Tuesday, 25 April 2017

Tentang Orang Yang Berhubungan Jarak Jauh

SEMUA orang pernah merasakan udah bingung mau ngomong apa pas teleponan, tapi masih terlalu malas buat matiin sambungan. Berhubung gue dan si pacar LDR, momen seperti ini sering kali terjadi. Ketika kangen, mendengar suara dia adalah perasaan pertama yang harus dikabulkan. Masalahnya, perasaan pengin denger suara dia tidak selalu berbanding lurus dengan topik obrolan yang kita miliki. Ketika masih pengin denger suara dia, tapi sudah tidak punya bahan pembicaraan, yang terjadi adalah seperti ini:


"Kamu ngomong dong," bujuk gue, menekan telepon lebih keras ke telinga.

"Hah? Aku ngomong apa?"

"Ya apa aja," jawab gue. "Aku lagi pengin denger suara kamu nih."

"Hihiihhi nggak mau, ah."

"Lho, kenapa nggak mau?"

"Malu," kata si pacar, diam sebentar, lalu melanjutkan sambil ngikik, "Iya, malu. Hihihihhiihi."

"Malu? Malu kenapa? Bukannya setiap hari kamu ngomong biasa aja?"

"Yaa... malu aja. Hihihhihi."

"Oh gitu." Gue menghela napas. "Ya udah, nggak jadi, deh."

"Iya. Hihihihihhihih."

Percakapan ini membuktikan, kangen dapat mengubah seseorang menjadi kuntilanak.

Seperti lazimnya orang yang menjalani hubungan jarak jauh, cara paling ampuh untuk kami mengatasi kangen adalah dengan teleponan. Kata teman gue, orang yang pacaran jarak jauh berarti akan pacaran sama hapenya. Telepon genggam diibaratkan sebagai pacar versi portabel. Jika orang normal harus mempersiapkan pakaian keren dan wangi ketika menjemput pacarnya, orang yang pacaran jarak jauh harus mempersiapkan baterai handphone ke mana-mana. Pakaian rapih tidak lebih penting dari handphone yang terus menyala.

"Sekarang ini lagi ada film apa sih yang seru?" tanya si pacar, memulai pembicaraan.

Ini yang membedakan kami. Dia adalah orang yang termasuk movie freak. Di laptopnya ada ratusan film yang sering dia putar berulang kali. Aktor favoritnya adalah Jim Carey. Buat dia, semua film seru, kecuali film horor lokal yang image-nya memang sudah jelek duluan. Sementara gue sangat jarang menonton film. Dibanding menonton, gue lebih senang membaca buku. Tipikal seorang bookworm yang ke mana-mana selalu bawa buku di dalam tas.

"Sebentar, ya." Gue bangkit dari kasur dan berjalan ke arah meja. Gue kemudian menyalakan laptop dan membuka situs bioskop itu. Setelah mengecek daftar film, gue berkata, "Hmmm gak ada yang seru, deh."

"Masa sih? Emang adanya apa aja?"

Gue menyebutkan satu per satu nama film yang ada. Satu-satunya film yang gue rekomendasikan adalah Begin Again, film yang menceritakan tentang sepasang kekasih sekaligus musisi, tetapi masih coming soon. Karena tidak ada yang seru, gue mencoba mencari judul film yang dapat dijadikan bahan pembicaraan. Lalu, di pojok bawah daftar film, gue menemukan satu buah film dengan poster bergambar rumah.

"Nih, ada yang seru."

"APA APA APA?" tanya dia, antusias.

"Judulnya Rumah Kosong." Gue melanjutkan dengan bohong, "Bagus nih."

"Uh. Horor ya? Tentang apa itu?"

"Iya, jadi nanti kamu nonton rumah kosong," kata gue, diam sebentar lalu melanjutkan. "Selama satu jam penuh kamu nontonin kontrakan kosong gak laku-laku."

