Monday, 24 April 2017

Tamu Undangan


Waktu itu aku lagi buka instagram sambil iseng-iseng melihat gambar di timeline maupun di lampiran search. Sekarang intagram juga sudah memperbarui beberapa fitur yang semakin memanjakan penggunanya untuk bisa membagikan apapun yang bisa menambahkan daya eksistensi, di antaranya adalah snapgram dan intagram live. Dan akan membuat siapapun terasa sangat dekat walau aslinya tidak terlalu mengenal bahkan sama sekali belum pernah kenalan atau bertemu. 


Oke penjelasan di atas cukup FYI aja, aku akan lanjutkan cerita. Nah, saat itu lumayan banyak teman-teman yang membagikan foto atau video singkat di snapgram, karena lagi iseng dilihat  satu-satu. Dan saat melihat postingan dari Nura salah satu teman di SMK, aku tercengang karena gambarnya berisi UNDANGAN PERNIKAHAN! 

Aku baru lulus SMK tahun 2016 yang artinya baru satu tahun yang lalu, dan dia segera akan membina rumah tangga??? Saat itu aku membayangkan gimana nanti kalau reunian dua atau tiga tahun kemudian dia udah bawa anak atau bawa balita sekaligus gendong bayi. Tapi hal itu kutepis, dan langsung mengonfirmasi pada yang bersangkutan. Dia pun membenarkan.

Awalnya aku gak mau datang karena tempatnya di Jakarta dan waktu dulu belajar denah pake peta buta. Setelah berunding di grup kelas ternyata ada yang tau daerah tempatnya, akhirnya aku bersedia untuk hadir. Itung-itung reunian, dan ini juga menjadi undangan pernikahan pertama yang aku terima setelah sebelum-sebelumnya hadir di pesta pernikahan nebeng atas nama ortu.

Di hari H kita yang bisa hadir janjian di Stasiun Bekasi. Temanku yang sampai duluan di stasiun membeli kartu sekaligus untuk yang belum kelihatan batang hidungnya di sana, salah satunya aku. Jadi pas sampai di stasiun langsung di kasih kartu dan masuk melewati mesin sensor kartu untuk bisa menikmati layanan KRL (kereta listrik), sampai detik ini menjadi primadona transportasi umum rute JaBoDeTaBek selain busway atau transjakarta.

Berhubung naik kereta jadi terasa cepat sampai, dan kita berlima turun di Stasiun Jatinegara. Setelah turun dari kereta kita langsung memesan taksi online yang mengangkut dan mengantar sampai ke lokasi tujuan. 

Saat berjalan di luar stasiun kita sudah menemukan mobil dengan nomor polisi sama dengan yang tertera di aplikasi. Kita melangkahkan kaki menuju ujung pagar untuk bisa keluar dari wilayah stasiun. Ketika hampir sampai di ujung tiba-tiba aku merasa seperti terbawa oleh angin yang sangat kencang. Dan mencoba sekuat tenaga untuk bisa mengendalikan keseimbangan, mataku juga sampai kelilipan. 

Selang beberapa saat, aku dengar suara yang sangat kencang seperti benda berat jatuh, juga diikuti suara gaduh. Sempat menengok ke arah dalam stasiun, aku memperhatikan orang-orang berkumpul dan ratusan pasang mata tertuju pada jalur rel. 

Dan aku enggak bisa berkesimpulan apapun, karena belum tau apa yang sebenarnya terjadi. Terpaan hujan juga yang mempercepat langkah aku  dan yang lain untuk masuk ke dalam mobil. 

Aku beserta keempat teman yang lain dibuat keheranan sekaligus tergelitik saat baru saja berada di dalam mobil, dengan ulah supir taksi online yang sedang merekam keadaan di luar menggunakan smarthphonenya.

“Sebentar ya Mbak, saya mau dokumentasiin dulu,” ujarnya.

“Emang kenapa Pak?” tanya salah satu dari kami.

“Tadi kan ada benda terbang. Anginnya juga kenceng banget kan di luar?”

“Iyasih gue tadi ngerasa tiba-tiba anginnya kencang.” Jawab Yanti yang duduk di paling belakang bersama Vian.

