Tuesday, 11 April 2017

Tidak Mengenal Kata

Siklus kehidupan adalah sebuah kepastian. Layaknya sebuah pohon yang tumbuh dan berkembang. Sejak dari bibit (biji) kelak tumbuh batang, daun kemudian berangsur menjadi besar. Hanya saja, Pohon berdiri di tempat, ia tak bergerak. Adapun geraknya pohon, terhempas oleh udara. Perkembangan dan pertumbuhan semacam ini terjadi pula pada mahluk lain, hanya pergerakannya saja yang membedakan. Adalah Manusia yang sama layaknya pohon berkembang dan tumbuh membesar, tapi manusia tidak diam di tempat. Terlebih, manusia dianugerahi akal pikir agar bisa bertahan hidup dan menjalin kehidupan lebih baik. 

penulispro.net
Sejak masuknya sel sperma ke dalam sel telur perempuan, kemudian semakin berkembang hingga menjadi jabang bayi. Satu bulan, dua bulan sampai delapan hingga sembilan bulan dalam rahim (biasanya), baru sang bayi akan lahir kedunia. Dimulai dengan tangisan, kemudian tengkurap, duduk, berdiri sampai berjalan. Lalu kemudian tumbuh lagi sampai mulai mempelajari ilmu kehidupan (agama dan sains).  Belajar, mengabdi, bekerja, dan beristirahat total. Inti dari siklus kehidupan yang kebanyakan akan dialami oleh manusia. 

Masih ingatkah kita, kala pertama menimba ilmu di bangku sekolah dasar. Guru dan teman - teman selalu bertanya, apa cita - citamu? Walau sebelumnya kita tidak pernah berfikir, cara untuk menggapai hal yang dicita - citakan. Tapi, dengan tegap, tegas, serta serentak kita menjawabnya. Tidak sedikit pula, orang tua kita menyuruh kita belajar rutin setiap hari, bukan untuk menggapai cita - cita sayangnya, melainkan untuk menjadi juara umum di kelas. Sebagian orang tua akan berkata demikian. 

Setelah lulus dari sekolah dasar, kemudian melanjutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) atau se-derajat. Selamat datang di dunia remaja yang baru. Dunia yang akan mengajarkan kalian tak mengenal rasa takut. Bahkan, tak sedikit diantaranya lupa dan mengganti cita - citanya. Padahal saat di bangku sekolah dasar, kita tegap, tegas pun serentak mengungkapkan cita - cita kita. 

Tak berhenti di situ, selepas lulus dari SLTP se-derajat, kemudian kita akan melanjutkan sekolah ke Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau se-derajat. Dunia remaja di SLTP sedikit tertinggalkan, karena di era SLTA kita satu langkah lebih dekat menuju fase pendewasaan. 

Kemudian sebagian dari kita mulai berfikir keras, menorehkan cita - cita yang akan kita jumpai dikemudian hari. Kita semakin kokoh dan di atas angin, seolah apa yang kita cita - citakan kelak akan benar - benar terjadi seperti halnya kita membayangkannya. Di tengah antrian tugas dari guru - guru setiap masing - masing pelajaran. Tak henti kita selalu punya waktu untuk membayangkan apa yang telah dicita - citakan  itu. Di samping usaha yang keras, belajar dengan tekun untuk merealisasikannya, kita juga tidak lupa dengan mendorongnya dengan doa. Agar kelak cita - cita kita bisa tergapai lewat bantuan doa, begitu kata Guru, sewaktu di SLTA.

Lantas selepas Lulus dari SLTA, ada dua opsi yang akan dan harus dipilih oleh kita. Pertama, bekerja dan opsi yang kedua adalah melanjutkan sekolah ke pendidikan tinggi. Tak sedikit di antara kita yang salah pikih dan ceroboh dalam membuat keputusan ini.

Pilihan pertama adalah bekerja. Ada banyak ragam aneka pekerjaan di dunia ini. Dari yang ringan sampai yang berat, dari yang part time hingga full time, pilihannya tergantung pada kita sendiri cocoknya kerja dimana. Sayangnya,  tak semua manusia beruntung. Tidak semua manusia dengan mudah mendapatkan pekerjaan, pada akhirnya, mereka tak bekerja atau istilah kerennya "pengangguran". Pun output dari opsi yang kedua juga kebanyakan adalah bekerja, tak sedikit pula lulusan Pendidikan Tinggi yang sama-sama menyandang "Pengangguran". 

