saja mencari perhatian macam itu.

Hari pun cepat berlari dan kini usiaku sudah menginjak 18 tahun, akupun sudah sedikit mengerti alur kehidupan yang membawaku ini. Abangku pun juga telah bekerja pada seorang juragan ayam di kampung sebelah. Aku ingin tetap terus sekolah hingga perguruan tinggi, karena kudengar pula bahwa ada beasiswa pada anak yang kurang mampu, atau yang disebut dengan bidikmisi. Seluruh keluargaku juga sangat setuju dengan keputusanku. Bapak, ibu, dan abangku bekerja demi impianku ini. Kadang ketika aku tidak sekolah aku membantu mereka sebisaku karena memang tugasku yang sangat banyak dan menumpuk.

Suatu hari keluargakupun mendapat kabar yang bagai petir disiang bolong keluarga kecilku mengetahuinya. Iya, abangku, abang yang kusayangi dan kukasihi dilaporkan mencuri beberapa ayam dan dijualnya di pasar. Kejadian itu pula yang menyebabkan abang dipenjara. Betapa remuk dan hancur hati bapak dan ibu mendapat pernyataan dari polisi mengenai itu. Juragan abang juga meminta ganti rugi kepada kami. Hal ini membuat seluruh tabungan yang dimiliki bapak dan ibu yang semula untukku meanjutkan kuliah di perguruan tinggi menjadi tak tersisa. Akupun harus menerima kenyataan pahit dan mengubur mimpiku, yaitu kuliah dan harus berakhir dengan menjadi buruh atau pembantu rumah tangga di sebuah rumah milik salah satu orang terpandang di kampungku.

Ibupun mulai sakit-sakitan dengan semua keadaan yang kami terima, namun bapak senantiasa merawat ibuku dengan terus mmberikan dorongan semangat untuk dapat menjalani kehidupan ini dengan baik.

Suatu pagi ketika juragan menyuruhku pergi ke pasar, aku melihat beberapa polisi sedang menangkap beberapa orang dan kuketahui pula bahwa orang yang mereka tangkap adalah orang-orang yang bekerja di juragan tempat abangku bekerja. Menurut orang-orang disana, mereka ketahuan mencuri ayam milik juragan mereka. Akupun segera pulang dan ingin menyampaikan kabar ini pada orangtuaku. Sesampainya di rumah tak ku temui siapapun disana, rumah terkunci. Menurut tetanggaku, bapak dan ibu pergi ke kantor polisi karena tadi mendapat panggilan dari sana. Tak membuang waktu akupun bergegas menuju kesana.

Di serambi kantor polisi kulihat bapak dan ibu memeluk abangku dengan menangis tersedu-sedu. Akupun berjalan perlahan menuju mereka. Abang melihatku dan melepaskan pelukannya dari bapak dan ibu, lalu segera memelukku. Aku tak mengerti apapun. Abangpun dengan menangis menjelaskan kalau ia dulu di penjara karena difitnah oleh teman-temannya. Juragan abangpun juga ada disana. Ia meminta maaf kepada kami karena telah menuduh serta berbuat buruk kepada kami dan ingin menyekolahkanku ke perguruan tinggi.

Bapakpun segera sujud syukur atas apa yang dikatakan juragan abang ini. Beliau sangat berterimakasih dan sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya menangis tersedu-sedu sambil memeluk ibuku. Memang benar pepatah bapak dulu “sepira gedi ning sengsara, yen tinampa amung dadi cubo” yang berarti seberat apapun cobaan yang di terima manusia, jika dijalani dengan lapang dada akan di peroleh hikmah yang luar biasa.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Ika sebagai pemenang.
Ika Diandra Khadijah

Instagram: diandra295
Tempat/Tanggal lahir : Blitar/11 Desember 1995
Motto:
Tuhanku, bentuklah kami menjadi manusia yang berani, berani untuk sadar akan kelemahannya, berani hadapi sendiri manakala ia takut, dan berikanlah kami keinsyafan bahwa mengenal diri sendiri adalah landasan pengetahuan –Doa YEPE-

0 comments:

Post a Comment