Di ujung telepon langsung terdengar suara tawa yang renyah. Sebuah suara, yang, tanpa disadari, membuat pipi gue menjadi merah.

--

YOU know, menjalin hubungan jarak jauh juga berarti menjadi manusia paling norak di dunia. Ada masanya di mana pada suatu malam ketika kita kangen, lalu seolah dari bantal muncul aroma dia yang membuat kita tidak bisa tidur semalaman.

Dan malam ini, gue kangen.

"Kok tiba-tiba ada harum kamu ya di bantal aku," kata gue, melanjutkan.

Lalu ada hening sebentar. Mungkin dia tersipu, mungkin juga dia ke dapur ngambil kantung kresek dan muntah saking gelinya mendengar kalimat gue barusan.

"Di bantal aku juga ada aroma kamu, lho," kata dia. Suaranya pelan dan merdu.

"Masa? Kan aku belum pernah ke Manado?"

"Ya kamu, kan, bau iler."

"..."

Lalu, selazimnya orang yang pacaran jarak jauh, kami membahas masa itu. Bagi pasangan jarak jauh yang berbeda pulau seperti kami, masa-masa terindah adalah pertemuan di bandara. Bagaimana gue menjemputnya di bandara. Bagaimana gue, dengan jaket cokelat yang tergantung di bahu kiri, sambil memegang ice cream cornetto strawberry di tangan kanan, menunggu dia keluar dari balik pintu sana. Bagaimana dengan bertemu dia, gue jadi tahu bahwa bandara adalah cerminan nyata dari dua sisi kehidupan.

Gue masih ingat aura itu.

Ketika menjemput, gue merasakan bahwa semuanya terasa sangat indah. Jantung gue berdebar tidak karuan. Tangan gue menekan keras es krim strawberry, membuatnya meleleh lebih cepat dari biasanya. Lalu gue melihat orang-orang lain yang juga sama seperti gue. Ada decit trolley yang diisi koper dan didorong terburu-buru. Ada tangan yang terbuka, meminta untuk segera dipeluk. Ada orang-orang lain yang duduk menunggu. Ada rindu yang berserakan.

Sebaliknya, ketika mengantarnya pulang, bandara membawa gue ke dunia yang sama sekali berbeda. Gue melihat bandara sebagai tempat perpisahan. Di baik tawa lebar para penjemput, ada senyum getir para pengantar. Di belakang keramaian pertemuan, ada genggaman tangan yang dilepas. Ada pelukan yang dibuka paksa. Ada air mata yang terurai.

Terus terang, gue paling menghindari yang namanya berhubungan jarak jauh. Apa enaknya menjalin hubungan dengan orang yang jauh di sana? Mungkin ada yang mengatakan bahwa menjalin hubungan jarak jauh diibaratkan dengan menggali harta karun. Jarak diibaratkan sebagai tanah yang setiap hari kita gali, sampai, pada waktunya dua orang itu bertemu, mereka akan mendapatkan 'harta karun' yang sesungguhnya. Namun, kalau memang seperti itu, bagaimana dengan kisah orang-orang yang sudah putus sebelum mereka sempat bertemu? Mereka yang sudah melempar sekop, menyerah sebelum sempat menemukan 'harta karun'.

Menjadi orang yang memutuskan berhubungan jarak jauh juga tidak enak sewaktu malam minggu. Setiap keluar rumah, rasanya iri melihat orang-orang di luar sana bergandengan tangan. Ngelihat orang pelukan di motor membuat gue sebal sendiri. Gue juga masih tidak mengerti kenapa banyak sekali gaya dari orang yang pelukan di motor. Untuk pasangan normal, biasanya si cewek akan memeluk si cowok sambil menyenderkan kepala di pundaknya. Pasangan romantis, sedikit berbeda, si cewek akan memeluk si cowok sambil memasukkan tangannya ke kantung jaket si cowok. Untuk pasangan ekstrem, si cewek bakal naik ke pundak si cowok, lalu ngibarin bendera slank.

