Tuesday, 16 May 2017

A Wish

Hati-hati dengan setiap permohonan karena setiap permohonan adalah doa dan kita tidak pernah tahu kapan dan doa yang mana yang akan dikabulkan.


Saat itu langit sedang mendung sedangkan aku hanya duduk termenung. Aku sama sekali tak konsentrasi mendengar pengarahan dari ketua panitia yang super membosankan. Dia bahkan sudah belasan kali mengulang kalau acara akan di adakan hari sabtu dan minggu, tanggal 30 dan 31 Oktober, temanya hari sumpah pemuda, bla... bla... dan bla...

Terkadang aku heran dengan orang yang terus menerus mengulang ucapannya. Ah, apa dipikirnya kami ini idiot atau justru ia yang idiot sampai terus mengulang kata-kata yang itu-itu saja.

Mungkin si ketua panitia itu yang tak pandai berorganisasi dan berkomunikasi atau aku saja yang lagi-lagi tersesat sampai-sampai bisa menjadi salah satu panitia acara bahkan di saat aku tak suka menghadiri rapat seperti ini.

Seumur hidupku aku hanya pernah dua kali tersesat. Yang pertama saat aku masih SD, aku tersesat saat mencari rumah teman sekelasku. Yang kedua saat aku masuk jurusan IPA dan baru sadar kalau aku sangat membenci persamaan redoks, hukum ohm dan kawan-kawanya itu. Dan aku tidak mau harus tersesat lagi, baik dalam arti sebenarnya atau dalam kiasan. Maksudku, hey siapa yang mau terus-terusan berjalan tanpa arah yang jelas? Apa lagi saat kamu sadar kalau kamu sedang dengan bodohnya berjalan di jalan yang salah.

"Kita istirahat 10 menit. 10 menit lagi langsung kumpul di sini."

Dan blashhh, area rapat yang diadakan di pendopo sekolah langsung sepi. Hanya si ketua panitia yang sedang membasahi kerongkongannya yang kering dan aku dengan tampang super bosanku.

Pak ketua panitia tadi tersenyum tipis sebelum pamit untuk membeli makanan di kantin sedangkan aku hanya mengangguk samar lalu akhirnya mengalihkan pandanganku ke bawah sebuah pohon besar.

Sekolahku ini adalah sebuah sekolah tua yang arsitektur bangunannya terbilang jadul, di tumbuhi begitu banyak pohon, mitos aneh dan hantu. Salah satunya sebut saja mitos dari pohon cinta. Kedua pohon yang letaknya berdekatan di depan perpustakaan sekolah itu memang membentuk hati jika dilihat dari jarak tertentu.

Ah aku sedang tak tertarik menceritakan tentang pohon cinta atau hantu none Belanda. Mood ku berkurang drastis semenjak aku mendatangi pendopo ini tanpa satu orang pun teman dekatku dan harus terjebak sampai sebelum magrib di sini.

Sedangkan di bawah pohon yang tadi aku pandangi daun-daunnya demi menyegarkan mata duduk sekolompok perempuan yang aku yakini sedang mendiskusikan event yang akan diselenggarakan setelah event yang sedang di rancang club ku. Tak jauh dari sana seorang laki-laki menatap hanphonenya takjim. Aku tak benar-benar mengenalnya secara langsung, bahkan mendengar suaranya saja tak pernah. Tapi aku tahu kalau ia adalah Mario Satria, salah satu senior yang berada satu tingkat di atasku sekaligus pacar dari salah satu kelompok anak perempuan itu.

Andai saja aku punya pacar sepertinya. Tidak, aku bukan salah satu pemuja rahasianya atau sedang naksir berat dengannya. Hei, bahkan aku sudah bilang aku tak kenal dia bukan? Aku juga bukan tipe perusak atau perebut kebahagiaan orang lain, kalau-kalau kalian berpikir buruk tentangku.

Terkadang aku hanya rindu rasanya memiliki seseorang yang selalu ada di dekatku. Tak perlu seseorang yang terus-terusan mengikuti semua kegiatanku juga, cukup seseorang yang dapat ku kirimi pesan aku sudah sampai rumah saja sudah lebih dari cukup. Well, setidaknya aku mau punya seseorang yang bisa ku kirimi pesan-pesan tak jelas saat sedang bosan seperti ini.

Ah lihatlah, sekarang aku terdengar seperti seorang yang hopeless.

"Semuanya sudah kumpul? Ayo kita lanjutkan rapatnya !"

Aku menghela nafas, "Here we go."

***

Sore itu lagi-lagi mendung menggelayuti kota kami. Seperti sore-sore sebelumnya, aku sedang bergelung di dalam selimutku saat sebuah notifikasi masuk ke hendphoneku. Dengan malas ku raih benda putih itu dari atas nakas.

Dahiku spontan berkerut heran membaca sebuah pesan yang hanya berisi satu kata, Dek. Dengan malas kembali ku letakkan lagi benda putih itu di atas nakas. Bukan sekali dua aku menerima pesan tak jelas seperti tadi. Bukannya bermaksud sombong atau apa tapi tingkat kemalasanku sudah terlalu tinggi walau sekedar untuk membalas sebuah pesan lagi pula aku lupa kapan terakhir kali aku mengisi pulsa elektrik untuk handphone ini.

Lagi-lagi aku mendengus malas saat mendengar notifikasi dari handphoneku.

Gara Tama: Mayaaaa

Awalnya aku mau kembali mengabaikan  pesan tadi tapi teringat kalau Kak Gara adalah salah satu seniorku sekaligus panitia acara yang baru saja selesai beberpa hari lalu membuatku dengan agak sedikit terpaksa membalas pesannya.

Maya Ge: Kenapa?

Gara Tama: Ada Salam

Maya Ge: Salam tempel?

Gara Tama: Becanda mulu lo, lucu juga nggak.

Gara Tama: Salam cinta. Puas lo?

Maya Ge: Dari siapa?

Gara Tama: Mario Satria
"What the hell."

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Peka sebagai pemenang.

Peka Falinov

Makhluk peralihan yang butuh kepastian karena tidak diterima lagi di SMA dan belum bisa kuliah. Akhir-akhir ini lebih sering galau karena urusan sekolah ketimbang gebetan. Sedang butuh hiburan selagi menunggu jadi mahasiswi dan doi putus dengan cewek barunya.

0 comments:

Post a Comment