Monday, 10 April 2017

Tidak Hanya Drama Saja

Hai kalian yang semester tua, haha. Maaf ya. Tidak hanya kalian kok aku pun juga lagi ada di posisi itu. Pasti kalian yang lagi semester 7 atau 8 sering kali melontarkan kata tersebut dengan sesama teman kalian kan. 

ayaristory.blogspot.com
Oke. Tentang judul di atas. Saya ada cerita. Dan hikmah dari cerita ini tidak hanya bisa diambil oleh yang semester tua saja. Tapi juga untuk kita semua yang belum menginjak ke lingkup rumah tangga. Tapi yang sudah berumah tangga juga bisa kok. Baca aja sampai habis. Pasti akan dapat hikmahnya. Hihi

Berawal dari sebuah obsesi. Iya obsesi. Suatu keinginan yang memenuhi pikiran kita hingga kita benar-benar ingin mendapatkannya. Siapa sih seseorang yang sudah berumur kemudian tak ingin menggenapi dirinya. Memang tetap ada di antara kita yang ingin menikah setelah kesuksesan tergenggam, tapi juga tak banyak diantara kita yang memilih untuk menikah terlebih dahulu, dan mengenai kesuksesan diusahakan sambil jalan. Bukankah seperti itu? Apalagi jika para tetangga, sanak family banyak yang tanya, “sudah punya gandengan belum” ahaha boro-boro gandengan, pacaran aja enggak. Terus lagi teman seangkatan kita juga udah pada nikah dan pada gendong anak. Aduh bikin baper.

Untuk anak kuliahan masa-masa KKN dan PPL adalah masa yang dinanti-nanti. Karena pada masa itu banyak cerita cinta yang terkisah. Mereka membuat kepanjangan KKN dengan “Kisah Kasih Nyata” dan PPL dengan “Proses Perkenalan Langsung” haha sampai segitunya kan apresiasi mereka untuk kedua masa ini.

Kalau cerita saya tidak ada kaitannya dengan KKN tapi dengan PPL. Sebelum pemberangkatan PPL  kami, teman-teman satu pondok kumpul bareng, dan seperti biasa ngobrol ngalor-ngidul hingga sampai pada pembahasan jodoh. Diantara mereka ada yang mendoakan saya semoga kecantol dengan salah satu guru di tempat PPL. Meski doa-doa mereka dikemas dengan guyonan tapi tak menutup hati saya untuk mengamini saja. Toh tak seorang pun yang tau jalan terbaik yang dipilihkan Tuhan.

Hingga pada suatu hari. Hari dimana hari itu adalah hari keempat saya berada di tempat PPL. Tiba-tiba saya merasa ingin buang air kacil, dan kamar mandinya jauh dari basecamp mahasisawa PPL. Awalnya mau ngajak teman, tapi mereka pada sibuk semua. Akhirnya saya jalan sendiri. Selesai dari kamar mandi eeee tiba-tiba dipanggil sama seorang guru laki-laki. Pikir saya bapaknya mau minta bantuan apa gitu. Eh ternyata cuma ngobrol dan ditanya-tanyain gitu. Pak guru tersebut tipe sesorang yang nyaman diajak diskusi, juga humoris. Kami tidak hanya sekedar ngobrol saja, bahkan sampai bercanda. Entah, saya merasa biasa dan nyaman dengan bapak  guru tersebut, padahal saya belum tau siapa namanya, karena ketika saya menanyakan nama, bapak guru tersebut selalu mengelak dan selalu mengajak bercanda. Hingga pada suatu perbincangan yang membuat beliau memperkenalkan dirinya dengan sendiri (mungkin karena kashian melihat tanda tanya yang mengelilingi kepala saya haha). 

Dan ternyata bapaknya adalah seorang pengasuh pondok putra satu lembaga dengan madrasah yang saya tempati PPL. Haduh kawan-kawan. Tau gitu saya jaga sikap. Memang  semua orang harus dihormati tanpa terkecuali, tapi ada perbedaan jika dengan seseorang yang memiliki ilmu. Beliau memperkenal diri dengan nama Syamsul, pengasuh pondok putra 1 atau pusat. Tanpa saya bertanya pula, beliau juga menyebut pengasuh pondok putra dua, yaitu dipegang oleh seorang guru baru, alumni sebuah pesantren besar.

