Friday, 12 May 2017

Aku dan Pikiranku

"Aku tunggu kau disini... Pegel nih..." keluhku sambil memijat kaki yang berdenyut.
"Okey deh... Cuma bentar kok, nanti aku balik lagi..." sahut temanku dan pergi berjalan di antara kerumunan orang yang berdesak-desakkan sampai hilang tenggelam bersama lautan masa. Apa boleh buat, tiga hari menjelang lebaran memang ramai. Seperti semut menemukan gula, bedanya semut bergotong royong bersama kawannya mengangkut gula, kalau kita berebut gula itu sendiri karena takut keduluan. Ibarat siapa yang cepat dia yang dapat. Meskipun jasa online banyak tetapi ada sebagain orang yang lebih suka membeli langsung. Katanya lebih puas melihat barangnya.

iphincow.com

Aku edarkan pandanganku melihat deretan bangku penuh sesak. Bahkan ada sebagian orang yang meratap ingin duduk juga. Di sampingku seorang ibu berceloteh mengeluh belanjaannya yang banyak nan mahal, di sudut lain kulihat anak kecil meraung ingin dibelikan mainan ketimbang baju baru. Juga pasangan yang bercengkrama tak peduli sekitarnya. Kulihat lagi arah temanku pergi, dan masih tetap ramai oleh orang yang berdesakkan. Di depan jalan kendaraan berjejer bagai antri loket karcis. Aku hanya mendesah pelan.

Malam menggelap tak berawan bahkan bintang pun enggan menampakkan batang hidungnya. Malam yang benar-benar lenggang. Hanya langit gelap. Angin semilir menyapa wajahku di tengah keramaian. Damai... Perasaan damai menghinggapiku, menggelitik sesuatu. Di keramaian ini aku merasa sepi. Bukan sepi tanpa kekasih. Bukan itu. Tetapi sepi sendiri bergelut di balik cahaya ilahi. Aku merasa kosong. Pikiranku melayang liar menembus angin malam.

Tanpa kusadari keramaian ini seolah berdetak terhenti, kurekam di kedua bola mataku. Manusia pada dasarnya adalah pendongeng. Kata-kata dalam buku menyusupi pikiranku. Aku benarkan dalam hati. Ya, Manusia adalah pendongeng. Suka mengeksploitasikan kejadian sesuatu dan menceritakannya. Karena ia seorang aktor bukan penulis skenario. Sang Penulis menghamparkan panggung dunia berada dalam genggamannya. Semua tertulis dalam garis takdir, kita hanya memerankannya. Kita menjadi pendongeng bagi pendongeng lainnya. Tak nyata. Tapi seolah nyata. 

Lucunya pendongeng-pendongeng ini sebagian sok berkuasa, sok memiliki, Sok berkata bahwa dunia adalah milik mereka. Dan kebanyakan orang berfikir bahwa kitalah sang penulis itu. Kita memerankan peran sekehendak hati. Dan lucunya lagi sang pendongeng merebut paksa daerah orang lain, mengklaim bahwa daerah itu milik nenek moyang mereka. Pendongeng rakus, pendongeng angkuh, pendongeng bertopeng, pendongeng polos, pendongeng jujur dan pendongeng-pendongeng lainnya menyatu dalam panggung dunia.

Seketika aku tersenyum, bukankah aku pun pendongeng dari beribu, bermilyar pendongeng lainnya? Pikiran unik ini menggelitik hatiku. Hhhhhh... Aku mendesah perlahan. Bagaimana akhir pendongeng ini? Aku pakai jalan cerita apa? 10 tahun kemudian dan seterusnya akan menjadi pendongeng seperti apa? Fungsi dan peran pendongeng ini apa? Bagai puzzle tak beraturan menggenang pikiranku. Ternyata malam ini bukanlah malam yang sepi, justru malam yang membuatku bertanya-tanya akan diri. Batinku berbisik. Tiba-tiba saja ide muncul begitu saja. Bagai bohlam yang menyala dikala redup. Secepat kilat kukeluarkan handponeku dan menulis di aplikasi polaris sebelum ide itu menghilang. Dengan cepat jariku mengetik di atas papan keyboard. Layar handphone menerangi bola mataku yang berbinar bagai anak kecil menemukan harta karun yang tak ternilai. 

Tiba-tiba saja aku merasakan keberadaan seseorang di sampingku. Aku melihat ke arahnya. Wajah temanku tersenyum canggung merasa bersalah.
"Sorry ya lama..." katanya, aku pun berdiri dan berjalan bersamanya.
"Jadi membeli sepatunya?" tanyaku.
"Jadi dong... Bagus deh, by the way pegawainya cakep lohhh ..." temanku terus berbicara tanpa jeda dengan semangat empat lima sedangkan otakku melalang buana jauhnya ke negeri entah berantah. Masih memikirkan ide yang baru ku susun berantakan. 

"Hahahahaha...Mil!" teriakku tiba-tiba membuat Mila terdiam kaget, heran, bingung dan panik. Belum sempat kulanjutkan Mila menyerocos tak karuan.
"Kamu kesambet apa sih? Masa cuma duduk-duduk doang langsung ditempeli setan? Atau jangan-jangan salah makan obat? Mau kutemani ke RSJ?"
"Aishhh ... Kau ini ... " gerutuku sebal, Mila hanya cengengesan melihatku kesal. 
"Kau tahu...? Bukannya lucu pendongeng menulis pendongeng lainnya dalam dunia dongeng ...?" 
"Haaaahhhhhhhh...?!" Mila bengong sejadi-jadinya. Tak peduli tanggapan Mila, aku terus tersenyum riang. Ku tinggalkan mila yang masih menatapku heran. Ahhh... Pasti dia nemuin ide baru mangkanya obrolannya aneh begitu. Dasar penulis pikir Mila sebal. 

"Haaaiii ... Tungguin dong!! Jahat ikh... udah ngga dengerin cerita aku, ditinggalin pula ..." kesal Mila. Ia pun berlari kecil menghampiriku yang masih tersenyum. Ya... Aku adalah pendongeng yang menulis pendongeng dalam cerita dongeng. 
***
Tulisan ini ikut Arisan Godok Bulan Mei. Silahkan dibagikan jika menyukai Lita sebagai pemenang.


Lita Wasiati
Lahir di Bandung menyelesaikan sekolah di SMA YWKA Bandung. Sekarang tinggal di jawa tengah. Berawal menulis di note facebook hingga mencoba merambah mengikuti lomba. Bagi yang ingin tahu tulisanku bisa invite di facebook tha Adja titiknggapakekoma. Emailku lita.chan17@gmail.com
Terima kasih.

0 comments:

Post a Comment