Sedangkan aku yang duduk di bagian tengah bersama Tifa termenung mengingat kembali akan kejadian beberapa menit yang lalu. Dan menyangkut pautkan apa yang kudengar dengan pernyataan bapak supir taksi online itu.

“Tolong dong Mbak, peganging ponsel saya. Sambil terus di rekam ya?” pinta pak supir ke temanku Maidah yang duduk di paling depan alias di samping supir.

“Buat apa sih Pak?” kata Maidah tapi seraya mengambil ponsel.

“Ya, mau dijadiin berita. Kalau punya buktinya bisa dikirim ke media untuk jadi berita terkini,” terang pak supir sambil cengengesan. 

Lalu ia melajukan mobil perlahan supaya Maidah dapat menangkap gambar benda yang membuat heboh seisi stasiun. Beliau sama penasarannya dengan aku, benda apakah itu?

***

“Dimana alamatnya Mbak?”

“Di undangannya sih, Jalan Bunga Tulip No 4 Rt 08 Rw 12,” jawab Tifa.

“Oh deket itumah.”

Mobil berbelok ke kanan, masuk ke sebuah gang yang cukup luas. Gak jauh setelah mobil masuk, alarm penanda alamat yang dituju dari ponsel pak supir berbunyi. Yang artinya kita sudah sampai di tempat tujuan.

“Di gedung ini?”

“Katanya bukan di gedung Pak. Di rumah biasa.” Jawab Tifa mewakili yang lain.

“Ini juga ada yang nikahan di gedung. Dua pasangan malah. Coba liat nama yang tergantung di janur, ada nama teman kalian gak?”

“Enggak Pak. Bukan.”

“Tapi GPSnya udah bunyi, berarti di sekitar sini.”

“Coba Pak ke depan lagi siapa tau nemu rumahnya.”

“Atau coba tanya dulu aja sama warga sekitar sini,” usul pak supir yang aku tidak tahu namanya, mungkin Maidah tau karena saat memesan taksi online menggunakan ponselnya.

Karena takut nyasar, aku turun dari mobil untuk menanyakan lokasi alamat itu. Sebelum turun, Maidah menambahkan supaya aku juga tanya letak pabrik tempe milik Pak Solihin supaya lebih spesifik. Namun, seketika hujan turun dan gak ada satu pun dari kita yang bawa payung. Demi cepat sampai di tempat aku berlari menghindari hujan menuju sebuah warung yang jaraknya beberapa meter dari tempat mobil berhenti.

Di warung juga ada banyak orang, jadi kemungkinan besar bisa dapat info yang akurat kalau semua yang ada di situ adalah warga asli sini.

“Permisi. Maaf Pak, Bu, mau tanya kalau Jalan Bunga Tulip No 4 Rt 08 Rw 12 dimana ya?”

“Waduh gak tau mbak,” jawab seorang bapak yang sedang duduk pada bangku kayu. Aku melihat raut wajah yang lain seakan satu suara dengan bapak tadi yaitu, tidak tahu. 

“Hhmm, kalau pabrik tempe Pak Solihin dimana ya?” tanyaku lagi yang gak mau nyerah setelah mendapat jawaban yang tidak memuaskan.

“Ohh, kalau itu dari sini lurus ke depan ada pertigaan belok kiri, lalu ada gapura belok kiri lagi. Tapi mobil gak bisa masuk.” Jelas salah seorang ibu yang sepertinya pemilik warung.

“Begitu ya? Terima kasih Bu, Pak. Permisi.”

Aku kembali berlari menuju mobil karena hujan yang semakin deras. Setelah menjelaskan ulang apa yang dikatakan oleh seorang ibu yang berada di warung tadi, pak supir segera tancap gas. 

***

“Ini bukan nih?”

“Di janurnya bukan nama teman saya, Pak.” Kata Maidah.

“Beneran gak temennya nikah?”

“Ya, benerlah Pak. Masa capek-capek bikin undangan cuma buat ngerjain.” Kataku diikuti tawa kecil yang lain.

“Jadi kalian kapan menyusul?”

Suasana mendadak hening.

***

Dari Maidah yang duduk di depan hingga Viani dan Yanti di belakang sibuk menghubungi orang-orang yang sudah tiba di lokasi juga sang penganten selaku yang punya acara.

