Saturday, 15 April 2017

Teringat Sepanjang Hayat: ‘Tragedi’ Gelas Plastik dan Pulsa

Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Kata pepatah seperti itu. Semakin banyak pengalaman, maka semakin cerdas pula seseorang dalam menyikapi masalah. Tapi entah mengapa pepatah itu tidak berlaku pada saya. Saya sudah dapat pengalaman yang sangat berharga. Akan tetapi dikemudian hari, terjadi kesalahan serupa yang kemudian saya sebut pengalaman lagi. Mungkin kata bebal sudah melekat pada diri saya.


Ada banyak kejadian yang sangat memalukan untuk saya. Bodohnya, pengalaman itu berulang dengan fokus masalah yang hampir mirip. Memalukan sekali. Mengingatnya saja saya tidak mau karena terlalu malu.
Cerita pertama berawal ketika saya yang sedang kebingungan karena mencari gelas plastik untuk acara diskusi di kampus. Waktu itu saya menjadi sie konsumsi, sehingga saya bertanggung jawab pada berbagai hal yang menyangkut pada konsumsi, termasuk gelas plastik. Nah, kenapa gelas plastik? Karena gelas plastik digunakan untuk minum. Sudah, sudah! Yang itu tak perlu dibahas.

Pokok permasalahannya adalah saya ingat betul bahwa sebelum acara diskusi, saya melihat gelas plastik sisa acara pensi yang baru saja berlalu di sekretariat. Seingat saya masih ada satu set gelas plastik yang tersisa. Akan tetapi saya cari ke sana ke mari tak kunjung ketemu. Lemari, meja, rak-rak, bahkan kolong kursi pun saya obrak abrik untuk menemukan gelas plastik itu. Tapi nihil!

Saya ribut mencari gelas plastik selama kurang lebih sepuluh menit. Berpindah-pindah tempat mencari gelas plastik. Kemudian seperti mendapat wangsit, saya melihat di sekretariat ada salah satu anggota sie konsumsi acara pensi. Sebut saja namanya Damar. Dia sedang duduk santai di karpet sekre, berbincang dengan beberapa teman kelasku.

Sebenarnya saya tak terlalu akrab dengannya.  Dia adik tingkat saya, kalian tau? Kami pun bertemu baru beberapa kali. Dasarnya muka badak, kepepet tidak ketemu dengan gelas yang saya maksud, saya tanya si Damar.

“Dek, dulu habis pensi, kamu naruh gelas plastiknya di mana?” tanya saya sok akrab.

Damar menoleh ke arah saya, namun diam saja sambil memasang tampang datar. Saya yang tak menyerah kembali bertanya dengan nada menuntut. Betapa tidak? Acara sudah hampir mulai, tapi gelas plastik belum ketemu. Ingin beli, tapi dana yang diberi sangat mepet.

“Dek, dulu habis pensi, kamu naruh gelas plastiknya di mana ya?” tanya saya sekali lagi.

Damar masih diam dan menatap saya dengan alis bertaut. Rasanya saat itu ingin saya acak-acak mukanya. Dia tidak tau betapa saya sedang bingung kehilangan gelas plastik! Dia ditanya malah diam saja seperti itu. Siapa yang tidak kesal?

“Mar, kamu taruh dimana? Sekarang mau saya pakai buat diskusi soalnya,” menyingkirkan adab sopan santun, nada bicara saya mulai meninggi. Biarlah, habisnya dia seperti orang bisu. Ditanya dari tadi tidak menjawab.

“Mukaku kayak mahasiswa baru ya?”

Disitu rasanya ingin kusemprot saja mukanya itu pakai air kembang tujuh rupa. Sudah ditanya berkali-kali, malah dijawab dengan pertanyaan yang tidak penting.

“Enggak. Mukamu itu kayak mas-mas udah semester tua. Udah, sekarang mana gelas plastiknya!” saya mulai tidak sabar. Sudah cukup saya bersikap sopan dengan dedek emesh yang satu ini.

“Eh, mukaku ini emangnya kayak mahasiswa baru ya?” Damar malah bertanya pada teman-temannya yang tadi mengobrol dengannya. 

Saya melihat wajah teman-temannya tengah menahan tawa. Mereka menutup mulutnya seolah takut bila tawanya itu akan dilihat oleh orang lain.