Beliau sedikit menceritakan pengasuh pondok putra dua itu, dan saya hanya mengangguk-angguk kecil saja. Tapi atas kehendak Tuhan yang membikin drama kehidupan, tiba-tiba dari arah samping orang yang kami bicarakan datang dengan mengayuh sepeda gunungnya. Hati saya mengatakan “subhanallah bersahajanya”. Kemudian pak Syamsul memanggil pengasuh pondok putra dua yang lewat barusan. Ia memarkirkan sepedanya dan berbalik badan. Huh. Ada rasa gugup di sana, karena saya pikir ia juga sudah berumah tangga sebagaimana Pak Syamsul, tapi ternyata masih muda, ia enam tahun di atas saya. Haduh semakin mendekat makin berdetak kencang saja si jantung ini. Huh (ngapain juga, tapi beneran ini asli).

Satu bulan berlalu. Memasuki bulan kedua menghabiskan waktu dengan berbagai kegiatan masa PPL. Sering kali tanpa sengaja saya berpapasan dengan pengasuh pondok putra dua tersebut. Bertemu di perpus dan dimana saja yang masih satu lingkup dengan yayasan. Tak ada kata yang terucap. Hanya pandangan yang kemudian juga menghilang. 

Tak pernah ada komunikasi di sana. Tapi hati ini, benar-benar mengagumi sosok itu. bahasa kerennya “Cinta Dalam Diam” (ciiieeeee). Bahkan saking kagumya dan obsesi ingin menyanding, air mata ini menetes dan jatuh hingga tumpah-tumpah. Bagaimana tidak, kita pasti inginkan bersanding dengan seseorang yang ilmu pengetahuannya lebih luas dari kita.

Hingga masa PPL berakhir. Tetap diam tak ada komunikasi. Saya berpikir bahwa ia juga memiliki rasa sebagaimana yang saya rasakan. Namun ia tak ada jalan untuk menyambung komunikasi pada saya.  Satu bulan setelah masa PPL Saya memberanikan diri untuk menambahkan dia ke pertemanan dalam suatu akun sosial. Berminggu-minggu saya menunggu untuk dikonfirm olehnya. Dan setelah dikonfirm tak kunjung ia mengirim pesan pada saya. Padahal saya mengaharapkan respon darinya. Dan tidak mungkin rasanya jika saya yang harus memulai duluan untuk mengirim pesan. 

Ditengah kegalauan karena menyimpan harapan, saya membuka quran. Lembar halaman yang saya buka pun asal-asalan saja. Di situ saya merasa mendapat nasehat dari Tuhan. Satu ayat ke ayat berikutnya saya baca. Kemudian saya baca juga terjemahnya. Saya resapi setiap maknanya. Hingga saya mendapat sebuah kesimpulan. yaitu berhenti berharap dan senantiasa memohon pertolongan pada Tuhan saja. Setelah itu pun saya berusaha berhenti dari memikirkan dan mengharapkan dia.

Kenapa saya terlalu terobsesi dengannya? Karena saya merasa bahwa kedatangannya adalah jawaban dari Tuhan dalam doa yang selama ini saya panjatkan. Dan saya menganggap pertemuan awal kami adalah bagian dari scenario Tuhan. Skenario yang menjadi satu kesatuan dari drama cinta dalam alur kehidupan saya, dan saya berharap happy ending. TERNYATA tidak semua skenario yang dibuat Tuhan merupakan drama, tapi  ada kalanya menjadi iklan yang tayang di tengah-tengah berlangsungnya drama. 

Bukan berarti iklan tidak ada tujuan dan hikmahnya. Drama dan iklan sama-sama memilki tujuan dan hikmah, hanya saja bukan merupakan satu kesatuan. Sebagaimana dalam tayangan televisi. Ada sinetron juga ada iklan. Dan saya mengibaratkan pertemuan tidak sengaja di awal masa PPL saya adalah iklannya. Iklan yang dapat diambil hikmahnya yaitu saya, atau kita semua tidak seharusnya mengaharapkan seseorang yang kita kagumi. Begitulah Tuhan membuat scenario, tidak hanya dalam drama namun juga dalam iklan.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai El Waroq sebagai pemenang.

El Waroq

Mahasiswa Jurusan Pendidikan.
Tengah merangkai untaian Ilmu Hikmah di Pondok Pesantren Sunan Ampel Kediri.



0 comments:

Post a Comment