Sunday, 14 May 2017

Aku dan Secangkir Kopi

Di pagi itu udara yang dingin, aku beranjak dari kamar tidurku, menuju dapur mengecek apakah masih ada bubuk kopi sisa – sisa semalam. Dan sisa bubuk kopi semalam masih bisa untuk satu cangkir kopi lagi, lalu kumasak air sembari membuat racikan untuk kopi pagi ini. Cukup dua sendok kopi dan satu sendok gula. Setelah semuanya beres, aku menuju kamar tidurku dengan membawa secangkir kopi. Kutaruh kopiku di sebelah kanan, di sebelah kiriku ada beberapa buku berserakan lalu kubuka laptopku, kunyalakan lagu dari band kesukaanku, The Beatles. Selang beberapa waktu, pintu kamarku diketuk oleh ibuku. 


“Nak, sudah sarapan?” Tanya ibuku dengan suara lembut.

“Belum bu” sahutku cuek. 

“Makan sana, semuanya udah ibu siapkan di dapur” 

“Aduh bu, nanti aja. Lagi pula aku ga laper kok,” dengan raut wajah yang malas.

“Sarapan dulu, jangan ditunda – tunda mumpung masih hangat” 

“Yaudah bu, bentar lagi aku kedapur” jawabku.

Kemudian ibu pergi ke halaman depan rumah membersihkan daun – duan yang berserakan, dikumpulkan lalu dibakar. Aku tetap saja belum beranjak dari tempat dudukku, iringan lagu The Beatles terus saja membuatku enggan pergi kedapur. Tok tok tok, suara pintu kamarku kembali diketuk. “Nak nak nak, kok belum sarapan?” teriak ibuku sambil mengetuk pintu.

Aku sama sekali tidak mengindahkan teriakan ibuku. Lagu – lagu The Beatles terus saja mengalun dikamarku ‘While my guitar gently weeps’, I’m only sleeping dan terhenti di lagu ‘Here, there and everywhere’ ketika ibuku tiba – tiba masuk mengusik kenyamananku. 

“Harus berapa kali ibu disuruh sampai kamu mau, nak?” Tanya ibuku dengan raut wajah kesel.

Aku diam saja, tak bicara sedikitpun sambil berjalan menuju dapur dengan wajah menunduk. Kuraih tempat duduk didapur, kubuka sarapan pagiku kali itu dengan ikan goreng dan satu sendok nasi. Tak lama kemudian datang dua ekor kucing kampung, yang satu warna hitam dan yang satunya lagi abu Mereka tergoda oleh bau ikan goreng yang kumakan, kucing yang warna abu memperlihatkan wajah melas sambil mengeluarkan suara merengek – rengek seperi anak kecil, sementara kucing yang warna hitam hanya diam saja dengan wajah yang sedikit garang sambil mendongak keatas kearahku, lalu kulemparkan kepala ikan diantara kedua kucing itu. Kucing yang berwana abu berlari kearah kepala ikan itu sementara si kucing hitam tetap saja diam dan tak berajak dari tempatnya. Aku heran dan kutatap kucing hitam itu dengan wajah kebingungan lalu tiba – tiba pergi dengan wajah tertunduk dan langkah yang pelan. “Kucing aneh”, gumamku.     

Aku seketika ingat dengan secangkir kopi yang kubuat beberapa jam lalu, sedikitpun aku tak pernah menyentuhnya, tak pernah menghirup harumnya saat masih hangat. Aku beranjak dengan terburu – buru dari meja makanku, kubiarkan sisa – sisa makananku terbengkalai, aku tak peduli lagi dengan rengean kucing warna abu, hanya kucing warna hitam itu yang membuatku terus berfikir. kuraih kopiku, kurasakan tidak hangat lagi, baunya sudah tidak seperti saat masih hangat walaupun begitu aku tetap mencicipinya dalam keadaan tidak sempurna. “Oh kopiku, maafkan aku, aku tak sempat mencicipimu saat kamu keadaan sempurna”, gumamku menyesal. 

*** 
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Gani sebagai pemenang.

Gani Islahudin

Biasa dipanggil John Lennon. OPLovers. Pengganguran kelas kakap

0 comments:

Post a Comment