Saturday, 22 April 2017

Si Kecot Jadi Bos Kecot

Namaku Siti, tapi aku biasa dipanggil kecot (bahasa Jawa-nya bekicot). Banyak yang bilang aku lemot kayak bekicot. Memang sih aku malas ngerjain hal-hal yang menurutku kecil, makanya dianggap lemot. Contohnya, saat teman-teman sibuk berlarian mengejar bis kota agar tidak terlambat sekolah, aku mah jalan santai aja, ngapain capek-capek. Bukan lemot sih harusnya, mungkin kata malas lebih tepat. Entahlah, tiba-tiba saja julukan kecot sudah melekat padaku, tanpa kutahu pasti penyebabnya. 

doc.writer
Aku adalah siswi salah satu SMA swasta di Blitar. Namun hari ini, gelar siswi itu akan segera hilang. Hari ini adalah hari dimana seluruh siswa SMA menerima pengumuman kelulusan. Bisa ditebak, bagaimana rasa cemas, deg-degan dan takut berpacu bergantian di setiap detak nafas. Begitu pula denganku, meskipun otakku terkenal encer, tapi masih saja aku takut kalau-kalau tidak lulus. Apalagi Bapak dan Emak sudah wanti-wanti kalau aku gak lulus sekolah, aku akan dikawinkan dengan Kang Darman, tetangga rumah yang menyandang status duda kaya. Ngebayangin aja serem, apalagi ngelakuin.  

Pukul 10.00. Saat yang dinanti pun tiba. Ibu kepala sekolah sudah siap di depan aula sekolah sambil membawa map merah. Beliau mulai pidato dengan basa-basi khas pimpinan. Dan akhirnya…
“Murid-murid SMA Harapan Bangsa lulus 100%”, ucap ibu kepala sekolah dengan bersemangat. Sontak teriak syukur membanjiri seluruh aula. Hilang pula bayangan Kang Darman dari otakku. Asiiikkkgak jadi kawin. Hanya itu yang aku pikirkan saat ini.

"Eh Cot, Lu mau ngelanjutin kuliah atau kemana abis ini?", Santi, temen dekatku bertanya.
"Tau ah, pikir ntar aja", balasku cuek. Yang terpenting aku bebas dari si duda Darman, masalah mau ngapain mah entar aja, batinku.
"Emang dasar Lu kecot, mikir aja kayak kecot juga, lemot!", gerutu Santi sambil menjitak kepalaku. Aku hanya tersenyum mendengar ujarnya.
"Bikin pabrik kecot aja Lu!", sahut Rio yang tiba-tiba udah ikut nimbrung, diikuti gelak tawa semua orang yang mendengar. Kesal juga jadi bahan tertawaan, tapi biarlah, biar aku dapat pahala dari menyenangkan orang lain.

Tak mau berlama-lama di sekolah, aku bergegas mencari bis kota menuju rumah. Aku sudah tak sabar mengabarkan berita gembira ini pada Emak dan Bapak. 
“Emak…. Bapak…. Aku lulus!”, aku langsung berteriak menemui Bapak dan Emak begitu sampai rumah. Emak yang masih mencuci baju dan Bapak dengan sabit di tangan pun segera menyambut kedatanganku. 
“Alhamdulillah, Nduk”, Emak memeluk tubuhku, sedangkan Bapak hanya tersenyum di belakang Emak. 
“Berarti aku gak jadi dikawinin toh?”, tanyaku dengan nada serius.
Enggak”, Bapak yang menjawab. 
“Terus setelah ini kamu mau ngapain Nduk?”, lanjut Bapak.

Aku terdiam sekian detik. Tak mampu mejawab, hingga akhirnya kata itu keluar juga. “Aku mau kuliah Pak”, ucapku sedikit gagap.
Owalah Nduk, Nduk, Emak sama Bapakmu ini cuma buruh tani. Mana cukup duit kami buat biaya kuliahmu. Lebih baik kamu kawin saja sama si Darman. Dia orang kaya, nanti kalau udah jadi istrinya, kamu bisa minta dikuliahin”, ceramah Bapak yang membuat hatiku langsung membeku. Masuk akal memang. Aku hanya anak buruh tani, mana bisa kuliah. Meskipun begitu, aku sama sekali tak setuju dengan usul Bapak, aku gak sudi kawin dengan duda tua Darman itu. Aku segera pamit masuk kamar, daripada ribut sama Bapak.