Alih - alih, sejak era kemerdekaan, orde lama, orde baru, revolusi, reformasi sampai era sekarang, lebih dari 1juta manusia menuntut agar diberikan pekerjaan. Tak sedikit pula lembaga survei pemerintah dan non pemerintah fokus membuat grafik laju perkembangan Pengangguran yang ada di dalam negeri setiap tahunnya. 

Apalagi sebagian kelompok menyuarakan aspirasinya dengan cara menggelar demonstrasi kepada pemerintah setempat, oleh sebab mereka belum mendapatkan pekerjaan (pengangguran). Lambat laun, kata pengangguran menjadi hal yang ditakuti oleh sebagian orang. Lantas, apa yang salah dan apa masalahnya dengan (kata) pengangguran?

Melihat, sebagian orang begitu rumit mempermasalahkan kata pengangguran. Apa benar pengangguran itu sama sekali tidak mempunyai pekerjaan? Sebelumnya, ini bukan tentang pengangguran, melainkan melihat dan menganalisis kata pengangguran. Bukan objeknya yang dianalisis, melainkan subjeknya saja (kata kerja).

Flashback sedikit, ketika manusia pertama kali dilahirkan ke dunia. Apa sesungguhnya tugas dan tujuan hidup manusia di dunia? Tujuan hidup manusia bukanlah mencari kemegahan dunia, melainkan beribadah kepada Allah SWT. Pertanyaannya adalah, apakah Ibadah sebuah pekerjaan  atau bukan?

Pertama - tama, kita harus faham betul apa yang dimaksud dengan kerja, bekerja dan pekerjaan? Kerja adalah melakukan sesuatu. Bekerja adalah aktifitas fisik maupun pikiran dalam mengerjakan, merelease, mendesain maupun menyelesaikan sesuatu, dan jika selesai atau memenuhi aturan sesuai dengan kriteria prosedur maupun aturan tertentu akan mendapatkan imbalan atau balas jasa baik dalam bentuk gaji atau penghasilan. Sedangkan, Pekerjaan secara umum didefinisikan sebagai sebuah kegiatan aktif yang dilakukan oleh manusia.

Secara umum kerja adalah melakukan sesuatu. Ibadah adalah suatu praktik/ritual yang wajib dilaksanakan oleh umat beragama. Jelas, dilihat dari definisi dan maknanya, ibadah adalah sebuah kerja, pun merupakan pekerjaan. Apa ketika seseorang melakukan ibadah, itu bisa disebut bekerja? Kegiatan atau aktifitas yang dilakukan oleh manusia yang manakala feedback untuk kedua belah pihak, itu bisa disebut bekerja. Ketika seorang manusia beribadah, kelak akan menerima ganjaran baik dari Allah SWT di akhirat (bagi agama islam). Berarti, dalam islam tidak mengenal kata Pengangguran.

Apa masih ada orang yang mempermasalahkan pengangguran Sedangkan, kita yag meyakini Allah SWT sebagai satu satunya tuhan  dan Nabi Muhamad adalah Rasulullah tiap hari diperintahkan untuk beribadah. Sebagian dari kita yang tidak puas dengan ini, yang melulu mempermasalahkan pengangguran, sebetulnya, mereka kurang mengucap Syukur. Atas kenikmatan dan anugerah yang telah Allah SWT berikan. 

Bersyukurlah, atas apa yang telah Allah berikan. Sesungguhnya, itu merupakan cara kita belajar ikhlas dalam menanti dan meminta ridho-Nya. Lamanya waktu kita belajar ilmu sains, dari SD, SMP, SKA sampai Pendidikan Tinggi, itu masihlah tidak cukup untuk menanamkan keihlasan dalam hati kita. Semoga, kita tidak pernah lupa untuk mengucap syukur dan menanam rasa ikhlas dalam hati serta senantiasa bersabar menanti ridho-Nya. Hal pertama yang harus dikejar adalah keikhlasan, bukan kepintaran. Pantas saja pejabat negara banyak koruptor, karena mereka belajar ikhlas setelah pintar, seharusnya belajar ikhalas sebelum pintar. Wallahu allam.

***

Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai R. Eka R. sebagai pemenang.

R. Eka R.

Mahasiswa STAIM Garut


            

0 comments:

Post a Comment