Thursday, 20 April 2017

Tuhan yang Menentukan

Dua tahun yang lalu, tepatnya dua hari setelah hari raya 'Iedul Fitri, rumah kami kedatangan tamu tak diundang. Karena memang sudah menjadi tradisi warga muslim di Indonesia setiap kali selesai melaksanakan shalat 'ied orang-orang bergiliran mengunjungi setiap rumah saudara semuslim, tetangga yang saling kenal dan tidak jarang tetangga yang tidak saling kenal pun mampir bersilaturahmi, demi berjabat tangan dan mendapat persenan (semacam THR dari orang yang sudah bekerja untuk diberikan kepada anak-anak kecil dan remaja). 


Dari al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

ماَ مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَلَهـُمَاقَبْلَ أَ نْ يَفَتَرِ قَا

"Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah."

Hadis yang mulia ini menunjukkan keutamaan berjabat tangan, itulah yang diajarkan Rasulullah SAW. kepada para sahabatnya dan pengikutnya. Seperti aku dan keluargaku yang selalu menomorsatukan silaturahmi kepada saudara sesama muslim. 

Mereka salah satu keluarga yang bersilaturahmi pagi itu. Tidak ada satu wajah pun yang familiar di penglihatan dan ingatanku. Aku pun bersalaman dan mempersilahkan mereka untuk menyantap hidangan yang telah kami persiapkan di ruang tamu. Tidak jauh dari nastar, rengginang, semprong dan berbagai macam kue kering khas lebaran lainnya. 

Tok! Tok! Tok! 

Tiba-tiba masuk dua wanita paruh baya ke kamarku. 

"Ini Ibunya Haikal (nama disamarkan)," kata Ibuku sambil mempersilahkan wanita 45 tahun itu duduk di kasurku. Seketika aku tersadar dan teringat akan perkataan Ibu beberapa minggu yang lalu. Dia... Ibu dari anak yang mau dijodohkan kepadaku. Batinku.

"Neng! Mau sama anak Ibu?" Tanpa basa basi wanita paruh baya itu menanyakan hal itu kepadaku. "Tapi, anak Ibu mah, enggak cakep," lanjut Ibu Haikal (panggilan dariku) seraya memperlihatkan foto anaknya. Panjang lebar Ibu Haikal menceritakan sosok anak laki-laki nya kepadaku. Sesekali aku tersipu malu dan tersenyum kecil mendengar cerita Ibu itu. 

"Saya tidak pernah memandang fisik laki-laki manapun yang berniat baik menjalin silaturahmi dengan saya, Bu..." Jawabku, mengakhiri pembicaraan pada hari itu. 

Dua hari setelah pertemuan singkat itu, tanpa aku ketahui, kedua orang tuaku sudah berencana untuk bergantian berkunjung ke rumah Haikal.

DEG!!! Aku pun tertegun dan gemetar saat mengetahui mobil kami sudah terparkir di depan halaman rumah Haikal. GOD.....

"Ko, Ibu nggak bilang kalau kita akan ke rumah nya Haikal?" Panik, jantung berdebar, takut, senang, pasrah bercampur menjadi satu. Mungkin, semua wanita yang pasif sepertiku akan mengalami hal yang sama sepertiku, ketika harus bertemu dengan laki-laki baik, seperti Haikal.

"Kalau Ibu bilang kita akan ke rumah Haikal ke kamu, kamu enggak akan mau datang ke sini kan? Karena, kamu kan, orangnya pemalu," Ibu tersenyum menang. 

Ya Allah... Aku harus bagaimana nanti di depan Haikal? 

Sosok laki-laki bergamis putih dan berpeci hitam keluar dan tersenyum lebar, "Assalamu'alaikum, Pak!"

"Wa'alaikumsalam Haikal!" Jawab Bapak, Ibu, Kakak, aku dan adikku bersamaan. 

