Wednesday, 26 April 2017

Terjebak di Diskusi 3 Tokoh Sakral

Malam ini aku mulai kebingungan mesti harus ngapain, hingga akhirnya aku meminjam laptop temanku yang terkadang sering memperlihatkan wajah masamnya ketika laptopnya di pegang. Ah, aku rasa ini anak pms berkepanjangan hingga dia selalu memperlakukanku seperti itu. Hmm, lupakan saja dia karena aku takut nanti saudara-saudari terpangaruh untuk menjadi sepertinya. Maksudku meminjam laptop pada malam ini hanyalah untuk memencet-mencet keyboard laptop hingga aku bosan menekannya. Entah apa jadinya nanti yang jelas maksudku kesampaian. Terima kasih laptopnya teman, karena laptopmu malam ini aku ada kegiatan. Hehe.


Malam ini aku akan ceritakan sedikit hal tentang diskusi serius antara 3 sosok pemuda yang katanya jadi idola kaum wanita bahkan yang separuh wanitapun mengidolakannya. 3 pemuda ini terlihat sangat tampan apabila dilihat dari kejauhan. 3 pemuda ini selalu belajar menjadi pemuda-pemuda yang berkharisma. Bahkan mereka bertiga rela menghabiskan kuota internetnya hanya untuk belajar dari seorang Ronald Frank. Mudahan-mudahan mereka memiliki pengahasilan tetap untuk memperlancar kuota internetnya, dari pada menghabiskan duit orang tuanya.

Supaya saudara-saudari tidak penasaran, mungkin alangkah lebih baiknya aku akan memperkenalkan 3 orang aneh ini. Yang pertama namanya si sunguik, itu nama tenarnya yang mengalahkan nama aslinya sendiri. Dia seperti orang yang sangat polos sekali bahkan istilah orang minangnya dia sering luruih tabuang se. Tapi aneh ini pemuda, di tengah-tengah kepolosannya banyak tingkah laku unik yang selalu mengejutkan dari dirinya, bahkan ini anak bisa memerankan seorang tokoh unik di dalam penampilan pompom boys. Hebatnya lagi ini pemuda seorang yang ahli memainkan biola sampai-sampai memiliki jadwal manggung setiap minggunya. Ah, aku jadi ngiri sama ini anak karena duluan bisa main biola dari pada aku. Pemuda yang satu ini namanya semakin melejit-lejit, setelah ada study lapangan yang mengatakan wajahnya mirip dengan vokalis band Payung Teduh. Gila, dia semakin naik daun entah daun apa yang menungganginya. Tapi yang jelas aku kebingungan entah karena mirip vokalis payung teduh, entah karena hebat main biola atau karena tampil hebat dalam peran pompom boys dia semakin dikenal orang. 

Kita lewatkan saja dia. Masuk ke tokoh selanjutnya yaitu nando yang sering aku panggil si jok nando. Tapi dia kayaknya kurang pede dengan namanya sendiri, hingga setiap berkenalan sama orang lain namanya di ganti dengan nama bintang. Bintang kejora, bintang di langit, bintang laut entah bintang apalah nama lengkapnya yang jelas aku tetap saja memanggil dia jok. Tidak terlalu banyak yang bisa aku deskripsikan tentang sosok pemuda yang satu ini, karena orangnya tak pernah menunjukkan konsistensi gaya dan tingkah lakunya. Dia bisa menjadi si a, si b, dan si c dalam satu hari. Tapi yang bisa aku tangkap dari sosoknya adalah memiliki kegilaan dengan wanita-wanita cantik dan yang pastinya dia sama anehnya dengan si sunguik tadi. Jika mereka duet berdua, ampun sudah. Aku tak henti tertawa.

Lupakan si sunguik sama si jok nando, berikutnya kita masuk ke tokoh yang katanya keren, katanya cool, katanya berkharisma, katanya memiliki banyak fans, katanya punya banyak gebetan, dan yang katanya serba bisa. Dia adalah rizky, ya namanya seperti namaku, mirip sekali dengan namaku, bahkan aku kesal ketika aku tau namaku sama dengan namanya. Kepingin sekali aku mencabut nyawanya lantaran dia memakai namaku. Dasar rizky tak tau diri. Si rizky ini terlihat aneh luar dalam, bahkan yang dilakukannyapun banyak hal-hal yang tidak menguntungkan dirinya sendiri. Dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk orang lain, dia sering bercerita hal-hal yang terkadang sangat membosankan. Tapi itulah dia, aku juga tak bisa mendeskripikannya terlalu banyak. Jikaku mengata-ngatainya disini, aku seperti mengata-ngatai diriku sendiri lantaran namaku sama dengan namanya. Jadi maaf cukup sampai disini. Haha.