Aku merasa beruntung dapat supir taksi online yang sabar melayani kita mencari alamat yang semoga enggak palsu. Sambil menghubungi orang-orang yang memang bisa memberikan info terakurat, mobil terus melaju dengan perlahan sampai akhirnya tiba di ujung gang dan berada di jalan raya. 

“Udah dapet lokasi pastinya belum? Ini udah di jalan raya. Ke sana lagi enggak ada gang. Kalau kata saya pasti di sekitar gang di dalam tadi.” Ucap pak supir.

“Pada susah dihubungin nih Pak. Pengantennya juga,” ucap Yanti.

“Halo. Bil, lu udah nyampe di tempat?” tanya Maidah yang mendapat telepon.

“Gue sama yang lain nyasar nih. Malah ke jalan raya.”

“Iya gue udah ngelewatin gedung. Terus ada pertigaan belok kiri, gak jauh belok kiri lagi kan?”

“Lah kok ini malah ke jalan raya?”

“Masuk gang?”

Maidah yang masih berbincang dengan teman sekelas kita yang sudah sampai di tempat, sementara pak supir memutuskan untuk balik lagi menuju gang yang pertama kali dilalui. Hingga tiba lagi di gang menuju akses jalan raya di depannya. 

Dalam perjalanan sang supir sebenarnya mendapat orderan dari pelanggan baru, lalu beliau menerimanya sedang situasi masih mengantarkan kita kepada alamat yang sesungguhnya. Perkiraan awal akan segera menemukan rumah si penganten yang menjadi misteri saat  ini. 

Tapi karena ternyata perkiraannya meleset dan pelanggan di sana tidak mau meunggu lama, karena menunggu itu emang gak enak, eh. Akhirnya dia membatalkan untuk menggunakan jasa pak supir satu ini. waktu tau orderannya dibatalin aku rada nyesek sih. Gara-gara nyari alamat yang jalurnya kayak melalui labirin, beliau harus kehilangan mata pencahariannya. 

Tapi juga sedikit lega karena pak supir gak terlalu mempermasalahkan dan bahkan terlihat tulus membantu kita yang bukan orang Jakarta untuk sampai di tempat tujuan.

“Coba tanya lagi sama warga kan udah deket nih.” Seru pak supir.

Dengan hujan yang masih mengguyur bumi Maidah keluar dan menghampiri seorang bapak dan ibu yang sedang duduk di teras sebuah toko. 

“Eh turun udah sampe tinggal jalan ke dalamnya,” kata Maidah saat kembali ke mobil untuk mengambil tasnya.

Aku dan yang lain menuruti perintah Maidah, dan sebelumnya sudah sepakat untuk membayar kepada pak supir dua kali lipat. 

***

Kabarnya sih teman-teman yang udah sampai, juga nyasar dulu baru ketemu lokasinya. Dan aku yakin siapapun tamu undangan yang datang dari luar Jatinegara dan belum tahu posisi tempat bakalan bernyasar-nyasar dahulu, baru sampai kemudian, hahaha yaiyalah kesalahan yang menurutku cukup fatal sih. 

Tempatnya berlokasi di gang yang super kecil hanya bisa dilalui manusia dan kendaraan bermotor. Dan, mereka gak pasang janur kuning melengkung di depan gang yang sebenarnya udah dilewatin dua kali!

***

Di sana kita juga enggak mau berlama-lama mengingat hari sudah mulai sore, perjalanan menuju rumah juga masih panjang. Jadi hanya bertemu memberikan selamat, menikmati hidangan, berfoto bersama, setelah itu langsung pulang. Rombongan yang sampai duluan pun sudah berpamitan gak lama setelah kita datang. 

Ya, setidaknya kita sempat reunian walau terbatas oleh waktu.

***

Setelah pamitan dengan penganten kita mencari masjid untuk shalat ashar dulu biar hati tenang. Selesai shalat aku merasa ingin ke toilet untuk buang air kecil, tapi nahas gak ada satu toilet pun yang bisa ditemukan di sekitar masjid. 

Salah satu dari kita mengusulkan untuk mencari toilet di stasiun. Berhubung belum darurat banget aku pun menuruti. 

Di tengah jalan Vian memberikan kabar yang mengejutkan, dia diberi tau dari salah seorang yang sudah pamit duluan yaitu, Nisa, bahwa mereka masih berada di stasiun sejak satu jam yang lalu. Disebabkan kereta tidak beroperasi, dan mereka kebingungan bagaimana caranya untuk pulang.

