Wednesday, 19 April 2017

We did it, bak !


Dulu ketika awak masih kecil, disaat hari ahad, abak (panggilan orangtua laki-laki awak) sering mengajak awak bertemu teman-temannya. Biasanya, saat berangkat dari rumah, abak selalu dititipi pesan kuno dari amak (panggilan orangtua perempuan awak) - jangan terlalu lama pulang ke rumah, dan biasanya pula, abak akan mengangguk mantap. Segera pula awak melompat kebangku belakang motor abak dan berpegangan di pinggang abak. Awak tak pernah pula bertanya pada abak hendak kemana. Dalam pikiran awak yang masih kanak, awak akan bisa memesan minuman atau makanan sekehendak hati saja. Biasanya abak bertemu dengan kawan-kawannya di bengkel kawan abak yang punya warung, atau kedai kopi kawan abak. Di sana sudah menunggu kawan-kawan abak lain yang dengan riang gembira menyambut kedatangan kami dari kejauhan. Kawan-kawan abak akan bersorak-sorak macam menyambut gladiator masuk arena tarung. Belasan tahun kemudian, awak kadang berpikir-pikir, apakah di hari ahad itu ada semacam perjanjian, jika ahad tiba, hendaknya mereka berkumpul di suatu tempat. Beruntungnya, di era itu handphone belum ada. Sungguh beruntung abak dan kawan-kawannya. 


Abak, jika sudah jumpa kawannya, atau kawan abak berjumpa abak seolah jarum jam tak beranjak dan abak  menikmati obrolan bahkan sampai sore. Awak selain menikmati semua pesanan awak, kerjaan awak lainnya adalah memangku dagu dengan tangan dan mulai menyimak. Sesekali menjawab pertanyaan kawan abak pada awak seputar sekolah. Tapi hebatnya, pertanyaan tadi cepat saja selesainya, kawan abak yang bertanya tadi kembali secepat mungkin masuk arena obrolan. Seingat awak, obrolan tadi bisa dimulai dari mesin motor, lanjut ke mobil kijang keluaran terbaru, terus ke sosok walikota, lanjut lagi ke denah rumah, dan seterusnya dan seterusnya. Banyak pokoknya. Sejam pertama abak seolah-olah memberi alarm pada awak. “habis-habiskan minum, tapi tak usah bergegas. sebentar lagi pulang”. Karena awak kanak-kanak, awak tak pula bergegas habiskan minuman awak. Asal tahu saja, jaman itu minuman favorit awak adalah fanta merah dicampur susu.  Masuk jam kedua, juga begitu, begitu juga jam ketiga. Sungguh betah memanjangkan mulut berbusa busa. Dimeja atau tikar tempat ngobrol biasanya akan ada berbungkus rokok mulai Dji Sam Soe, Gudang Garam, Djarum, Bentoel, Kansas, Nero dan lain sebagainya. Beberapa nama sepertinya sudah tak produksi lagi atau susah ditemukan. Gelas kopi macam kena gelombang samudera Hindia kala badai -  timbul tenggelam dimeja. Awak senang-senang saja diajak keluar rumah, sebab terhindar dari perintah kerja amak. Walaupun hujan lebat, awak anggap langit sungguh cerah membiru. Ketika sore pulang kerumah, biasanya senyum manis amak mengawang-ngawang, macam balon balon warna warni, indah nian. Suami tercinta dan anak bujang rupawan sudah pulang kerumah. Sejurus berlalu, pertanyaan demi pertanyaan lalu lalang dan harus dijawab oleh abak dan awak. Berdua kami memberi keterangan yang biasanya tak bertolak belakang. Sebab abak pun jujur pula menjawab pertanyaan kenapa terlambat dari jadwal yang ditetapkan amak. Diakhir interogasi, biasanya, sambil berlalu dan membelakang sembari mengerjakan hal lain emak berfatwa singkat sebagai penutup pidato ; apa tak ada lagi hobi yang lain selain bicara-bicara tak tentu. Abak biasanya diam senyum-senyum sambil siul-siul dendang dangdut tali kecapi. Bertahun kemudian, Awak gantikan abak, dan nyonya gantikan amak. Kalau dulu abak dimarahi kalau sudah dirumah sebab belum ada handphone, maka awak juga dimarahi kalau sudah dirumah pula. Bukan karena tak ada handphone, tapi karena handphone awak tak bisa dihubungi. Sungguh hidup nan luar biasa dan sempurna sudah. Buah jatuh memang tak jauh dari batangnya. We did it bak! Bikin nyonya senyum ketika telat pulang, seterusnya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan nyonya manis yang keningnya berkerut-kerut dan berkedut-kedut. Soal mengobrol yang jadi hobi awak, awak punya tips jitu buat para abak-bak lain. “Sebelum pulang, singgahlah barang sejenak diwarung atau toko. Belilah kue atau cemilan barang sedikit”, setidaknya, itu bisa membuat pidato berkurang durasinya. We did it bak!

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Uyung sebagai pemenang.

Uyung Hamdani

0 comments:

Post a Comment