Masya Allah... Diaaaaaa Haikal? Enggak beda jauh sama foto yang diberitahu sama Ibu nya Haikal. Aku merasa sudah jatuh hati padanya.

"Mari! Silahkan masuk!" Lanjut Haikal mempersilahkan kami semua masuk ke dalam rumahnya.

Oia, sebelumnya aku ingin memperkenalkan Haikal dan kenapa aku bisa dengan mudah jatuh hati padanya. Haikal adalah seorang anak yatim piatu, memiliki tiga saudara dan dia adalah anak ke dua. Dia seorang mahasiswa dari Universitas Al-Azhar Cairo-Mesir, salah satu universitas terbaik di negeri itu. Yang paling mengagumkan ketika aku mengetahui bahwa Haikal adalah seorang Hafidz Qur'an. Masya Allah... wanita mana yang tidak jatuh hati kepada laki-laki soleh seperti Haikal?

Tidak berani aku menatap wajah teduhnya itu, gugup dan tidak bisa bergerak sedikitpun. Sesekali aku memberanikan diri untuk mendongakkan kepalaku hanya untuk memastikan perbincangan yang terdengar semakin larut dan akrab antara dua buah keluarga itu. 

Keluargaku dengan keluarga Haikal sudah berteman cukup lama. Kebetulan, Ibu Haikal pernah menjadi donatur di Panti Asuhan yang dikelola oleh Yayasan milik Bapakku. Aku memang baru mengenal Haikal hari itu, tapi sebelumnya Ibu pernah bercerita seputar Haikal yang kata Ibu, ingin dijodohkan kepadaku. Saat itu, aku belum tertarik untuk mengenalnya, mengingat aku seorang gadis biasa yang tidak memiliki kelebihan yang bisa dibanggakan. Aku mah, apa atuh... 

Perjodohan, masih berlaku di zaman sekarang. Tidak jarang, banyak orang tua yang menjodohkan anaknya demi mendapat mantu yang terbaik untuk anaknya. Tidak asal menjodohkan. Biasanya dilihat dari bibit bebet bobot nya, mulai dari keturunan nya, status, pekerjaan, hingga sampai keimanan adalah hal yang paling utama. Meskipun keimanan tidak bisa di ukur oleh manusia.

Tidak terasa, waktunya keluargaku berpamitan kepada keluarganya Haikal."Tunggu, Fila!" Langkahku dihentikan oleh suara yang memanggilku dengan lirih. "Fila disini aja. Haikal mau ngobrol sebentar dengan Fila," lanjut Ibu Haikal sambil tersenyum kecil kepadaku dan Ibuku.

"Nanti ditemani Bela," Ibuku menambahkan. Entah kenapa, hari itu aku hanya menuruti perkataan Ibuku dan Ibu nya Haikal. 

"Tapi, nanti pulangnya gimana Bu?" Aku cemas dan khawatir, karena jarak rumahku dengan rumah Haikal tidak dekat. 

"Nanti diantar sama Haikal dan adiknya," Sanggah Ibu Haikal. "Ayo, masuk! Haikal sudah menunggu di ruang tamu."

Dag! Dig! Dug! Hatiku...

Perbincangan hari itu antara aku dan Haikal sangat-sangat-sangat alot. Aku yang selalu menunduk dan sesekali memberanikan diri melihat ke arah wajah teduhnya, hanya bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan nya untukku. Dan Haikal pun, selalu menutupi wajahnya dengan gadget yang dari awal selalu dia genggam. Aku baru ingat, Ibu Haikal pernah berkata, bahwa Haikal tidak pernah berpacaran sekalipun selama hidupnya. Mungkin itu sebabnya, Haikal terlihat kaku dihadapanku. Sama seperti aku yang baru pertama kali berhadapan langsung dengan laki-laki yang akan dijodohkan untukku.

Perbincangan hari itu diakhiri dengan kami saling bertukar nomor handphone dan aku pun diantarkan Haikal dan adik nya pulang ke rumahku beserta adikku yang sedari awal hanya duduk di ruang tamu depan dengan adik Haikal, menunggu perbincangan kami selesai dengan sabar.