Kita yang berada di dalam mobil pun ikut kebingungan, tapi kami tetap melanjutkan menuju stasiun untuk memastikan situasi dan menemukan toilet.

Dan ternyata benar di luar stasiun tampak banyak orang berserakan dengan wajah kebingungan. Saat masuk di stasiun aku bertanya kepada salah satu petugas di sana, dia bilang angin kencang tadi siang menyebabkan listrik padam dan atap di atas peron juga sebagian terbawa angin.

Jujur aku gak nyangka dan berpikir sejauh itu ternyata dampak dari angin kencang yang bikin heboh banyak orang, seserius ini. Dalam hati aku beristighfar dan berdoa kepada Allah agar selalu dalam perlindunganNya. 

Tapi aku bersama dua orang yang lain tetap masuk ke dalam stasiun untuk memenuhi hajat kami menemukan toilet. 

Di dalam stasiun kita bertemu dengan Nisa dan yang lainnya masih bimbang dengan perjalanan pulang. Lalu memberitahu mereka kita akan naik transjakarta.

Akhirnya mereka ikut dengan kita menggunakan transjakarta yang harus menunggu lumayan lama dan transit di beberapa tempat.

Karena kita gak paham dengan rute transjakarta, seharusnya menggunakan jurusan menuju Bekasi Barat supaya lebih dekat menuju stasiun –karena semua semua dari kita yang mengendarai motor, menitipkan di dekat stasiun-  kita malah naik yang arah Bekasi Timur. Artinya jarak yang ditempuh semakin panjang, waktu yang terbuang lebih lama, dan tidak dapat menghemat energi.

Sebab kita harus melewati jalan yang sama dua kali dan itu akan membuang waktu.

***

Kalau Anda ingin pergi ke suatu tempat tapi belum pernah sekalipun ke sana dan tempatnya tidak strategis sebelum berangkat cari informasi serinci mungkin untuk meminimalisir kesasar walau sebenarnya hanya muter-muter di sekitar lokasi.

Lalu tetap sedia payung walau saat keluar cuaca terang benderang bahkan panasnya matahari sangat menyengat, karena sekarang memang lagi musim hujan yang gak bisa diprediksi secara kasat mata kapan akan turun.

Juga, pelajari transportasi umum lainnya sebagai alternatif bila keadaan darurat terjadi. Yang terakhir mungkin gak terlalu penting tapi cukup membantu bila dalam perjalanan yang menguras energi, tiba-tiba perut bunyi, mungkin bisa sediakan makanan ringan untuk mengganjalnya.


Sekian.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Nazifah sebagai pemenang.

Nazifah Raisanjani

Biasa dipanggil Zifah, begitulah sapaan padanya. Gadis kelahiran Jakarta, 19 Maret 1998 ini sudah hobi menulis sejak SD. Terus berlanjut hingga saat ini. Dia pun menuangkan ide pikirannya pada sebuah blog yang menjadi jejaknya melalui tulisan. Berkat hobinya ia pernah menjuarai beberapa lomba kepenulisan. Seperti lomba menulis saat kartinian yang diadakan oleh sekolahnya sewaktu SMK, dan ia menjadi salah satu pemenang yang mendapat hadiah hiburan dalam mengikuti lomba blog dari Pop Ice. Baginya menulis adalah napas untuk menginspirasi banyak orang. Meski saat ini dia masih dalam tahap belajar, tapi tekadnya tak pudar untuk bisa menerbitkan satu buku sebelum mati, yang diharapkan dapat menjadi alasan bagi banyak orang menuju kebaikan. Ada sesuatu yang unik darinya yaitu, dia begitu tergila-gila dengan matcha atau green tea latte. Rasanya yang khas membuat lidahnya tak ingin ketinggalan satu momen pun saat menjumpai sebuah menu dengan bahan campuran matcha. Untuk mengabadikan kecintaannya ia menamai blognya dengan grintilatte.blogspot.com.

Bila ingin mengenalnya lebih dekat ada beberapa media sosial yang dapat dihubungi :
Facebook : Nazifah R
Instagram : @zifahra
Twitter : @zifah03
Email : zifah19@gmail.com

0 comments:

Post a Comment