Thursday, 25 May 2017

Aku dan Sukses

Sebelum tulisanku yang lain trip and advanture disini, ga ada salahnya aku kenalin dulu siapa aku. Agar aku bisa lebih disayang. Kan katanya tak kenal maka tak apa-apa sih, meski aku ngarepnya disayang semua orang (maaf ini curcol cowok yang haus kasih sayang). Ah, biarlah mata yang baca tulisan ini sakit atau muntah aku masih pengen maksa buat nulis dan di baca tentunya.

maxmanroe
Kenalin namaku Agus. Kamu tau apel? Yah, inisial kita sama. Dan mungkin sifat kita juga sama, keras di luar dan mudah busuk. Sebenernya aku ga pernah tau namaku dari dulu. Tapi karena mama-papa (emang kalo dirumah aku manggil ortuku Mak-Bapak) terus aja manggil aku dengan nama itu akhirnya aku nyerah juga, terpaksa deh ijasah sekolah, ktp, dan surat-surat obligasi (baca:utang di bank KSP) aku isi dengan nama itu. Biadab sekali memang.

Dulu aku ngebet banget dipanggil dengan nama Jhos, karena nama Agus terlalu mainstream. Tapi berhubung itu identik dengan iklan suplemen yang bisa bikin kuat dan akhirnya ikonnya malah ga kuat kena lahar gunung, aku berpikir ulang buat somasi ke ortu. Lalu aku pindah niat buat ngalihin nama menjadi Sammy, malah orang tuaku berang, mereka bilang “Lo kan, Sammy mawon,” itu bahasa Jawa yang artinya sama aja. Maksudnya sama aja tetep Agus. Ya sudahlah itu mungkin takdir buatku untuk menyandang nama pasaran ini.

Aku lahir dari  keluarga yang berada, maksudnya berada dalam garis kemiskinan. Sedih? Ga sama sekali. Karena itu mengajarkanku bagaimana rasanya dimanja. Orang tuaku memang suka manja-tin doa biar aku ga ngambek jika besok pagi ga dikasih saku buat sekolah dan juga suka manjatin mangga tetangga kalo aku pingin nglengkapi menu empat sehat lima sempurna. Tapi meski begitu aku bertekad suatu saat nanti aku harus sukses.

Masa kecilku sudah pasti, jauh dari kata keluarga sukses. Makan pun seadanya. Ada nasi ya aku makan nasi, adanya cuman ubi ya aku makan ubi. Ada ayam goreng dan sate kambing aku ga makan, itu milik tetangga. Sementara bapak, eh papa harus membanting tulang buat menghidupi keluarga. Aku pernah bilang sama beliau bahwa ini yang bikin kita miskin terus. Bapak sukanya membanting tulang, kan sakit. Kalo sakit besok ga bisa kerja lagi. Kalo ga kerja kita ga makan lagi. Coba banting harga sembako pasti kita ga kekurangan makan. Sayang, sembakonya ga mau dibanting-banting. Penjualnya suka marah. 

Aku sempat tidak bisa melanjutkan sekolah karena ga ada biaya. Saat itu aku hampir putus asa mengejar cita-cita menjadi orang sukses. Akhirnya ada yang memberi saran agar aku membantu orang tua, akupun setuju, aku bantu orang tuaku dengan doa agar tidak patah semangat dalam bekerja. Dan  berkat kegigihan orang tuaku, Alkhamdulillah, akhirnya aku bisa nyelesaiin pendidikan sampai S3, maksudnya SD, SMP dan STM. Eh, jangan menghina dulu karena aku hampir menyelesaikan pendidikan satu lagi, SLB. Sayang aku ga lulus karena aku sering bolos di hari minggu dan malam hari, padahal itu waktu kumat-kumatnya cacat otakku.

Meski menjadi anggota keluarga yang miskin, aku tetap harus sombong. Kata guru ngajiku dulu, di dunia ini ga ada yang instan, kalau mau sukses harus berusaha tahap demi tahap. Bahasa gampangnya nyicil lah sedikit demi sedikit, dimulai dari yang kecil dan mudah dulu, yakinlah yang sedikit-sedikit itu kalo di kumpulin akan bisa membuat sukses dimasa depan. Nah, karena menjadi orang kaya itu agak sulit maka aku cicil dulu sifatnya, jadi besok kalo sudah kaya beneran aku ga belajar buat sombong lagi.

Sekarang, berkat gemblengan yang keras dari kecil aku bersyukur bisa sukses. Aku berhasil mendapat kartu keluarga sejahtera. Ini tidak mudah, men. Karena aku harus bertapa dulu dan harus bisa pasang muka melas biar dikasihani sama pejabat desa. Perjuangan yang agak keras tapi ga lembek itu akhirnya membuahkan hasil. Namaku dimasukin ke daftar orang-orang tak mampu. Aku bahagia sekali, tujuan hidupku akhirnya tercapai. Itulah sekelumit tentang aku. Semoga bermanfaat. Tapi kalo ga bermanfaat, pasrah aja karena akulah yang laknat. Saya Agus Wodowo Singh Dowodadi. Salam mak erot makin menjadi.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Dirshyantara sebagai pemenang.

Dirshyantara
Penulis yang sedang belajar membaca. Hobi main di proyek bangunan, karena itu pekerjaannya. Sekarang masih betah tinggal dirumah sendiri, bukan rumah tetangga. Salam dari tanah Mojopahit, Mojokerto.








0 comments:

Post a Comment