Bersebelahan di lampu merah dengan orang yang pacaran sambil boncengan selalu bikin hati gue panas. Gue menengok ke arah mereka: si cewek lagi asyik cubit-cubit pinggang si cowok. Gue ngelihat jok belakang: lumutan.

Sedih.

Laki-laki yang menjalani hubungan jarak jauh harus siap naik motor sendirian ke mana-mana. Saking lamanya gak ngeboncengin orang, jok motor bagian depan gue menjadi keras dan tipis, sementara bagian belakang busanya masih empuk dan tinggi. Dilihat dari belakang, gue kayak orang cebol yang baru belajar naik motor. Kalau jok motor gue manusia, dia pasti udah teriak demo: "Kami butuh kesetaraan pantat!"

Menjadi orang yang behubungan jarak jauh juga berarti harus kreatif. Hubungan jarak jauh adalah tipikal hubungan yang paling rentan mengalami kebosanan. Dua orang yang berhubungan jarak jauh harus saling mengisi dan membuat semuanya tampak selalu baru dan menarik. Berhubung sama-sama blogger, kami memutuskan untuk membuat blog yang kami rawat bersama-sama. Orang yang berhubungan jarak jauh juga harus menekankan kepada komitmen yang baik, bukan saling curiga satu sama lain.

Gue punya teman yang selalu sebel sama pacarnya yang curigaan. Karena mereka berhubungan jarak jauh, si pacar selalu meminta foto setiap kali teman gue pergi ke mana pun. "Masa sih kamu ke sana? Sama siapa aja? Coba foto dulu," kata pacarnya. Setelah bertahun-tahun mempertahankan, teman gue akhirnya meminta putus karena tidak tahan.

Menjadi orang yang berhubungan jarak jauh juga paling tidak enak ketika kangen. Tidak ada yang bisa kita lakukan ketika ingin menyentuh pipinya, atau mengelus rambut panjangnya. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan orang yang berhubungan jarak jauh ketika kangen adalah... bengong. Bengong adalah cara kami bekerja. Orang yang bengong sendirian hanya ada dua jenis: 1) orang yang berhubungan jarak jauh yang lagi kangen, atau 2) orang yang bentar lagi kesurupan.

Hal yang paling sering terjadi adalah seperti ini; orang yang berhubungan jarak jauh akan tiduran di kasur, menatap langit-langit kamar sambil bengong. Matanya menerawang jauh, sesekali terpejam sambil membayangkan si dia di sana. Kalau kangen dibayar, jajaran orang terkaya di dunia pasti didominasi orang-orang yang berhubungan jarak jauh.

Si pacar masih berbicara sendiri di telepon.

Gue tidak fokus, kangen.

Gue hanya samar-samar mendengar cerita tentang kita yang kerap kali nyasar sewaktu bepergian kemarin. Cerita tentang dia yang akhirnya kenal dengan orang tua gue. Cerita tentang dia yang pertama kali naik commuter line. Cerita tentang celana hitam dia yang menjadi merah karena es krim yang gue berikan di bandara keburu meleleh dan tumpah sebelum sempat dimakan. Cerita tentang dia yang selalu heboh setiap kali menyaksikan cahaya lampu Jakarta di malam hari.

"Lucu ya, kita." Gue akhirnya membuka suara.

"Lucu gimana?"

"Ya lucu aja," kata gue. Nada suara gue bergetar, antara grogi dan excited. Perkenalan kami memang hanya dimulai dari sosial media bernama Twitter.

Sampai, setelah beberapa kalimat kemudian, sebuah pertanyaan terlontar dari mulut dia.

"Emangnya kenapa sih kamu mau sama aku?"

"Hah? Maksud kamu?"

"Ya, iya," jawab dia. "Kenapa kamu mau sama aku, yang dari awal jelas-jelas jauh dari kamu. Yang nggak keliatan aslinya. Kenapa kamu mau sayang sama aku?"