Jika dilihat dari tiga tokoh sakral ini, sepertinya perkumpulan mereka bertiga akan melahirkan diskusi-diskusi aneh dengan pembahasan yang aneh-aneh dan terkadang diluar dari konsep pemikiran manusia. Pemikiran aku seperti itu awalnya, hingga tadi siang tidak sengaja aku tersesat di tongkrongan mereka yang terlihat lagi sibuk bercerita.

Awalnya aku kebingungan melihat ekspresi wajah dan gerak-gerik bibinya yang kadang-kadang tak selaras dengan nada yang keluar dari mulutnya. Tetapi setelah aku mengamatinya secara mendalam aku berangsur-angsur mulai paham. Wow, aku terkejut ketika aku simak bahwasanya diskusi 3 orang aneh ini adalah untuk apa manusia diciptakan dan dihidupkan Tuhan di muka bumi ini?

Pembahasan ini sangat menarik sekali bagiku, apalagi melihat wajah mereka berpikir seperti ahli-ahli filsuf yunani zaman dahulu. Aku membayangkan wajah si sunguik seperti aristoteles, si jok nando seperti plato, dan si rizky seperti scorates. Semakin mendalam diskusinya semakin menarik, lahir perdebatan-perdebatan menarik diantara mereka bertiga. Mereka bertempur dengan argumenya masing-masing tanpa ada kata-kata yang merendahkan satu sama lainnya keluar dari mulut mereka. 

Setelah sekian lama berdiskusi mereka mengheningkan cipta sejenak. Entah kenapa sepertinya mereka menemukan jalan buntu atas jawaban-jawaban yang mereka dapatkan. Padahal mereka menghabiskan cukup banyak waktu untuk menjawab satu pertanyaan “apa gunanya hidup?”. Mereka melirik kepadaku seakan-akan mau menerorku dengan gerak-gerik bibir seksinya, aku agak sedikit ketakutan tapi aku pura-pura tanang saja, karena pura-pura tenang adalah keahliaanku. Haha.

Tiba-tiba mereka bertanya kepadaku “apa gunamu hidup?” Aku menjawab blak-blakan, karena selama ini aku belum pernah memikirkan pertanyaan itu. Tapi aku tetap mencoba menjawab “gunaku hidup, untuk membahagiakan orang tua ku, aku kuliah baik-baik dapat nilai bagus, cepat tamat, setelah itu dapat pekerjaan, punya banyak uang, bahagiain anak istri lalu aku hidup tenang”. Aku sedikit merasa tenang, tapi mereka bertanya lagi “apa hanya itu guna hidupmu? Bagaimana nanti jika lingkunganmu tidak mendukung kamu untuk mendapatkan pekerjaan? Bagaimana nanti jika kehidupan anak istrimu  di ganggu ketentramannya? Bagaimana nanti jika kuliahmu sering dipersulit? Bagaimana nanti jika kehidupan disekitarmu jauh dari apa yang kamu inginkan? Apakah kamu bisa mencapai tujuanmu? Apakah kamu hanya akan mengandalkan orang lain memperbaiki apa yang sering mengganggu dalam hidupmu dan menjauhkanmu dari tujuan hidupmu? Sampai kapan kamu akan menjadi seperti itu? Kamu akan menjadi obat untuk memperbaikinya atau menjadi orang yang harus di obati?. Ah, aku semakin bingung dengan pertanyaan-pertanyaan mereka. Sepertinya mereka menyuruhku bermenung memikirin hidup seperti layaknya seorang filsuf. 

Tapi aku tak menyangka tiga tokoh sakral ini mendiskusikan hal yang seperti ini. 3 orang aneh ini sepertinya telah mengajarkanku suatu hal yang mestinya aku cari tahu lebih dulu. Terimakasih banyak 3 tokoh sakral, yang jekas inilah hasil mencet-mencet keyboard laptopku malam ini, ups maaf, maksudku laptop temanku yang sudah mulai memperlihatkan kembali wajah masamnya. Hehe.

***

Rizki Rio Rahmat

Seorang pemuda yang selalu ingin tampil keren di depan cermin kamar kosnya.

0 comments:

Post a Comment