Satu bulan.. Dua bulan.. Kami berta'aruf. Aku mulai jatuh cinta dengan setiap tutur kata dan kalimat yang Haikal lontarkan. Haikal pun mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa dia merespon apa yang aku rasakan. Tidak lupa, aku selalu bermunajat kepada Yang Maha Kuasa, meminta agar selalu diberikan pendamping hidup yang terbaik dan selalu melampirkan nama nya disetiap doa yang aku panjatkan.

Cukup lama kami berkenalan dan bertukar informasi. Bercanda dan tertawa bersama. Membicarakan pernikahan dan masa depan. Tapi, belum ada tanda-tanda bahwa Haikal ingin hubungan yang serius. 

Hari ke hari, hubungan kami mulai renggang, bahkan pernah selama beberapa hari tidak ada kabar darinya. Aku mulai gelisah dan mencemaskannya. Aku... Galau karenanya.

Sudah sebulan Haikal tidak memberi kabar. Aku semakin galau memikirkan nya. Aku tidak ingin kehilangan dirinya.. Aku menginginkannya. Sikap dan pikiranku mulai tidak terkontrol. Aku menyalahkan Ibuku tanpa sebab dan aku melalaikan kewajibanku. 

"Bertaubatlah nak! Kamu sudah mengesampingkan kuasa dan kehendak Allah. Kamu harus memasrahkan segala sesuatunya disamping usaha dan doa-doa kamu," aku menangis dan menjerit dihadapkan Ibuku. "Laki-laki baik hanya untuk wanita yang baik dan laki-laki yang tidak baik untuk wanita yang tidak baik juga." Ibu menyeka air mataku dan memelukku dengan erat. Ketika melihat hidupku mulai berantakan.

“Maksud Ibu, aku bukan wanita yang baik untuk nya?” aku berteriak dihadapan Ibuku.

“Bukan nak! Percayalah, bahwa Allah sudah mempersiapkan laki-laki yang terbaik dan tepat untukmu. Kematian, jodoh dan rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa,”Astaghfirullahal 'adziim... Segera aku beristighfar kepada yang Maha Kuasa. Dan memeluk kembali Ibuku dengan erat sambil menangis melampiaskan emosi yang bergejolak saat itu.

Ibu menyadarkan aku, ketika Ibu mulai mengetahui hubunganku dengan Haikal dan Tuhanku (Allah SWT) semakin renggang. Aku terlalu larut dalam kegelisahan dan keinginan yang menggebu-gebu untuk bisa memilikinya. Dan aku tersadar, bahwa itu hanyalah nafsu belaka. Nafsu setan yang memaksaku untuk bisa memilikinya tanpa dasar keimanan dan ketakwaanku kepada Allah. Aku mulai terhasut oleh nafsu setan dan membuatku mulai mengesampingkan kuasa Allah, bahwa segala sesuatu yang telah kita usahakan haruslah disertai dengan tawakal dan tawadhu’.

Ya Allah.. Aku pasrah atas semua musibah yang menimpaku. Dan aku ikhlas kehilangan dirinya. Semoga dia, mendapatkan wanita yang lebih baik dariku dan semoga aku bisa menjadi wanita yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Aamiin...

Beberapa bulan setelah kejadian itu, aku mendengar kabar bahwa Haikal sudah menikahi wanita asal pulau Jawa. Selamat! Semoga dijadikan pasangan yang sakinah mawaddah warrahmah. 

Aku membencinya... dan... aku memaafkannya...

Untuk dia yang telah memberikan pelajaran hidup yang sangat berharga.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Fila sebagai pemenang.

Fila

Wanita biasa dan pasif. Mendambakan laki-laki hafidz qur’an yang bisa mengajakku dan kedua orang tuaku ke surga, bersamanya.

0 comments:

Post a Comment