Saturday, 15 April 2017

Si Kurai

Beberapa waktu lalu, di ujung senja nan rembang, sembari seruput kopi sedikit gula dan menghembus-hembus asap kretek batangan, dari jauh sudah kelihatan seorang kawan dengan senyum-senyum miring melambai-lambai. Aih, apapula gerangan si Kurai datang senyam-senyum begitu. Tak basa-basi pula, si Kurai nan kurus semlohay ini duduk tepat di sebelah awak. Anehnya, tak ada bunyi di kursi saat pantat si Kurai mendarat.  Ia tak perlu menunggu awak bertanya ia dari mana, hendak ke mana atau pertanyaan lain, si Kurai sudah bercerita sendiri. 


Rupanya, ia habis berbusa-busa bicara dengan kawan kantornya, sesama pokrol alias  pengacara bahasa kininya. Katanya, pokok soal yang bikin mulutnya berbusa-busa itu adalah adil dan keadilan. Malang betul awak sore ini. Sudahlah kopi kurang gula, rokok tinggal sebatang pula, si Kurai siap pula dengan curhatannya. Bukan apa-apa, bukan tak mau dengar, tapi, kalau mendengarkan curhat si Kurai, musti bersiap sekurangnya tiga gelas kopi dan sebungkus rokok. Tapi awak kuatkan hati mendengarkan, sekurangnya awak praktekkan ilmu tangkis menangkis tanya jawab macam ini. 

Si Kurai nan profesinya pokrol ini mulai cerita saat dia dan teman-temannya menonton kejadian copet yang menyandera penumpang baru-baru ini di Ibukota. Bermacam-macam argumen lalu-lalang ketika tayangan berakhir. Dipaksa berakhir oleh kepala kantor yang gemar nonton sinetron India. Kawan Kurai yang rambutnya pakai pomade mulai dengan ulasannya, kalau ia kasihan melihat si pencopet yang ketakutan satu mati (bukan setengah mati) sebab sudah pasti massa yang ada di sekeliling angkot tak mau melepaskan si copet hidup-hidup. Hidupnya terancam kata si pomade. Dengan begitu, azaz keadilan akan hilang tandas si pomade lagi. Bak gayung bersambut, begitu si pomade menutup dengan titik yang imajiner pada kalimatnya, Kurai langsung menyambut. Kurai meletakkan dirinya pada si korban nan terancam. Dalam pandangan Kurai, si copet tak main-main dalam ancaman akan menusuk si penumpang. Dengan demikian, hidup si penumpang nan korban itulah yang terancam sebenarnya. Coba bayangkan kata Kurai, kalau lah si ibu penumpang itu jadi ditusuk oleh si copet yang panik itu, apa yang terjadi pada anaknya. Tentu si anak akan kehilangan kasih ibu sepanjang masa. Sementara si copet, barangkali saja tak ada lagi yang peduli Karena perangainya.

Si Pomade jelas-jelas tak setuju, sebab akan ada upaya-upaya pembebasan, dan si copet yang sudah hilang akal itu tentu tak mau sembarang tusuk, gertak sambal saja. Bagi Kurai, si copet nekat itu tak perlu lagi diberi ampun, sebab kurai percaya, kesempatan sudah banyak diberikan. Pomade, dengan seringai ganas menyambar pula. Kalaulah keadilan tak lagi diberikan, alamat manusia bisa bertindak semena-mena. Tujuan keadilan diberikan sebab masih ada praduga-praduga kebaikan yang masih bisa ditumbuhkan benihnya ditengah kejahatan. Kurai tak mau kalah. Sifat jahat itu Karena manusia itu tidak belajar menghaluskan sifat-sifat anti sosialnya. Karena sudah terbiasa, maka kecil pula kemungkinan berubahnya. Makin lama, ruangan yang tadi adem ayem tentram itu berubah macam pasar malam. Ibu kepala kantor sudah dari tadi berdehem-dehem, tapi tak digubris. Semakin Ibu Kepala Kantor berdehem, semakin menjadi-jadi Kurai dan si Pomade. Akhirnya kata Kurai, demi kemaslahatan ruang kantor dan seisinya, Ibu Kepala Kantor dengan gagah berani menggebrak meja hingga seisi meja terpental. Tak terkecuali Kurai dan si Pomade. Kurai senyum kecut.

Sebagai kawan pendengar yang baik, diakhir cerita kurai sembari menyeruput kopi (tepatnya ampas kopi) awak pun angkat dagu berbicara. “Wahai kurai kawanku nan mulia, bahwa hukum adalah soal mencari keadilan dalam porsi yang tepat dalam berbagai sudut pandang.” Kurai menatap awak, seolah-olah awak ini sedang kumur-kumur. 

Begini kata awak. Kenapa dalam berbagai sudut pandang? Sebab keadilan manusia jangan pula disamakan dengan keadilan Tuhan. Keadilan manusia memang berasal dari Tuhan, namun, pengejawantahannya bisa saja mengalami distorsi nilai. Oleh sebab itu, dibutuhkan pandangan-pandangan yang tepat dan cerdas pula. Dalam kasus si copet nan viral itu, kenapa pula ada upaya membawanya kekantor polisi dengan aman? Sebab, ia masih diberi kesempatan berdasarkan hukum Tuhan, namun di dunia nan nyata benderang ini, ia pasti pula dipenjara sebab kurenah jahatnya tadi. Maka adil dan keadilan berjalan beriringan. Si copet dipenjara, itulah adil, sebab perbuatannya. Si copet mendapat kesempatan berubah, disana pula keadilan Tuhan. Kurai tak mengangguk atau menggeleng, namun ia dekatkan muka ke muka awak, lalu bisik- bisik tetangga. Kalau menurut pendapat kau pribadi saja, tanpa teori buku-buku nan kau sebut tadi, sebaiknya kita apakan si copet itu? Kurai menghembus asap rokoknya kemuka awak. Tercium aroma rokok murah Kurai bercampur nafas kurai nan mirip-mirip kain pel. Awak pun tercenung, tapi mantap awak jawab pertanyaan kurai, “kita beri pangkal telinganya, lalu selangkangannya, terakhir kita rendam di sungai Mongolia.”

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Uyung Hamdani sebagai pemenang.

Uyung Hamdani
 

0 comments:

Post a Comment