Tuesday, 25 April 2017

Surat Dari Seekor Kucing Liar

Hai kalian para manusia. Bolehkah aku sedikit bercerita? Jika menurutmu ceritaku agak gila, salahkan kaum kalian yang telah memukul kepalaku siang tadi. 


Ketika aku sedang berjalan, aku melihat tempat sampah di tepi jalan. Sungguh Ini sebuah anugerah. Saat itu juga aku berdoa, semoga ada beberapa potong ayam basi di sana. Tapi ternyata tak ada satupun. Aku terus berjalan sambil menelusuri setiap tempat sampah yang ada. Aku lapar, namun aku hanya bisa mengais tempat ini. Andai saja aku punya tuan.

Akhirnya aku mendapatkan sepotong ayam. Lebih tepatnya sebuah tulang ayam, tapi aku sangat bersyukur. Aku bernat memakan itu dalam satu kunyahan, tiba-tiba ada yang memanggilku. Kutengok ke kanan tak ada siapapun. Betapa kagetnya ketika makhluk kecil itu menempel di kaki kiriku. 

Kutanya siapa dia, katanya dia terpisah dari ibunya. Dia hanyut saat hujan, berenang di saluran air yang penuh air dan sampah. Ketika kutanya apa maunya, kucing kecil itu hanya melihat tulang ayam di hadapanku. Yasudah, kuberikan saja harta karun itu padanya. Jangan sampai dia menangis dan aku harus membelikannya permen agar dia diam.

Aku menemukan ayam lagi, dan yang ini lebih besar! Kali ini benar-benar potongan daging ayam. Di sana, di sebuah tempat dengan banyak makanan. Tapi ada sesuatu berwarna hijau, aku tak yakin apa itu sebuah makanan. 

Pertama-tama aku duduk di ambang pintu, mengeong sok manis. Nihil. Hei! Kenapa tak ada yang mempedulikanku? Apa itu artinya boleh? Baiklah, kuambil sendiri saja ayamnya. 

BUGGHHH !!! PLAAAKK !!!

Wooo.... Woo... Kenapa wanita itu memukulku? Ada yang bisa menjelaskannya? Dia bahkan menyebutku maling. Bukankah dia tak mencegahku saat meminta ijin? Kenapa sekarang dia menghakimiku? Dasar!!! Oke, oke aku pergi, bersama ayam besar ini.

Sebagaimana kami diciptakan, kami tidak terlalu tau hal-hal yang dianggap biasa oleh kalian. Seringkali aku melihat benda beroda empat yang ukurannya sangat besar bagiku. Karna penasaran, aku mencakar-cakar rodanya. Sekalian untuk berolah raga. Teman-temanku juga terpesona pada benda itu sampai ada yang sengaja tidur di bawahnya.

Ketika aku sadar bahwa itu bukan makanan, lebih baik aku pergi. Baru beberapa langkah, ada suara asing yang kudengar. Aku menengok dan melihat benda itu mulai bergerak! Bagaimana bisa?
Beberapa detik mataku tak lepas dari itu semua. Tapi kemudian aku sadar akan situasi buruk. Temanku hendak pergi saat dia mendengar suara bising, tapi kakinya terjebak oleh roda besar itu. Dan dalam sekali putaran, roda itu melindas habis tubuh temanku.

Benda itu pergi. Aku meneriakinya, tapi benda itu tak kembali. Kakiku berjalan cepat ke arah temanku. Kupanggil, namun dia hanya diam. Darah keluar dari kepala dan lehernya. Aku menjilati darah temanku sambil menangis hingga ada manusia yang mengubur temanku. Dia juga menyuruhku pergi dari tempat itu. Betapa baiknya manusia itu. Aku tidak akan pernah melupakannya yang telah menolong sahabatku.

Kepalaku masih terasa sakit karena pukulan manusia tadi. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanyalah seekor kucing liar yang tidak disukai banyak manusia. Terkadang aku iri dengan kucing-kucing yang dipelihara oleh manusia. Mereka mendapatkan kasih sayang dan makanan yang layak. Kehidupan kucing-kucing ras itu sangat sempurna. Mereka cantik, tampan, bersih dan rapi, memang pantas dengan kehidupan seperti itu. Dan aku sebagai kucing kampung hanya bisa melihat mereka dari jauh.

Jika aku harus mengais pada setiap tempat sampah, kucing peliharaan hanya tinggal berteriak kelaparan dan majikannya akan memberi makan. Satu kali aku ingin mencicipi makanan mereka, namun aku dilempar batu oleh majikan mereka. Saat aku mengharapkan keikhlasan makanan dari manusia, mereka justru mengusirku. Jika aku tetap tinggal, mereka akan menendangku.

Rasanya sangat sakit, tubuhku juga hatiku. Tapi aku hanya bisa berdoa agar manusia itu segera berubah. Kita sama-sama makhluk Tuhan, kenapa kalian membenci kami? Apa kami begitu menjijikkan? Begitu hina sampai kalian berlaku seperti itu pada kami? Sekalipun kami tak pernah menendang kalian, menyiram, apalagi memukul kalian.

Ups, tenyata aku sampai di tepi jalan raya. Begitu banyak benda beroda empat seperti yang merenggut nyawa temanku. Tubuhku bergidik takut.

Kupaksa hatiku yakin untuk menyeberangi jalanan itu. tak begitu banyak pertimbangan selain peluang hidup dan mati. Selamat ataupun tidak, aku berharap bahwa di seberang sana ada tempat yang lebih indah dan cocok untukku. Apakah itu tempat tinggal yang penuh dengan pemerhati kucing liar atau justru alam lain setelah sebuah kehidupan.

Aku teringat kalimat ibuku, “Jika kamu menyeberang di antara benda beroda yang melaju, kamu hanya punya secuwil kesempatan untuk sampai di seberang.”

Jika ini benar saat terakhir hidupku, aku berdoa semoga semua kucing mendapat perlakuan yang layak dari kalian. Biarlah aku mengorbankan nyawa demi sesamaku. Tolong sayangi teman-temanku, buatlah hidup mereka tidak ternoda oleh rasa dendam akan perlakuan buruk kalian terhadap mereka. 

Aku tau tak semua dari kalian para manusia menyukai kami. Tapi kumohon, setidaknya jangan sakiti kami. Semoga kalian paham bagaimana kehidupan kami saat ini dan tau bagaimana kalian harus bersikap.

Sudah dulu ya, aku akan segera menyeberang. Mumpung lagi lampu merah.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Diah sebagai pemenang.

Diah Eka Noviani

Salam kenal dari salah satu penyayang kucing di Kota Semarang. Namaku Diah Eka Noviani, lahir tanggal 17 November 1998. Aku bukan tipe pemilih yang hanya peduli pada kucing-kucing ras. Dan ketika di depan mataku seseorang berlaku pada seekor kucing, tak segan aku akan menghujat tepat di depan wajahnya. Kalian boleh tidak menyukai kucing, tapi jangan sampai kalian menyakiti mereka. Apa yang kita tanam adalah apa yang nantinya kita panen.


0 comments:

Post a Comment