Hari-hariku berlalu dengan suram, lebih buruk dibanding dengan saat masa sekolah dulu. Aku hanya di rumah, kadang-kadang saja membantu Emak mengurus kebun pisang. Sudah hampir sebulan aku jadi pengangguran. Bapak semakin sering marah-marah, bersikeras hendak mengawinkanku. Apalagi si duda Darman seperti dapat membaca kesempatan, hampir setiap hari dia datang ke rumah sambil membawa oleh-oleh. Aku semakin kesal, marah, benci, tapi tak kuasa berbuat apa-apa. 
Hingga suatu hari….

“Nduk, ayok bantu Emak ngambil pisang di kebun!”, Emak memanggilku. Meskipun malas, aku bergegas mengikuti perintah Emak. Lumayan, daripada tambah stress di kamar, pikirku. 
Hiiii…. Pergi sono! Emak… aku mau pulang aja!”, aku teriak-teriak, menendang-nendang, karena kulihat banyak sekali bekicot di kebun. Meskipun sudah jarang yang memangilku kecot, tapi aku masih benci dengan hewan melata itu. 
Ehh… mau kemana? Ni belum selesai panen pisangnya!”, Emak memanggilku, meskipun aku sudah berlari menjauhi kebun. Emak tahu kalau aku membenci bekicot, Emak juga tahu kalau aku dijuluki kecot oleh teman-temanku. Karena itu, akhirnya Emak membiarkanku pergi menjauh.

Malam harinya, aku merasakan badanku lemas. Pusing yang tak terkira menyergap kepala. Entah, mungkin karena terlalu banyak tekanan yang aku dapat akhir-akhir ini. Bahkan ketika Emak memanggilku untuk makan, aku tak mendengarnya. 

“Nduk, makan dulu. Yang sabar yo, banyak berdo’a, Allah gak pernah tidur. Ini cicipi dulu masakan Emak, enak lho, warisan resep dari nenekmu dulu”, Emak sampai masuk ke kamarku sambil membawakanku nampan berisi makanan dan minuman. Akupun terenyuh, aku bersyukur memiliki Emak yang baik dan pengertian, gak seperti Bapak yang maunya menang sendiri. Segera aku santap makanan yang disajikan Emak. Agak kenyal, tapi rasanya enak, gurih, manis dan pedasnya pas. Aku gak tahu ini apa, yang jelas baru pertama kali ini aku memakannya, dan aku langsung menobatkannya jadi makanan favoritku. Pas banget di lidah.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku sudah siap membantu Emak di dapur. Emak saja sampai terbengong-bengong melihatku, karena aku hampir gak pernah pergi ke dapur, apalagi memasak. Masakan Emak semalamlah yang menjadikanku bersemangat ke dapur. Aku pun segera bilang kalau ingin membuat masakan yang enak seperti semalam. Namun, baru awal Emak menjelaskan, aku sudah dibikin kaget.

Hahhhh… kecot? Yang benar aja Mak!”, aku gak percaya kalau masakan yang aku makan kemarin adalah kecot, hewan yang paling aku benci. Emak bilang, kecot di kebun pisang banyak, sayang kalau gak dimasak. Sesaat aku terdiam, teringat candaan teman SMA-ku dulu "bikin pabrik kecot aja Lu!”. Bagaimana kalau candaan itu menjadi kenyataan ya? Tak lama bepikir, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba.

“Oke Mak, ajarin aku masak kayak kemarin ya”, semangatku kembali menyala. Emak tersenyum. Beliau mengajariku dengan telaten, mulai dari bumbu, cara membersihkan, hingga mengolah. 

Tiga bulan kemudian. Disinilah aku, berdiri di depan sebuah ruko bertuliskan "Bos Kecot" dengan lima orang pekerja di dalamnya. Kini aku bukan hanya seorang kecot, tapi Bos Kecot. Bapak tidak lagi menyuruhku kawin, aku pun sudah bisa membiayai kuliahku sendiri. Terimakasih Emak. Terimakasih teman-teman. Aku bangga pernah dipanggil kecot.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Luluk sebagai pemenang.


Luluk Kristianingsih 
Ibu dari seorang putra bernama fatih. Hanya seorang Ibu Rumah Tangga biasa. Menulis adalah hobiku untuk menyalurkan imajinasi liarku. Tinggal di salah satu desa Blitar, Jawa Timur. Cerita berawal dari kecintaan suamiku terhadap sate bekicot, ditambah banyaknya pedagang sate bekicot di sekitaran rumah yang notabene anak-anak putus sekolah.

  


0 comments:

Post a Comment