Friday, 7 April 2017

Tas Kresek, Gengsi dan Menjaga Bumi

Tas kresek adalah aksesoris yang tidak bisa lepas dari kegiatan belanja. Mulai dari belanja sayur dari gerobak, toko kelontong, minimarket, supermarket, hypermarket, sampai outlet-outlet mentereng di mall. Sudah jadi pengetahuan umum, bahwa fungsi tas yang terbuat dari plastik ini, untuk menampung barang belanjaan agar tidak repot membawanya, agar barang-barang tidak berceceran, dan mencegah barang ketinggalan di meja kasir.


Di sela-sela ngedumel sambil mengeluarkan sekeping logam 20 sen untuk membayar ekstra charge selembar tas kresek, aku pun terkenang kejayaan masa silam. Jauh sebelum pemerintah kerajaan Malaysia menerapkan aturan pembatasan penggunaan tas kresek alias beg plastic dalam bahasa lokalnya. Jauh sebelum tas kresek dihargai 20 sen per lembar ketika berbelanja di toko (itupun kasirnya kudu tanya, mau tas kresek?) dan jauh sebelum penghuni planet bumi sadar akan pentingnya aksi penyelamatan lewat program Go Green.

Pada zaman ketika supermarket masih dianggap tempat keramat (bagi kebanyakan warga kampung kami yang berpengasilan pas-pasan), orang-orang kampung yang pulang bepergian sembari menjinjing tas kresek berlogo supermarket itu, menjadi pusat perhatian. Sepanjang jalan kenangan dari gapura kampung, slempitan gang, hingga pintu rumahnya, orang kampung menegur, ‘Wah, mborongi...’ atau ‘Orang kayaa…’ atau minimal melirik. Yang diperlakukan demikian cuma mesem, senyum terkulum, pura-pura tersipu malu, lantas ngeloyor masuk rumah lalu cekikikan. Menjinjing tas kresek dengan logo supermarket itu, bak menjinjing gengsi tersendiri, dianggap kaya, kekinian dan sangar (isi dompetnya).

Maka, menenteng tas kresek dengan logo supermarket itu pun sempat ngetrend. Tak jarang ibu-ibu hanya membeli sebatang sabun mandi, sebotol shampoo, dan roti sobek, minta diberi plastik ukuran besar. Ruang yang tersisa kemudian dijejali sawi, kol, tomat, dan terong, serta apem dan lemper yang dibeli dari pasar berdekatan.

Sesampai di rumah, setelah membongkar barang belanjaan, tas kresek dilipat kembali, tentunya jika tidak kotor, basah, atau terkoyak. Kemudian, besoknya belanja ke pasar induk dengan wadah tas kresek yang sama, yang ada logo supermarket itu-nya.

Hobi mengumpulkan kresek berlogo supermarket itu, kemudian menjangkiti mbah Amat, tetangga kami yang berjualan sayuran, tempe, tahu, pentol bakso, telur, dan bumbu dapur. Entah dari mana ide itu berasal, Mbah Amat membuka promosi, menukarkan sebutir telur ayam dengan sekresek tas kresek berlogo supermarket itu. Kesempatan itu tidak disia-siakan, emak kami turut mengeluarkan koleksi tas kreseknya, ditukar telur, buat nambah lauk anak-anak agar tidak kurang gizi. Tentu saja, inisiatif Mbah Amat, bukan iseng semata, ini dilakukannya dengan maksud menurunkan cost membeli tas kresek baru. Siapa sangka, inovasi Mbah Amat disambut gegap gempita oleh ibu-ibu kampung Kemejing.

Inovasi Mbah Amat, baginya memang tak ada hubungannya dengan menjaga bumi. Boro-boro menjaga bumi, menjaga asap dapurnya sendiri saja, mbah harus memutak otak. Mbah Amat bahkan mungkin tidak tahu, yang sampah plastik susah diurai tanah, susah membusuk, mengakibatkan lumba-lumba di laut mati tersedak, menyebabkan pendangkalan sungai, dan mengganggu jalur air bawah tanah. Tapi, tanpa sepengetahuannya, Mbah Amat telah membantu menjaga bumi, dengan program ala-ala 3R (reduce, reuse, recycle) yang digelar di warungnya.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Tyas sebagai pemenang.

Tyas Maulita

Mahasiswa semester akhir jurusan Ilmu Komunikasi UT Kuala Lumpur, penikmat kopi sachetan yang suka menggambar kartun.

0 comments:

Post a Comment