Saya heran. Mereka itu kenapa? Malah tertawa tidak jelas begitu.

“Mar, kan kemarin waktu pensi kamu sie konsumsi kan? Kamu ngletakin gelas plastiknya dimana? Mau dipakai nih,” tuntutku lagi.

“Dek, saya tuh bukan mahasiswa baru ya. Saya tuh sudah semester 7,” Ujarnya datar.

“Haduh, Mar. Beneran deh, ini temen-temen yang lain udah nungguin gelas plastiknya. Kamu jangan bercanda ah!”

“Ya terserah mau percaya atau enggak. Saya bukan dek yang kamu maksud,” ucapnya lagi cuek.

Mata saya beralih pada teman-temannya yang masih menahan tawa. Rasa malu tiba-tiba merasuk ke dalam diriku. Bodoh. Jadi sejak tadi saya salah mengenali orang! Rasanya ingin saya tenggelam saja, menghilangkan rasa malu yang mungkin akan awet seumur hidup. Teman-temannya bukannya memberitahu, malah tertawa puas di sana. Menertawakan diri ini yang bak orang bodoh di sini.

Tak tahan ditertawakan diam-diam oleh teman-temannya, saya pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan kata maaf. Sudah ah. Saya sudah cukup menanggung malu. Saya tidak mau tertimpa malu lagi dengan mengucapkan kata maaf. Saya pergi dengan wajah seolah tak peduli yang tentunya dibuat-buat. Biarlah mereka melabel saya sebagai orang yang tak tau kata maaf atau apa. Yang pasti saya ingin segera enyah dari tempat itu. Segera!

“Maafkan saya ya, Mas. Sesungguhnya saya juga ingin minta maaf secara langsung. Tapi rasa malu yang sudah terlanjur menggunung ini menghalanginya,” dalam hati selalu saya ucapkan hal itu.

Semenjak itu, teman-teman sering menggoda dan mengejek saya. Huh, memang saya juga sih yang terlalu bodoh untuk mengenali orang. Ternyata Damar dan Mas itu memang cukup mirip. Postur tubuhnya mirip. Bedanya, si Damar pakai kacamata, sedangkan Mas itu tidak. Heuh. 

Bodohnya lagi, tragedi salah mengenali itu terulang lagi! Wah, saya malu sekali. Maka dari itu, sejak awal saya bilang bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik itu tidak berlaku untuk saya. Saya melakukan kesalahan yang sama!

Kejadiannya sama, di sore hari, saya kehabisan pulsa. Saya memutuskan untuk mampir di counter yang letaknya searah dengan jalan pulang. Saya pun berhenti dan duduk di depan etalase. Ada sekitar tiga orang di counter itu. Semuanya pria. Seorang mas-mas berjalan ke arah saya.

“Pulsa ya, Mas.”

Dengan cekatan, Mas tadi mengangsurkan sebuah buku pulsa dan sebuah pena untuk saya menulis nomor. Saya menulis dengan benar-benar teliti, karena saya tidak hanya membelikan pulsa untuk saya sendiri, tapi juga untuk adik. Jangan sampai salah tulis. Nanti salah-salah, saya yang rugi. Kan repot.

Setelah selesai, saya menyerahkan buku tadi ke Masnya. Dengan cekatannya lagi, Mas itu langsung mengambil hape dan mulai mengetikan sesuatu di sana sambil melihat tulisanku di buku tadi. Sambil menunggu Masnya mengirim pulsa, saya melihat-lihat kartu perdana di etalase counter itu. Seolah diingatkan, mata saya beranjak menuju deretan perdana a***. Saya baru ingat bahwa Bapak berpesan untuk dibelikan nomor baru.

Saya melihat-lihat perdana dan memilih nomor cantik yang mudah dihafalkan. Ketemu! Saya menemukan nomor yang susunanya mirip dengan nomor saya dan adik, sehingga mudah untuk dihafal.

“Mas, mau nomor yang itu dong,” saya menunjuk satu sudut etalase. Masnya langsung menunjuk nomor yang saya maksud, kemudian mengeluarkannya.

“Diaktifkan sekalian ya, Mas,”

Masnya hanya mengangguk. Sepertinya tugasnya mengirim pulsa ke nomor yang saya tulis tadi sudah selesai. Mas-mas itu sekarang terlihat mengaktifkan nomor yang saya minta tadi. Prosesnya cukup lama, hingga saya merasa gabut.