Gue terdiam sejenak. Terus terang, sampai sekarang gue masih heran kenapa bisa sama dia. Dari berjuta perempuan lain, dengan perbandingan laki-laki dan perempuan yang satu banding empat. Juga dengan banyak pilihan perempuan yang jaraknya terbilang dekat.

Kenapa ya? Kenapa harus dia?

Lalu gue mencoba berpikir seperti ini:
Jatuh cinta, seperti kelahiran seorang bayi, bukanlah sesuatu yang bisa kita buat. Tetapi, menurut gue, jatuh cinta adalah sesuatu yang dititipkan.

Mungkin di suatu tempat Tuhan sedang melihat gue, lalu Dia bilang, "Wahai Kresnoadi, Aku titipkan seorang perempuan ke kamu, melalui sebuah perasaan. Jaga dia, rawat dia, lalu tumbuhlah bersama dia." Lalu TRING! perasaan itu muncul begitu saja.

Pikiran gue mengawang-awang lebih jauh. Hubungan kali ini adalah hubungan yang cukup aneh buat gue. Hubungan kami hanya diawali oleh sebuah pertemuan, yang, kalau boleh dibilang, jauh dari kata sempurna. Berbeda dengan kopi darat kebanyakan, pertemuan pertama kami diakhiri dengan cara yang kurang mengenakkan.

Hubungan yang kalau gue pikir kembali, menjadi the weirdest thing I have.
Yet I love.

Terkadang, kita salah persepsi tentang sebuah hubungan. Kita selalu mencari seseorang yang kita anggap sempurna. The one who perfectly perfect. Perempuan yang rambutnya harus bergelombang, atau laki-laki yang lebih tinggi dari kita, atau yang isi dompetnya tebal. Atau, bagi sebagian cowok, mencari perempuan ideal berarti mencari sosok yang mau diajak makan di warung pecel lele pinggir jalan.

Mungkin itu jawabannya. Menjalin sebuah hubungan adalah persoalan menjalin ketidaksempurnaan. Bagaimana kita saling tahu bahwa kita sama-sama tidak sempurna. Bahwa untuk menerima ketidaksempurnaan, dibutuhkan perasaan yang juga tidak sempurna.

Menjalin sebuah ketidaksempurnaan juga berarti menjalin keseriusan. Karena saling sadar dengan ketidaksempurnaan masing-masing, kita menjaga hubungan ini dengan serius dan hati-hati. Berteman dengan ketidaksempurnaan adalah berteman dengan masalah-masalah yang ada di dalamnya.

"Halo?" tanya dia kembali.

"I-iya."

"Hei. Jadi, kenapa kamu mau sama aku?"

"Emm. Iya," jawab gue, menarik napas panjang, lalu mengakhiri obrolan malam itu dengan berkata, "Aku mau sama kamu, soalnya, kamu gak sempurna."

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Kresnoadi sebagai pemenang.

Kresnoadi DH

Pianis yang menggunakan keyboar qwerty. Suka joged sembarangan. Lebih suka kalau habis joged ada yang kasih duit. Blogger di keriba-keribo.com

4 comments:

  1. I think I know who's the girl in this story.. :D

    ReplyDelete
  2. hihihihi lucu kocak tulisannya, LDR-an bisa sebegitunya ya. kudu kreatif banget kalo menggali bahan obrolan terus

    ReplyDelete
  3. Aduh. Mata berkaca-kaca baca ini. Kampreeeeeeet. Kampreeeeeet. AAAARRRRRRRGHHHH!!!! KAMI BUTUH KESETARAAAN PANTAT!!! AAAAAAAK.

    Jadi ngerasa asdfghhl;;a@$%&)$)_$ telek rengat baca ini. Lucu-romantis-sedih. Auk deh. Auk. Auk. Auk. Huhuhuhu. Ngerasa relate sama ini, tapi itu udah beberapa waktu yang lalu. :')

    ReplyDelete