Mata saya berkeliling di counter kecil itu. Ada satu buah televisi dan dua hape jadul untuk mengirim pulsa. Di pojok ada dua orang pria yang berbincang-bincang sambil menonton televisi. Mereka kadang tertawa dan kadang serius menonton televisi. Sedangkan Mas yang satunya sedang mengaktifkan kartu. Kalau dilihat-lihat, agak horor juga. Karena ketiga pria itu semuanya memakai baju hitam. Mereka habis takziah kah? Kok bisa seragaman seperti itu?

Setelah cukup lama pikiran saya melantur ke mana-mana, Mas tadi menyerahkan kartu perdana yang sudah diaktifkan.  Saya menerima kartu itu dengan lapang dada. Eh.

“Jadinya berapa, Mas?” Mas-masnya menghitung dengan cukup cepat. Padahal belajaan ini tidak hanya satu macam loh.

“Jadinya 44.000,-, Mbak,”

Mata saya terbelalak. Bukan karena nominal yang disebutkan, tapi karena suara yang keluar dari mulut Mas itu... adalah suara wanita!
Muka saya merah padam setelahnya. Saya menutup mata, merutuki kesalahan yang kedua kalinya ini. Saya juga menggelengkan kepala, menampik bahwa hal yang sejak tadi saya lakukan di counter ini adalah hal yang memalukan. Saya ambil selembar uang 50.000 dari dompet, lalu menyerahkannya pada Mas, eh pada Mbaknya.

Saat Mbak itu mengambil uang kembalian, saya mencermati lebih dalam wajahnya. Memang benar. Wajahnya bukanlah wajah sangar seorang pria. Saya alihkan pandangan ke tangannya. Tangannya pun mulus tak kasar seperti tangan pria. Saya menghembuskan nafas kasar. Saya mempermalukan diri sendiri lagi.

Seandainya saja Mbak tadi bicara sejak kali pertama saya duduk membeli pulsa di counter itu, pasti saya tidak akan salah sangka. Habis, tampilan Mbaknya memang seperti pria. Rambutnya dipotong pendek seperti pria, dengan kaos hitam lengan pendek. Teman-temannya pun pria. Siapa yang akan menyangka bila Mbak tadi adalah seorang wanita. Kalau saja saya tidak mendengar suaranya, sudah pasti hingga sampai rumah pun saya tidak tau jika Mas counter tempat saya beli pulsa adalah seorang wanita.

“Kembaliannya 6.000 ya, Mbak,” ucapnya pelan.

“Terima kasih,” Sambil menahan malu saya menjawabnya. Tak perlu lagi menambahkan embel-embel Mbak atau Mas dibelakangnya. Yang terpenting adalah maknanya.

Saya yakin, setelah pergi dari counter itu, seluruh penghuni counter tadi akan tertawa terbahak-bahak. Khususnya adalah Mbak tadi. Rasanya saya ingin meminta maaf, tapi kok wajah ini seperti sudah tidak kuat untuk menanggung malu sekali lagi. Sudah cukup katanya.

Sejak saat itu saya berjanji pada diri sendiri bahwa tidak akan membeli pulsa di tempat itu lagi. Sudah cukup diri ini menanggung malu! Saya juga takut jika mbak-mbak counter tadi mengenali wajah saya dan menyantet saya karena salah memanggilnya dengan sebutan Mas berkali-kali.

Sudahlah. Cukup ya cerita saya tentang kisah memalukan saya. Hal yang membuat malu itu sepele, tapi malunya itu sampai sekarang masih ada, seolah bekasnya itu permanen. Kesimpulannya, jangan sampai salah mengenali orang. Ini adalah pengalaman untuk kalian juga ya. Harus kalian perhatikan. Bila tidak, seumur hidup hal itu akan terkenang di benak setiap orang yang terlibat dalam momen tersebut.

Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa.
 
Niki Yuntari 

 Gadis kalem yang lahir di Yogyakarta. Ia menjadi sulung dari dua bersaudara. Saat ini masih menjadi anak kuliahan yang terus belajar dan akan terus belajar. Hobinya menulis, membaca, dan mendengarkan musik asik.

0 comments:

Post a Comment